Senin, 03 Mei 2010
pengadilan Amerika Kehabisan Kertas
Pengadilan sebuah kota di Ohio, AS, menyatakan hanya menerima pengajuan kasus baru jika yang bersangkutan membawa kertasnya sendiri.
Hakim Lee McClelland dari Pengadilan Kota Wilayah Morrow menyatakan, pengadilan hanya punya cukup kertas untuk dokumen-dokumen sidang hearing dan kasus-kasus tunda.
Pengadilan akan menghentikan penerimaan kasus baru, Senin (16/3 -2009), karena tidak mampu memesan kertas lagi.
Kepada harian The Columbus Dispatch, McClelland menyatakan, pemerintah wilayah belum membayar tagihan-tagihan barang kebutuhan pengadilan yang dipesan bulan November 2008.
Dia menambahkan, beberapa badan wilayah telah sukarela memberikan kertas saat mengajukan kasus mereka sendiri.
http://www.rileks.com/entertainment/ragam/omg/22034-ada-ada-saja-pengadilan-kok-kehabisan-kertas.html
beli BH buat nenek.
Di sebelahnya kebetulan duduk seorang gadis yang tengah membaca majalah yang di sampulnya ada iklan bra. Si kakek dapat ide untuk memberi hadiah bra buat nenek.
Sampai di toko lingerie, kakek tampak kaget dengan begitu banyak pakaian dalam bergantungan. “Beli apa, kek?” tanya penjaga toko kaget karena ada seorang kakek di tokonya. "Mau beli BH buat nenek," jawab sang kakek spontan.
Si penjaga toko bertanya, “Ukurannya berapa?”
Si kakek terlihat bingung, “Nah itu... masalahnya kakek lupa nomornya dan nggak bawa contoh”
Si penjaga toko mencoba cari ukuran, “Mungkin sebesar jeruk bali, kek?”
Si kakek masih terlihat bingung, “Wah, kegedean.”
Si penjaga toko iseng bertanya, “Jeruk Garut, kali ya?”
Kakek berpikir sejenak, “Kayaknya masih kegedean.”
Penjaga toko bingung, tapi tak hilang akal, “Oh ya, mungkin sebesar telur bebek?”
Si kakek tampak bersemangat karena tebakan penjaga toko itu tepat, "Ha, betul!” Matanya berbinar, “Tapi, yang didadar.”
Nenek 72 Tahun Pacari Cucu Sendiri dan Akan Punya Anak!
Menurut berita yang dilansir majalah New Idea di Selandia Baru, Pearl akan membayar US$ 54 ribu (Rp 486,8 juta) kepada wanita yang akan mengandung anaknya dengan Bailey. "Saya tidak peduli dengan pendapat orang. Saya mencintai Phil dan ia juga mencintai saya. Tidak lama lagi saya akan menggendong anak saya dan Phil akan menjadi ayah yang bangga," ujar Pearl.
Phil adalah anak dari anak perempuan Pearl, Lynette Bailey. Lynette merupakan anak kandung Pearl ketika ia masih berusia 18 tahun. Karena saat itu masih muda dan tinggal di keluarga Katolik yang kuat di Indiana, akhirnya Pearl menyerahkan Lynette ke tempat untuk diadopsi.
Lynette menjadi orang tua tunggal bagi Phil, yang kini menjadi tukang kayu. Ketika Lynette wafat, Phil mencari neneknya. Setelah bertemu, Phil dan Pearl menjalin hubungan asmara.
Pearl mengatakan, "Saya memanggil Phil ke kamar tidur saya. Mendudukkannya di kursi dan saya bertumpu kepadanya dan menciumnya. Saya awalnya menduga ia akan menolak. Tetapi ternyata ia malah balas mencium saya."
Kepada New Idea, Phil mengatakan, "Saya ingin menciumnya di sana saat itu. Perasaan saya luar biasa."
"Saya mencintai Pearl sepenuh hati saya. Saya memang tertarik dengan wanita yang lebih tua. Dan saya rasa Pearl cantik. Kini, saya akan menjadi seorang ayah. Saya tidak sabar lagi menanti itu. Kami memang sempat ditertawakan dan dicemooh ketika pergi ke luar dan bercumbu di depan publik. Tetapi kami tidak peduli. Anda tidak bisa menentukan kepada siapa Anda bakal jatuh cinta," lanjut Phil.
Setahun yang lalu, Phil mengatakan kepada Carter bahwa ia ingin seorang anak. Carter juga mengaku ingin memiliki anak. Akan tetapi, keinginan untuk memiliki anak dari benih mereka berdua tidak mungkin terwujud karena Carter sudah menopause.
Pasangan tersebut akhirnya memutuskan untuk menggunakan uang pensiun Carter untuk mencari wanita yang bersedia mengandung dan mendonorkan ovumnya. Mereka pun memasang iklan untuk mencari wanita tersebut. Iklan tersebut pun dijawab Roxanne Campbell, 30 tahun.
"Awalnya saya terkejut," ujar Campbell mengenai hubungan darah Phil dan Carter. "Tetapi mereka pasangan yang cerdas dan saya melihat mereka saling mencintai. Saya juga sadar bayinya akan dicintai juga." http://www.rileks.com/entertainment/ragam/omg/34179-edan-nenek-72-tahun-pacari-cucu-sendiri-dan-akan-punya-anak.html
Festival Santap Daging Kucing
Seperti yang dilansir The Sun, acara itu dikenal dengan nama "Gastronomical Festival of the Cat" yang diadakan oleh penduduk Kota Canete, dekat Lima, Peru. Para undangan dipersilakan menikmati kenduri makan kucing sepuasnya selama dua hari berturut-turut.
Namun tak semua menyukai tindakan warga Canete. Lembaga pencinta hewan internasional dilaporkan kesal dengan pesta tahunan di Peru itu, yang mengorbankan beratus-ratus ekor kucing yang digoreng untuk disantap penduduk setempat.
Hal itu ada hubungannya dengan kepercayaan tindakan memakan penganan seperti burger kucing, kaki, dan ekor kucing yang digoreng dapat memulihkan masalah paru-paru selain meningkatkan tenaga batin. Malah, kucing yang dihidangkan itu banyak yang dipelihara khusus untuk pesta tersebut.
Tindakan kejam pada hewan itu keruan menuai hujatan lembaga pencinta hewan, PETA. “Memang tak masuk akal bila ada orang yang masih berpikiran kolot dan mempercayai anggapan salah, konon memakan kucing dapat memulihkan penyakit paru-paru," kata lembaga tersebut.
“Itu sama halnya dengan tindakan salah segelintir penduduk Asia yang memakan monyet untuk memulihkan tenaga batin,” kata juru bicara PETA
http://www.rileks.com/entertainment/ragam/omg/16322-waduhada-festival-santap-daging-kucing.html
Sabtu, 01 Mei 2010
Miss Transsexual Aceh 2010

In their best Acehese costumes, kitsch jewelry and towering hair buns, 40 transsexuals sashayed down a stage on Saturday to loud club music, disco lights and rapturous applause as they competed in the Miss Transsexual Aceh 2010.
The streets of Aceh may be monitored by the Wilayatul Hisbah, or Shariah Police, but that did not deter the audience in the auditorium of the Radio Republik Indonesia building in the provincial capital, Banda Aceh, as they welcomed the finalists with screams and whistles.
There was no seat left unoccupied. Drag queens, homosexuals and members of Aceh’s minority communities forked out Rp 10,000 for tickets to the show, with some having to sit on the ground or watch from the balconies.
Transsexuals entertained the audience by lip-syncing to local songs and dancing to dangdut music. Some wore sexy outfits while others donned the hijab , the Muslim headscarf.
The winner of the Best Transsexual Catwalk wore a sash with the words “Cet Work,” a misspelling of the word catwalk, splashed across it.
Organized by Putroe Sejati Aceh (True Sons of Aceh), an organization that provides shelters for transsexuals, the 40 contestants represented 23 districts and cities in the staunchly Muslim province.
University student Zifana Letisia, from North Aceh, was crowned the pageant winner and will represent Aceh at the Miss Transsexual Indonesia 2010.
She said she was treated well at her campus despite her sexuality. “At campus, my achievements are quite extraordinary. Nobody dares to put me down.
“People on campus are polite, even respectful and proud of me, even though I am a transsexual,” Zifana said, adding that she did not take Islamic law lightly.
A third-year nursing student and part-time beauty therapist, Zifana, whose real name is Anggah, beat out finalists Jasmine Mulan Sayuri, from South Aceh, and Joy, from Central Aceh.
“We are very careful today [when it comes to Islamic Shariah law]. One day, we will build a special forum to try and find a middle-ground over this matter in Aceh,” Zifana said.
Organizing committee chairman Jimmy Saputra said the event had been approved by Aceh’s Ulema Consultative Assembly (MPU).
“After we explained that this activity would be a positive event, the MPU scholars gave us permission,” said Jimmy, who also goes by his transsexual name Timmy Mayubi.
The event was judged by a three-person panel. The judges were Marini, from the Indonesian Women’s Coalition of Aceh, and Silver Sebayang and Santi, both from RRI Banda Aceh.
The pageant started out with 40 contestants, of which 15 were selected as finalists. These 15 were further winnowed down to the final six.
Many contestants struggled to understand the judges’ questions, which covered a wide range of issues, from corruption to the daily struggle of transsexuals and Shariah law in Aceh.
When asked to comment on allegations that the province’s Shariah Police were violating the laws they enforced, 23-year-old Alin, from Lhokseumawe, said in a lilting voice: “I will follow the law of Islamic Shariah because I live in Aceh.”
The audience burst into laughter when Carla, 20, who was representing Aceh Besar district, replied to a question on the link between poverty and corruption with the answer: “If [the concept of] poverty was not applied, there would be no corruption.”
Carla, in true beauty-queen style, kept poised and elegant despite the crowd’s reaction, and walked along the stage while waving her right hand.
Other contestants were unable to speak at all when questioned by the judges.
But some received standing ovations, including 19-year-old Joy, from Central Aceh district.
In response to a question on the existence of transsexuals at a time when Muslims were subject to Shariah law, Joy loudly declared: “The application of Islamic law in Aceh is not in accordance with the wishes of the people because many people in Aceh are still violating Shariah, especially during Ramadan when they are not fasting and commit adulterous affairs.”
Cut Nyak, 20, of Pidie district, said Shariah law was a “tool applied in Aceh to manage the public because the majority of Acehnese were Muslims,” adding that she supported the implementation of Islamic law in the province.
Aceh’s controversial Qanun Jinayat code is a set of local bylaws that were passed in September by the province’s legislative council, and replaced parts of the Criminal Code with sections of Islamic law for Muslims.
http://www.tglife.com/Columns/article1253_Miss_Transsexual_Aceh_2010.html
Sabtu, 24 April 2010
Industri Batu Akik Kebumen Bangkit Lagi
Batu-batu itu lalu dijadikan batu akik karena memiliki tingkat kekerasan baik. Menurut hasil penelitian, batu-batuan di sungai ini merupakan yang tertua di kawasan Asia Pasifik. Di tangan terampil para perajin, bongkahan batuan dapat diubah menjadi berbagai macam jenis batu akik seperti blue safir dan kecubung. Sebongkah batu dengan berat sembilan kilogram dijual seharga hingga Rp 400 ribu.
http://berita.liputan6.com/daerah/200808/163195/Industri.Batu.Akik.Kebumen.Bangkit.Lagi
Minggu, 07 Maret 2010
Putri Betung: Sang Putri yang Melahirkan Raja-Raja Besar di Aceh
Dari bumi Aceh telah banyak terlahir wanita-wanita perkasa, yang dalam sejarah dunia sekalipun sulit dicari perbandingannya, salah satunya adalah Putri Betung, alkisah dalam Hikayat Aceh dan Hikayat Raja-raja Pasai, asal-usul yang menurunkan kemuliaan dan kebesaran Sultan Iskandar Muda yang bertakhta di Aceh Darussalam dan raja-raja Samudra Pase (Aceh Utara) adalah dari rahim bidadari yang diberi nama Putri Betung.
Tentang hikayat Putri Betung, alkisah dalam Hikayat Aceh dan Hikayat Raja-raja Pasai, asal-usul yang menurunkan kemuliaan dan kebesaran Sultan Iskandar Muda yang bertakhta di Aceh Darussalam dan raja-raja Samudra Pase (Aceh Utara) adalah rahim bidadari yang diberi nama Putri Betung. Ia adalah anak bidadari yang ditemukan Raja Muhammad di hutan. Kemudian Raja mengangkatnya sebagai anak yang kelak dinikahkan dengan Meurah Gajah, yang merupakan anak raja Ahmad, saudara tua Raja Muhammad. Versi lain Hikayat Aceh menyebutkan perkawinan Putri Betung dengan Merah Gajah melahirkan dua anak, laki-laki dan perempuan, masing-masing bernama Sultan Ibrahim Syah dan Putri Sapiah. Sementara versi Hikayat Raja-raja Pasai menyatakan bahwa Putri Betung melahirkan dua anak laki-laki bernama Meurah Silu yang selanjutnya bergelar Sultan Malik As Shaleh, pendiri Kerajaan Samudra Pase, dan Meurah Hanum.
Kisah Putri Betung ini menarik untuk disimak karena selain memiliki simbol sebagai Rahim Mulia, yang menjadi perantara lahirnya raja-raja besar, juga memiliki cacat tubuh. Lazimnya, seorang putri adalah perempuan yang digambarkan cantik jelita, dengan tubuh sempurna, dan perilaku patut. Namun, menurut Hikayat Aceh tersebut, di bagian kanan dagu sang putri ditumbuhi sehelai rambut panjang dan berwarna putih mencolok. Sehingga sang suami, yang bernama Meurah Gajah yang bergelar Raja Syah Muhammad, kurang senang dan merasa malu hati terhadap “ketaksempurnaan” di tubuh istrinya, tersebut.
Oleh sebab itu, pada suatu hari sang raja meminta agar istrinya mencabut “rambut asing” di tubuhnya itu. Tapi permintaan sang raja ini ditolak mentah-mentah oleh sang putri. Sang putri beralasan jika rambut ”aneh” itu dicabut dari tubuhnya, maka niscaya akan terjadi perceraian di antara mereka. Serta merta mendengar alasan Putri Betung tersebut, Sang raja diam saja, tapi diamnya sang raja bukan berarti mau mendengarkan alasan sang putri, tapi sang raja sedang mengatur siasat bagaimana supaya rambut ”aneh” tersebut tetap harus dicabut, sehingga segala cara dan upaya diusahakan untuk mencari kelengahan sang putri Betung tersebut.
Pada suatu hari niat sang raja kesampaian juga, saat itu ia melihat sang istri sedang tertidur dengan pulas, maka dengan mengendap-endap dicabutnya “rambut asing” tadi dari tubuh sang putri. Setelah sang raja mencabut “rambut asing” tadi dari sang tubuh sang putri, tidak lama kemudian maka terjadilah keanehan yang luar biasa, yakni dari dagu sang dewi, yaitu dari liang bekas cabutan rambut aneh tadi, mengalir tiga titik darah putih, akhirnya Putri Betung pun meninggal tidak lama kemudian.
Kejadian tersebut membuat Raja Muhammad, ayah Putri Betung marah. Lalu serta merta dikirimnya pasukan untuk menyerbu Raja Muhammad Syah, dalam pertempuran tersebut akhirnya Raja Muhammad Syah terbunuh. Ketika mendengar sang raja terbunuh, Raja Ahmad pun marah, lalu mengirim pasukan untuk menyerbu Raja Muhammad. Dua bersaudara itu pun berperang sehingga disebutkan dalam hikayat tersebut bahwa dua kerajaan itu akhirnya musnah.
Dari hikayat tersebut juga diuraikan bahwa dari rahim Putri Betung lah lahir raja-raja, yang uniknya diakui oleh kemaharajaan Aceh Darussalam dan Samudra Pase. Kedua kemaharajaan itu bersaing memperebutkan Putri Betung, yang berasal dari dunia supranatural atau alam gaib, untuk melegitimasi kebesarannya. Entah kebetulan, kisah Putri Betung ini serupa dengan kisah raja-raja Mataram yang selalu dikisahkan beristri Ratu Kidul. Artinya, keadiluhungan seorang raja dikarenakan menguasai dua dunia, supernatural dan natural. Sedangkan Meurah Gajah, selaku ayah yang menurunkan raja-raja besar itu, tak diketahui asal-usulnya.
Putri Betung tidak sendiri, sejarah kegemilangan Aceh telah pula melahirkan wanita-wanita perkasa lainnya, sebut saja misalnya Laksamana Keumalahayati yang memimpin laskar Inong Bale (laskar janda) di zaman Sultan Riayat Alaudin Sjah IV (1589-1604) untuk mengusir angkatan laut Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman (1506-1599). Di masa pemerintahan Sultan Riayat Alaudin Sjah V (1604-1607) dibentuk Suke Kaway Istana (Resimen Pengawal Istana) yang terdiri dari Si Pai’ Inong (prajurit perempuan) di bawah pimpinan Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseuen. Kedua laksamana perempuan itu berjasa membebaskan Iskandar Muda dari tahanan Sultan Riayat Sjah V yang konon bejat moral dan kelak tahanan itu menjadi raja adiluhung di Kerajaan Aceh Darussalam.
Di zaman Sultan Iskandar Muda, tradisi prajurit pengawal istana perempuan masih dilanjutkan, dan di antara Divisi Pengawal itu yang paling terkenal adalah Divisi Keumala Cahya. Disebutkan pula bahwa perempuan Aceh telah menjabat sebagai Uleebalang (kepala pemerintahan daerah), seperti Cut Asiah, Pocut Meuligoe, dan Cut Nya’ Keureuto. Pada era Aceh berperang melawan Belanda, terdapat seorang panglima perang perempuan sekaligus alim ulama yang lahir di Lam Diran pada tahun 1856 bernama Teungku Fakinah. Tradisi panglima perempuan di medan perang mewarisi ke generasi Tjut Nyak Dhien, Pocut Baren, Cut Meutia, Pocut Biheu, dan Cutpo Fatimah.
Kita juga tidak bisa melupakan tentang kehebatan perempuan Aceh lainnya yang jarang disebut-sebut dalam sejarah Aceh, seperti Darwati Putroe Jeumpa yang merupakan penakluk Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit, kemudian sejarah kegemilangan Putroe Jeumpa lainnya seperti Dewi Manyang Seuludongau ada yang menyebutnya dengan sebutan Dewi Ratna Keumala yang akhirnya menjadi Maha Ratu Islam Pertama di Nusantara.
Di Aceh sejarah kegemilangan dan peran perempuan tidak bisa dinafikan. Tapi sayangnya kekuasaan dan peran perempuan tersebut, sering kalah pamor dengan hegemoni kekuasaan laki-laki, sehingga diyakini oleh sebagian peneliti untuk melenyapkan Putri Betung dibuatlah sebuah paradoks tentang kecacatan tubuh Putri Betung sebagai pemicu penghancuran asketisme.
Politik perempuan Aceh di tengah konflik bersenjata dan kekerasan negara adalah sering dengan menggunakan lheuk jago meulet, yang disebut lheuk jago meulet, (lheuk adalah sejenis burung) yang menggunakan kecerdikan dan daya pikatnya untuk menghadapi musuh, dalam hal yang acapkali tidak serta-merta merupakan kepentingan perempuan untuk menonjolkan kekuasaannya. Gaya politik yang melekat pada perempuan Aceh ini tak jarang menimbulkan ketegangan dengan subyektivitas politik feminisme yang sedang menggeliat di Aceh.
Hikayat Putri Betung sebagai representasi kompromi antara kekuasaan perempuan dalam hegemoni kekuasaan laki-laki terinstitusi dalam sistem sosial Aceh hingga saat ini. Tampilnya pemimpin perempuan Aceh di medan perang masa lalu pada dasarnya adalah melanjutkan posisi perjuangan suaminya yang telah gugur. Perempuan itu tampil setelah menjanda. Contohnya adalah institusi Inong Balee.
Ratu Nihrasiah, Ratu Safiatuddin, Panglima Keumalahayati, Tjut Nyak Dien, dan lainnya tampil di garis depan menggantikan kepemimpinan dan perjuangan suami masing-masing. Kekuasaan perempuan itu ada di dalam hegemoni kekuasaan yang beridentitas keacehan. Identitas ini sendiri merupakan dialektika dari perkawinan dan persaingan tradisi “indigenous” dengan Islam hingga disebut Islamnya orang Aceh berbeda dengan gerakan politik Islam. Dalam pandangan “Islamnya orang Aceh”, sistem nilai ini membebaskan perempuan.
http://danijurnalis.wordpress.com/2009/08/24/putri-betung-sang-putri-yang-melahirkan-raja-raja-besar-di-aceh/
Anak Durhaka Jadi Ular Berkepala Anjing
Rantau Prapat – Heboh kabar seorang siswi SMP berubah wujud jadi ular berkepala anjing usai menendang ibunya saat sholat, membuat suasana Dusun Sigambal, Desa Pinang Awan, Kec. Torgamba, Labuhan Batu Setalan (Labusel), mencekam. Warga yang biasanya lalu-lalang memilih berdiam diri di dalam rumah masing-masing. Perubahan wujud itu terjadi, tak lama setelah korban menendang ibu kandungnya saat menjalankan ibadah. Kejadian itu menggemparkan warga tak hanya di Labuhan Batu Selatan tetapi hingga ke Rantau Prapat, ibukota Labuhan Batu.
METRO yang mendapat kabar itu langsung bergegas ke lokasi kejadian. Namun keanehan tak hanya ada pada cerita itu, warga, kepala dusun dan perangkat desa juga bersikap aneh. Mereka semakin tertutup. Ketertutupan itu terjadi berawal dari peristiwa aneh itu melanda kampung mereka. Sedangkan itu siswa SMP dan ibu kandungnya tak ditemukan lagi berada di Dusun Sigambal.
Menurut warga setempat, siswi SMP dibawa bersama ibunya diboyong seseorang ke sebuah tempat yang dirahasiakan di Medan. Keputusan itu dilakukan Ibu kandung korban tak tahan menanggung aib atas perubahan fisik anaknya dan jadi tontotan warga. Tetapi warga tak satu pun bersedia menyebutkan alamat korban di Medan. Bahkan identitas si siswa SMP itu pun ikut dirahasiakan. Mereka takut kualat dan khawatir bisa ketularan kutukan itu.
Akan tetapi, seorang warga berinisial UT (55), kepada METRO, akhir pekan lalu, menunjukkan bukti sebuah rekaman video dari sebuah handphone yang memuat wujud gadis SMP berubah wujud itu, yang berhasil direkam pasca kejadian. Dalam rekaman video itu terlihat, kepala seekor anjing berambut panjang berwarna putih dengan badan berupa ular yang melingkar-lingkar. Mahluk itu juga memiliki dua buah tangan menyerupai kaki seekor biawak.
Masih dalam video itu, siswi SMP yang telah berubah wujud itu berputar-putar. Mahluk itu menjerit-jerit dan berurai air mata. Sementara, warga yang menyaksikannya terlihat prihatin sambil sesekali juga terlihat ngeri menyaksikan makhluk aneh itu. Menurut UT, gadis belia yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP itu dalam kesehariannya berperangai buruk dan sering melawan orangtuanya. Padahal pekerjaan orangtuanya hanya mocok-mocok dan mencari upahan kepada para tetangga dan kerabatnya.
Pada suatu hari, lanjut UT, tanpa mau menyebutkan kapan kejadiannya, diungkapkan, gadis belia itu merengek meminta dibelikan sepedamotor yamaha jenis Mio kepada ibu kandungnya. Namun karena merasa disepelekan, permintaannya tidak diacuhkan si anak ngamuk. Kepala Ibunya saat ibadah sore hari, tiba-tiba saja disepak.
“Disitulah awal bencana itu terjadi. Pada saat itu juga wajah gadis itu berubah wujud menjadi anjing kurus dan tirus. Sementara seluruh badan dan kakinya berubah menjadi ular,” beber UT.
Sabtu, 06 Maret 2010
Seorang ibu keturunan ”Jawa/Suriname”Mencari Leluhur
Menurut penuturan Ibu Soeleika Karso, pada sekitar tahun 1920, tepatnya tanggal 4 Februari 1920, kakeknya (Embah Kakungnya) bernama Karso waktu itu berumur lebih kurang 26 tahun sebagai petani yang sedang bekerja di sawah sekitar Salatiga ”telah ditinggalkan” oleh neneknya (Embah Putrinya) bernama Soemirah waktu itu berumur 25 tahun dan anak semata wayangnya bernama Anak Karso berumur 6 tahun kala itu.
Anak beranak Ibu Soemirah dan Anak Karso dibawa paksa oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Suriname di Amerika Latin/Amerika Selatan yang waktu itu masih merupakan jajahan Belanda lewat Pelabuhan Laut Semarang, untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan gula di sana.
Kepergian Ibu Soemirah dan anak Karso tentu saja tanpa sepengetahuan dan izin dari Bapak Karso, karena mereka ”diculik” oleh agen-agen tenaga kerja saat mereka berdua hendak pergi ke pasar.
Sejak kepergian Ibu Soemirah dan anak semata wayangnya anak Karso ke Suriname, praktis saat itu mereka berdua kehilangan kontak sampai akhir hayatnya di negeri orang dengan Bapak Karso yang masih ”tertinggal” di daerah Salatiga, apalagi waktu itu hubungan surat menyurat dan komunikasi masih sulit dijangkau antara Suriname, Salatiga.
Anak Karso yang tumbuh dewasa, berkeluarga dan menikah dengan gadis sesama keturunan Jawa di Suriname, maka lahirlah kemudian pada tahun 1947 anak perempuan yang ia beri nama Soeleika Karso.
Ibu Soeleika Karso yang setelah berkeluarga serta kematian embah putrinya Ibu Soemirah dan bapaknya anak Karso dan ibunya, kemudian pindah dari Suriname ke Negeri Belanda hingga sekarang. Di masa tuanya, Ibu Soeleika Karso berkeinginan sekali melacak jejak leluhurnya di Salatiga.
Untuk itu kepada para pembaca setia Suara Merdeka yang sekiranya mengetahui keberadaan keturunan Bapak Karso, atau nama-nama yang memakai nama keluarga ”Karso” dari Salatiga mohon dapat menghubunginya, melalui alamat saya yang ada dibawah ini.
Akhirnya, untuk dan atas nama Ibu Soeleika Karso saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pembaca Suara Merdeka yang budiman, yang telah sudi untuk melacak dan memberitahukan keberadaan anak keturunan Bapak Karso.
H. Untung Rustadi Soekono
Kompleks BPP Teknologi, JI. Teknologi IX, No H-8 / B-15,
Meruya Utara-Kembangan
Telp (021)5851592, (021) 92803308)
Jakarta Barat
ANEH TAPI NYATA Sirih Bongkar Selingkuh
Bagi masyarakat di sana, jika ada daun sirih terselip di bantal atau kasur, maka hal itu merupakan pertanda ada sesuatu yang serius. "Jika terselip sirih di tempat tidur, berarti pasangan hidupnya curiga dia selingkuh, dan jika benar selingkuh, alamat terbongkarlah serong yang telah dilakukan," papar tokoh masyarakat Talang Mamak Patih Laman, belum lama ini.
Serong yang dimaksud adalah perselingkuhan yang dilakukan, baik oleh istri maupun suami. Misalnya, seorang istri yang curiga suaminya berbuat serong, maka ia akan menyelipkan sirih di bawah bantal atau kasur. Sirih di kasur atau bantal itu dinamakan Sirih Tanya. Konon, saat si suami tertidur lelap, maka setiap pertanyaan sang istri akan dijawab dengan sebenar-benarnya. "Kalau sudah kena sirih tanya maka habislah, terbongkar semua rahasia," ujar Laman, seperti dikutip Antara.
Menurut Laman, ciri-ciri adanya Sirih Tanya di tempat tidur, adalah jika badan terasa panas saat berbaring di kasur. Tapi sirih yang dapat dijadikan sebagai sirih tanya, bukanlah daun sirih biasa tapi daun sirih dengan urat-urat daun menyatu. Biasanya pada batang tanaman yang merambat itu, terdapat daun yang urat-uratnya menyatu.
"Mencari daun sirih yang khas ini memang agak susah, tapi biasanya ada saja karena tanaman ini tumbuh subur dimana-mana tempat di daerah kami ini," kata Ameng, salah seorang warga Kecamatan Siberida.
Ia mengakui, di kalangan masyarakatnya Melayu, sirih tidak hanya sebagai penyedap rasa jika dikunyah bersama gambir, kapur dan pinang tapi juga sangat menakutkan bagi suami yang suka berbohong. Sebab, lanjut dia, istri yang telah mencurigai tindak tanduk suaminya berbuat serong akan menyelipkan sirih tanya di tempat tidur mereka dan saat si suami terlelap itulah si istri memanfaatkan situasi dengan bertanya pada suaminya dan dengan jujur pula si suami mengungkapkan apa yang telah dilakukannya di luar rumah.
"Tradisi sirih tanya di kalangan masyarakat kami untuk mengajarkan pasangan hidup jangan berbuat serong. Sayangi keluarga dan pasangan hidup kita," tegas Ameng yang mengakui tak pernah dicurigai istrinya dan itu sebabnya saat hendak tidur ia tidak pernah memeriksa lipatan bantal atau kasurnya ada sirihnya atau tidak http://222.124.164.131/merapi/article.php?sid=11193
Jumat, 05 Maret 2010
Kondom Khusus Anak
Swiss mungkin negara pertama yang memproduksi kondom ukuran ekstra kecil, khusus untuk remaja berusia sekitar 12 tahun. Padahal undang-undang negeri itu mengatakan bahwa hubungan seks dianggap tidak melanggar hukum setelah seseorang berumur 16 tahun.
Kondom yang dinamai Hotshot itu diproduksi setelah sebuah riset pemerintah menunjukkan makin banyak remaja yang aktif secara seksual dan tidak menggunakan pelindung. Riset itu dilakukan atas nama Komisi Federal Anak dan Pemuda. Tak kurang dari 1.480 kaum muda, dengan usia antara 10- 20 tahun, menjadi responden.Hasilnya mengejutkan, karena saat ini lebih banyak remaja berumur 12 tahun yang telah berhubungan seks dibandingkan yang berusia 14 tahun.
Kondom Hotshot itu diproduksi Lamprecht AG, produsen kondom terkemuka di Swiss. Harganya 4,70 euro (Rp 59.000) untuk setiap pak berisi enam buah. Juru bicara Lamprecht AG, Nysse Norballe, mengatakan, “Saat ini kami baru memproduksi Hotshot hanya untuk Swiss.
Federasi AIDS Swiss menyarankan produksi kondom untuk anak-anak setelah mempelajari beberapa penelitian. Termasuk penelitian oleh Pusat Pengembangan Kepribadian dan Psikologi Universitas Basel.
Ketua tim peneliti, Nancy Bodmer, mengatakan, “Hasil riset ini sangat mengejutkan karena anak-anak lelaki melakukan aktivitas berisiko dan tidak melindungi diri sendiri.” Pengetahuan seks mereka sangat minim. Mereka tidak memahami konsekuensi perbuatan itu, sementara yang menanggung akibatnya anak-anak perempuan,” imbuh Bodmer.
Sementara itu Hillary Pannack dari Straight Talking Peer Education mengatakan, “Kami menyadari kaum remaja sudah berhubungan seks. Saya rasa inilah (kondom) yang diperlukan untuk melindungi mereka.” Beberapa kementerian terkait mengakui kegagalan upaya mengurangi praktik seks bebas di kalangan remaja. Padahal program itu sudah menghabiskan jutaan euro. http://www.surya.co.id/2010/03/05/kondom-khusus-anak.html
Kamis, 04 Maret 2010
Ojek Payung Bermain Hujan Sambil Mencari Uang
Coba saja Anda perhatikan, saat turun hujan, hampir di semua pelataran mal di Kota Bandung, banyak anak-anak usia sd dan smp berlarian menghampiri orang-orang sambil menyodorkan payung.
Mereka tidak berjualan payung, tapi mereka menyewakan payung dan mengantar si penyewa sampai ke tempat tujuan agar tidak terkena hujan. Biasanya, mereka disebut tukang ojek payung.
Salah satu tukang ojek payung tersebut adalah Muhroji (10), anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD kelas 4 ini berjalan dari rumahnya yang di Jalan Cicendo menjuju untuk menyewakan payung di depan Mal BIP yang berada di Jalan Merdeka.
"Rumah di Cicendo, pulang sekolah kalau hujan saya ke sini (Mal BIP-red), jalan kaki aja sendirian," ujarnya saat berbincang dengan detikbandung di pelataran Mal BIP.
Meski bertubuh kecil, dengan cekatan, Muhroji berlari kesana kemari memburu pengunjung mal yang hendak pulang. Karena tak hanya Muhroji yang menyewakan payung, kadang dirinya harus berebut dengan teman-teman yang lain.
"Suka rebutan, harus cepet-cepetan. Kalau enggak, enggak akan dapet," tuturnya sambil melahap bakso ikan yang dibungkus plastik.
Teman Muhroji, Faisal (12) mengaku baru musim hujan tahun ini dirinya menjadi tukang ojek payung. Bermula dari iseng, akhrinya Faisal pun ketagihan untuk mencari uang dengan menyewakan payung.
"Asalnya iseng aja, tapi lumayan bisa dapet uang sendiri cuma karena nyewain payung aja, jadi kalau sekolah pagi, pas hujan pulangnya ngojek payung," ujar Faisal.
Meski mengandung risiko, namun keduanya tetap ceria dan semangat menyewakan payung. Bahkan mereka tidak takut petir dan sakit karena basah kuyup terkena hujan.
"Enggak takut, biasa aja. Kaya maen hujan-hujanan aja. Tapi ini mah ujan-ujanan sambil dapat uang," ujar Faisal yang diamini juga oleh Muhroji.
Mereka juga mengaku, sudah mendapat izin dari orang tuanya untuk menyewakan payung. "Asal tidak terlalu jauh mah dibolehin, katanya daripada maen yang enggak-enggak, lebih baik main sambil cari uang," ujar Faisal http://bandung.detik.com/read/2010/02/15/115957/1299643/486/bermain-hujan-sambil-mencari-uang
Ojek Payung Hasil Ojekan untuk Beli Buku Sekolah
Dituturkan Muhroji, setiap harinya dia bisa membawa pulang uang hasil menyewakan payung mulai sedikitnya Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu.
"Enggak tentu, kalau hari libur paling besar bawa Rp 20 ribu ke rumah, bisa juga cuma bawa Rp 5 ribu kalau lagi sepi," jelasnya.
Muhroji tidak menentukan tarif dalam menyewakan payungnya, dia hanya berharap keikhlasan dari orang-orang yang menyewa payungnya.
"Enggak ditentuin, terserah mau ngasih berapa, seikhlasnya aja saya mah," ujar Muhroji.
Uang hasil menyewakan payung tersebut, dipakai Muhroji untuk menambah bekal sekolah dan membeli buku pelajaran. Jika ada lebih, baru dia pakai untuk membeli mainan yang diidamkannya.
"Uangnya buat beli buku pelajaran, kadang buat bekal sekolah juga. Kalau ada sisa, ditabung buat beli mainan," tuturnya sambil badan menggigil karena diguyur hujan.
Sama seperti Muhroji, Faisal juga mengaku uang hasil menyewakan payungnya dipakai untuk menambah biaya sekolah.
"Buat bantuin mamah aja, biar masih bisa sekolah," ujar Faisal yang mengaku ayahnya hanya pedagang tahu di pasar.
Namun kadang, jika dia ingun membeli sesuatu, dia menggunakan uang itu untuk keperluan pribadinya.
"Kadang kalau lagi pengen makan enak, kaya makan KFC atau beli burger suka ngojek payung dulu," ujarnya.
Meski tetap semangat, Faisal dan Muhroji mengaku tidak ingin terus-terusan menyewakan payung, karena setiap habis hujan-hujanan mereka sering terkena demam.
"Enggak mau, maunya jadi orang kaya, suka sakit kalau ujan-ujanan, pengennya mah maen PS dirumah kaya orang-orang kaya," ujar Faisal yang diamini oleh Muhroji.http://bandung.detik.com/read/2010/02/15/122228/1299672/486/hasil-ojekan-untuk-beli-buku-sekolah
Jasa Ketik Manual Jadi Primadona Mahasiswa Baru
Bagi mereka, masa-masa pengenalan kampus atau orientasi mahasiswa baru, menjadi tambang emas yang bisa mengepulkan dapur. Jasa mereka pun menjadi primadona mahasiswa baru.
"Kalau pada saat pengenalan kampus atau ospek atau entah apalah namanya, biasanya mahasiswa senior memberikan tugas pengetikan dengan menggunakan mesin tik manual," tutur salah satu juru ketik Saut M Sidabutar (47) ketika berbincang dengan detikbandung beberapa waktu lalu.
Bagi Saut dan puluhan rekan seprofesi lainnya, minimnya jumlah mahasiswa yang mahir menggunakan mesin tik manual menjadi kesempatan untuk berjualan.
"Mahasiswa sekarang kan jarang yang bisa pakai mesin tik, kalaupun bisa pasti lama. Padahal mereka biasa diberi tugas sore atau malam hari. Belum kalau tidak ada mesin tiknya," ujarnya.
Karenanya, para juru ketik di sini berani memasang tarif cukup tinggi pada musim-musim ini. Bahkan bisa sampai 3 atau 4 kali lipat tarif biasa.
"Ya, namanya juga kerja diburu waktu, kompensasinya harus sesuai dong. Toh bagi para mahasiswa itu harga yang dipatok murah-murah saja. Yang penting tugas dari senior mereka selesai," imbuh Saut.
Menurut Saut, mahasiswa yang datang ke kios-kios pengetikan di sepanjang Jalan Singaperbangsa datang tidak hanya dari satu kampus saja. "Memang dekat dengan salah satu universitas terkenal. Tapi dari kampus lain juga banyak kok. Soalnya yang menyediakan jasa seperti ini sudah jarang sekarang," tandas Saut http://bandung.detik.com/read/2010/03/04/092243/1310834/486/jadi-primadona-mahasiswa-baru
Jasa Ketik Manual Berusaha Eksis Walau Napas Kembang Kempis
Lokasi tersebut memang tak tersohor seperti Jalan Dipatiukur atau Lapangan Gasibu. Namun di sini puluhan juru ketik menggantungkan napas hidupnya dari jasa pengetikan. Tempat ini sudah hadir sejak 35 tahun lalu.
Menurut beberapa juru ketik yang ada di sana, kawasan ini memang menjadi salah satu sentra pengetikan yang cukup populer di Bandung. Sejak tahun 1975, para juru ketik mulai menjamur menawarkan jasanya.
Era 80-an menjadi masa kejayaan. Bahkan tadinya seluruh kios di kawasan ini adalah jasa pengetikan.
"Konon dulu jumlahnya sampai 50-an juru ketik. Tapi sekarang yang tersisa hanya separuhnya palingan," tutur salah satu juru ketik Saut M Sidabutar (47) ketika berbincang dengan detikbandung beberapa waktu lalu.
Di dalam kios sederhana berukuran 2x3 meter para juru ketik ini dengan setia menanti pelanggan yang membutuhkan jasanya.
"Kalau dulu orang yang minta ketik manual bisa sampai puluhan halaman. Kalau sekarang palingan untuk kwitansi dan faktur pajak saja," ujar Saut.
Zaman terus bergulir. Perkembangan teknologi pun kian menawan. Kendati diserbu beragam jenis komputer canggih, para juru ketik ini masih enjoy mengandalkan mesin tik jadul. Jemari tangannya begitu lincah menjamah deretan huruf. Walau napas kembang kempis, mereka tetap berusaha eksis.
Rata-rata kios pengetikan di sini mulai buka sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. "Sebagian ada yang sampai pukul 19.00 WIB juga, tergantung bagaimana ramainya. Kalau sepi ya sore pun sudah tutup," imbuh Saut.
Tarif yang dipatok untuk selembar jasa pengetikan manual beragam tergantung ukuran kertas dan waktu pengerjaan. Rata rata juru ketik mematok harga Rp 3.500 hingga Rp 7.500 per lembar. Bahkan, untuk jasa pengetikan kilat, per lembar bisa mencapai Rp 13 ribu.
"Ketik manual dengan ketikan komputer kan beda. Ada teknik tersendiri. Tentu harganya juga tidak bisa disamakan," tutur Saut.
Siang itu, Saut dan puluhan juru ketik lainnya masih terlihat santai dan belum disibukan dengan order pengetikan. "Ya beginilah, sudah biasa sepi, tapi nanti mudah-mudahan ramai," harapnyahttp://bandung.detik.com/read/2010/03/04/085949/1310825/486/berusaha-eksis-walau-napas-kembang-kempis
Jasa Ketik Manual Pertahankan Usaha Sambil Menjadi Penerjemah
"Kalau mengandalkan jasa ketik saja, saat ini mungkin semua juru ketik di sini sudah tutup. Makanya, mereka memperlebar usahanya ke bisnis jasa penerjemahan," tutur salah satu juru ketik Saut M Sidabutar (47) ketika berbincang dengan detikbandung beberapa waktu lalu.
Terjemahan yang diterima oleh jasa pengetikan di sini adalah dari Bahasa Inggris ke Indonesia dan Indonesia ke Inggris."Ya rata-rata itu. Bahasa yang lain jarang yang minta," tutur Saut.
Untuk menerjemahkan, mereka tidak menggunakan software penerjemah seperti yang sekarang marak beredar. "Tidak lah, kalau pakai software hasilnya per kata dan sering tidak mengena," jelas Saut.
Siapa yang menjadi target pasar penerjemahan ini? Lagi-lagi mahasiswa menjadi jawabannya. "Buku mahasiswa sekarang banyak yang berbahasa Inggris, atau tugasnya yang harus dibuat dengan bahasa Inggris," ujar Saut.
Namun tidak semua bidang pengetahuan bisa diterjemahkan oleh juru ketik disini. Saut misalnya, ia hanya menerima terjemahan untuk bidang ilmu sosial. "Kalau bidang sosial saya masih mau. Seperti Ekonomi, Sosiologi, Hukum dan lainnya. Tapi kalau sudah bidang eksak seperti teknik atau fisika bahkan kedokteran saya pasti menolak," jelas Saut.
Apa yang dikatakan Saut memang tidak mengada-ada. Pasalnya, untuk disiplin ilmu tertentu padanan kata yang digunakan tidak bisa sembarangan.
"Kamusnya pun beda. Ada kamus istilah teknik, kedokteran, hukum dan banyak lagi. Tidak bisa sembarangan jadinya," terangnya.
Berapa tarif yang dipatok untuk penerjemahan ini? Untuk terjemahan Inggris ke Indonesia per lembar dipatok harga mulai Rp 7.500 hingga Rp 32.500. Sedangkan untuk Indonesia ke Inggris, tarifnya lebih tinggi, berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 55 ribu per lembar.
Namun lagi-lagi, Saut dan para penyedia jasa lainnya tidak merasa tarif yang dipatok terlampau mahal. "Tetap murah bagi mereka, toh mereka juga butuh," kata Saut http://bandung.detik.com/read/2010/03/04/114400/1311013/486/pertahankan-usaha-sambil-menjadi-penerjemah
Jasa Ketik Manual Saut Tetap Gigih Menjamah Mesin Tik
Pria kelahiran Medan pada 47 tahun yang lalu ini, mulai terjun ke dunia pengetikan sejak 1995. Berbekal mesin tik kuno dan kemauan keras, ia membuka usaha di Jalan Singaperbangsa, Bandung.
"Tahun 90-an saya merantau ke Bandung dan mencoba meniti karier di sini. Entah karena apa saya langsung terjun ke bidang pengetikan," ujarnya.
Latar belakang pendidikan Saut bukanlah dari jurusan yang kerap berkutat dengan urusan ketik mengetik. Pria yang berlatar belakang pendidikan ilmu ekonomi ini awalnya menekuni profesi sebagai juru ketik agar bisa bertahan hidup di Bandung.
"Awalnya simpel saja. Karena saya harus bertahan hidup di sini dan ternyata keterusan sampai sekarang," tutur Saut.
Dari yang awalnya hanya bermodal mesin tik manual, usaha Saut terus berkembang. Saut pun mulai merambah bisnis pengetikan dengan komputer.
"Kalau tidak mengikuti perkembangan bagaimana? Sekarang kebutuhan orang tidak melulu pengetikan manual. Jadilah saya mengumpulkan uang untuk membeli komputer," jelas Saut.
Namun langkah Saut tidak berhenti disana, seperti kebanyakan juru ketik di kawasan Singaperbangsa lainnya, Saut pun melebarkan sayap ke bidang penerjemahan.
"Semuanya saya lakukan otodidak. Tidak ada pendidikan formal apapun yang saya tempuh untuk menjalani 2 profesi saya ini," ujarnya bangga.
Kegigigan Saut rupanya membuka jalan hidup ayah dari 2 anak ini. Ketika mencoba mengikuti tes kualitas penerjemahan di sebuah universitas terkenal di Jakarta, ia pun mendapat predikat yang cukup memuaskan.
Tak hanya itu, dapur keluarga dan kedua anaknya berhasil hidup berkecukupan dari jasa pengetikan ini. "Dari sini kedua anak saya bisa terus sekolah. Mudah-mudah bisa sampai lulus kuliah di tempat yang diinginkan," harapnya.
Ketika ditanya sampai kapan dirinya akan menjalani profesi ini, Saut menjawab yakin, jika pengetikan adalah jalan hidupnya.
"Saya akan terus menjalani karier ini. Dan lagi umur saya sudah terlalu tua untuk meniti karier baru di bidang lain. Selain itu, dari jasa ini saya bisa mendapat banyak ilmu baru dari berbagai disiplin keilmuan. Meskipun tidak terlalu dalam, tapi setidaknya pengetahuan saya semakin luas," tutup Saut. http://bandung.detik.com/read/2010/03/04/122500/1311055/486/saut-tetap-gigih-menjamah-mesin-tik
Kutil Kembali Menyerang Tangan Dede 'Manusia Pohon'
"Dia bilang mau istirahat dulu, capek pulang-pergi, kemungkinan bulan depan," kata Ketua Tim Penanganan Dede, Rachmat Dinata, saat dihubungi via telepon, Minggu malam (3/12/2010).
Rachmat mengatakan, dari informasi yang diterimanya dari keluarga Dede, kutil tersebut kembali menjalar di tangan Dede. Namun, Dede masih bisa melakukan aktivitas hariannya.
"Kalau yang ada di dada dan muka tidak kembali menjalar, hanya di tangan saja," terangnya.
Dede yang merupakan warga Kampung Bunder RT 1 RW 06 Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat itu, selama menjalani operasi pengangkatan diberikan fasilitas gratis oleh pihak rumah sakit.
"RSHS siap saja, gratis. Enggak dipungut biaya," tutur Rachmat.
Sesuai prosedur sebelum menjalani operasi, Dede akan diobservasi untuk persiapan langkah operasi. Rachmat mengatakan, pihaknya belum bisa memprediksi ketebalan kutil yang kembali menyerang tangan Dede.
Februari 2009, Dede menjalani operasi pengangkatan kutil yang kesembilan. Dalam operasi tersebut, tim dokter berhasil mengangkat 1,6 kg kutil yang bersarang di wajah, leher, dada, serta menipiskan kutil di kedua telapak tangan
"Tujuannya adalah mengurangi sisa-sisa kutil dan memperbaiki tangan agar berfungsi kembali," kata Ketua Tim Bedah dr Hardisiswo waktu itu. http://bandung.detik.com/read/2010/01/04/093416/1270957/486/kutil-kembali-menyerang-tangan-dede-manusia-pohon
RSHS Konsultasi ke Gaspari via Internet
"Kalau dilibatkan dalam operasi kesepuluh nanti tidak, tapi kita masih suka konsultasi dengan beliau via internet. Kalau ada hal-hal baru menyangkut bagaimana cara penanganan Dede, beliau suka merekomendasikan," ujar Rachmat saat dihubungi via telepon, Minggu (24/1/2010).
Lebih lanjut Rachmat mengatakan, dalam operasi kesepuluh nanti, Dede akan ditangani sebanyak 6 orang dokter. "Tim kita 6 orang, 3 dokter bedah plastik, 2 ortopedi, dan 1 anastesi. Masih tim dokter yang lama," kata Rachmat.
Dari keterangan Dede, Dede memang seharusnya dioperasi secara berkala selama 6 bulan sekali. "Harusnya memang 6 bulan sekali, kalau sudah merasa berat ditipiskan lagi, soalnya kan belum ada obatnya," terang Rachmat.
Sebelumnya diberitakan, sesuai prosedur sebelum menjalani operasi, Dede akan diobservasi untuk persiapan langkah operasi. Rachmat mengatakan, pihaknya belum bisa memprediksi ketebalan kutil yang kembali menyerang tangan Dede.
Februari 2009, Dede menjalani operasi pengangkatan kutil yang kesembilan. Dalam operasi tersebut, tim dokter berhasil mengangkat 1,6 kg kutil yang bersarang di wajah, leher, dada, serta menipiskan kutil di kedua telapak tangan
Tujuannya adalah mengurangi sisa-sisa kutil dan memperbaiki tangan agar berfungsi kembali. http://bandung.detik.com/read/2010/01/24/190500/1285031/486/rshs-konsultasi-ke-gaspari-via-internet
Dokter Tidak Beri Dede Obat Minum
Hal ini dituturkan Ketua Tim Penanganan Dede, dr. Rahmat Dinata, kepada wartawan di RSHS, Kamis (4/3/2010).
"Obat yang diberikan hanya salep Asam Salisilat 40 persen. Tujuan diberikan, agar pertumbuhan kulit tanduknya agar tidak terlalu cepat," jelas Rahmat.
Melihat kondisi demikian, tiga obat minum Acitretin, Cidovovir dan Viusid Powder praktis tidak diberikan lagi.
"Ketiganya menimbulkan efek samping pada ginjal Dede. Termasuk yang terakhir Viusid Powder yang merupakan obat herbal dari Spanyol," terang Rahmat.
http://bandung.detik.com/read/2010/03/04/151831/1311304/486/dokter-tidak-beri-dede-obat-minum