Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitos. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2009

Seminggu Mengejar Babi "Ngepet"

Isu berkeliarannya babi ngepet di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, masih membuat penasaran sekaligus waspada warga setempat. Hingga Kamis (10/12/2009) dini hari, warga tetap rutin berjaga dan melakukan ronda keliling kampung untuk menangkap babi yang dipercayai sebagai jadi-jadian itu. Kegiatan seperti itu sudah dilakukan sejak seminggu terakhir setelah mencuat isu babi ngepet. Babi ngepet tersebut dianggap warga sebagai biang hilangnya sejumlah uang dan harta benda milik mereka.
Dari pantauan wartawan harian Surya, puluhan warga sudah berkumpul di dusun masing-masing sekitar pukul 22.00. Selanjutnya, mereka menyisir sejumlah lokasi. Selain itu, ada beberapa warga yang bertugas mengawasi dari atas pohon dan beberapa lagi berjaga di bawah pohon-pohon rindang. “Biasanya, babi ngepet bisa dilihat dari atas. Karena itu, selain berpatroli keliling kampung, kami juga nyanggong di atas pohon,” kata Mutohar (24), warga Jadi yang ikut dalam ronda pada Kamis dini hari itu.
Dalam ronda tersebut, warga fokus melakukan penyisiran di tiga dusun, yakni Dusun Geneng Kulon, Geneng Wetan, dan Dusun Telogo. “Sebab, beberapa hari terakhir ada sejumlah warga yang mengaku melihat babi melintas di tiga dusun ini,” kata Mutohar
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/12/11/08372061/seminggu.mengejar.babi.ngepet.

Yustofa Melihat Babi Ngepet

Babi ngepet masih ada? Ini dia ceritanya. Yang sempat melihat babi ngepet itu adalah Yustofa (32) warga Dusun Geneng Wetan, Semanding, kabupaten Tuban. “Rabu malam lalu sekitar pukul 23.00 saya melihat sepintas, tapi saat dikejar babi itu langsung menghilang,” kata Yustofa. “Larinya cepat sekali dan langsung menghilang setelah melewati semak-semak. Jadi, hanya tampak sekilas. Bentuknya menyerupai babi begitu saja,” tambahnya.
Warga yang mengaku kehilangan uang juga terus bertambah. Kali ini ada pengakuan dari Masripah (37) warga setempat yang mengatakan keluarganya kehilangan uang Rp 100 ribu yang disimpan di bawah kasur. “Malam hari ibu saya menyimpan uang Rp 200 ribu di bawah kasur. Pagi harinya pas mau dipakai belanja uang itu tinggal Rp 100 ribu,” ungkapnya.Sebelumnya warga yang telah kehilangan adalah Cipto, Sodikin, Nur Khozin, Khoirun dan beberapa yang lain. Mereka rata-rata kehilangan uang sekitar Rp 800 ribu serta perhiasan emas.
Kendati kasus pencurian di desa itu sudah meresahkan, warga tetap belum bersedia melapor ke polisi. Pasalnya, mereka yakin pelaku pencurian ini adalah babi ngepet. Karenanya, kalau melapor ke polisi, mereka juga mengaku bingung siapa yang akan dilaporkan. (st31)