Rabu, 03 Maret 2010

Bemo Terseok-seok Menunggu Si Monyong Melintas Salemba

Eko Carsa hanya termenung di warung kopi Mak Kicon di ujung Jalan Kimia, Salemba, Jakarta Pusat. Di hadapannya adalah angkutan roda tiga dengan moncong mirip bibir monyong. Itulah bemo yang disupirinya sejak 1982. Namun, kaca depan bemonya pecah saat terjadi tawuran pelajar di Salemba akhir Februari lalu. Carsa malah baru tahu pagi ini karena baru kembali dari kampung halamannya di Kuningan, Jawa Barat. "Bemo saya diparkir di depan warung. Saya baru tahu kaca bemo saya hancur begitu kembali ke Jakarta pagi tadi," jelas Carsa saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (2/3/2010).

Akibatnya, Carsa tidak bisa mencari penumpang. Parahnya lagi, untuk membeli kaca depan bemo, dia harus mengeluarkan uang Rp 250 ribu. Itu belum termasuk karet pelapisnya. Selain harganya cukup mahal untuk Carsa, kaca Bemo pun harus dicari di Bogor. Dia bingung harus mencari uang kemana. Semua uang yang dimilikinya baru saja diberikan kepada istri dan anak-anaknya di Kuningan. Padahal, bemo adalah alatnya untuk mencari nafkah. "Saya bingung, Mas. Mau cari duit kemana lagi. Sebab bemo ini tanggung jawab saya. Jadi pemilik sudah memasrahkan semua urusan bemo kepada saya," ujar Carsa lirih.
Bemo yang disupiri Carsa dimiliki almarhum H Mawi yang tinggal di Pulogadung, Jakarta Timur. Ia mulai mengemudikan bemo sejak 1982 dengan trayek Mampang-Warung Buncit. Namun kini Carsa melayani trayek Manggarai-RSCM. Dalam sehari, Carsa bisa mendapat penghasilan kotor Rp 170 ribu. Dipotong setoran Rp 70.000 perhari kepada keluarga H Mawi dan bensin, maka Carsa bisa mengantungi uang Rp 30-50 ribu. "Lumayan bisa buat kumpul-kumpul untuk dikirim ke kampung. Sisanya buat biaya hidup saya di Jakarta," kata Carsa.
Carsa sudah punya penumpang setia, yaitu para karyawan RSCM, RS Carolus dan karyawan di daerah Matraman. Bemo, selain ongkosnya lebih murah dari bajaj dan ojek, juga satu-satunya angkutan umum yang melintas dari Stasiun Manggarai, RSCM, Salemba sampai Matraman. Carsa memilih libur di akhir pekan karena jarang penumpang. "Penumpang saya umumnya karyawan RSCM dan RS Carolus. Dari pada harus bayar setoran dan beli bensin mendingan tidak narik kalau hari libur," ungkapnya.
Erika, seorang perawat di RS Carolus membenarkan kalau ia dan beberapa perawat yang lain lebih memilih naik bemo jika pergi bekerja. Kebanyakan perawat di rumah sakit tersebut tinggal mengontrak di daerah Tambak. Ada juga yang tinggal di Pasar Minggu atau Depok, mereka biasanya turun di Stasiun Cikini atau Manggarai. Dari situ, harapan mereka memang hanya bemo untuk menuju Salemba. Cukup membayar Rp 2.000 saja. "Kalau naik bemo jadi lebih irit ongkos, naik ojek atau bajaj lebih mahal," terang Erika kepada detikcom.
Bemo kini kian tersisihkan di tengah persaingan angkutan umum modern mulai dari mikrolet, bus dan taksi. Namun di sisi lain, bemo tetap menjadi andalan bagi orang-orang seperti Erika. Sedangkan Carsa kini malah mengkhawatirkan kalau sampai bemo dihapuskan Pemprov DKI Jakarta. Di pagi hari itu Carsa tidak juga menemukan solusi untuk mencari penumpang. Jarinya hanya memainkan beling pecahan kaca bemonya.
http://www.detiknews.com/read/2010/03/02/190051/1309783/159/menunggu-si-monyong-melintas-salemba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar