Senin, 08 Maret 2010

Kisah Gelisah Para Pembersih Kota

Panas siang itu tidak membuat Sumiyati (41) berhenti menggerakkan sapu, Selasa (23/2). Kebersihan di sepanjang jalan sejak Stasiun Senen hingga pasar kue subuh menjadi tugas ibu tiga anak itu. Dengan seragam kuning, handuk kecil, dan topi yang menutup kepala, Sumiyati menyapu jalan sejak pukul 13.00. Pekerjaan baru tuntas selepas pukul 21.00. Dengan delapan jam kerja, Sumiyati bisa menyelesaikan dua kali bolak-balik di rutenya. Tidak lupa, sebuah tong sampah dengan roda diseretnya di sepanjang jalan untuk menampung daun rontok, sampah plastik, atau bekas dagangan pedagang asongan yang numpuk di jalan. Dalam sehari, dua gerobak penuh terisi sampah.

Risiko kerja Sumiyati tergolong besar karena jalan yang harus dibersihkan merupakan jalur ramai kendaraan. ”Kalau hampir terserempet, itu hal biasa. Apalagi, kalau sedang ada pikiran. Kadang tidak sadar, saya berdiri agak ke tengah jalan,” ucap Sumiyati yang setahun terakhir menjalani profesi ini.

Ketika ditemui, air mata Sumiyati berbaur dengan keringat yang membasahi wajahnya. Dia sedih mengingat sepuluh hari sebelumnya dia tidak bekerja lantaran sakit. Satu hari absen bekerja berarti kehilangan upah Rp 22.000. Padahal, setiap rupiah amat berarti bagi keluarga yang menggantungkan hidup sehari-hari kepada Sumiyati.

Acu (41), suami Sumiyati, tidak lagi bekerja setelah tiga kali becaknya diangkut aparat. Anak sulung mereka—yang setahun lalu putus sekolah kelas II SMA—baru mulai bekerja dengan upah Rp 300.000 per bulan. Anak kedua duduk di kelas IV SD dan yang bungsu berumur 5 tahun.

Hasil keringat Sumiyati digunakan untuk hidup berlima, termasuk membayar kontrakan di daerah yang dikenal dengan sebutan kawasan Gambreng, di Kecamatan Johar Baru, seharga Rp 200.000 per bulan. Hidup dengan uang yang terbatas membuat Sumiyati terbiasa dengan utang.

Kondisi serupa dialami Su’anah (55), penyapu jalan di kawasan Monas. Setiap hari, Su’anah diupah Rp 16.000. Untuk ongkos bus dari kontrakannya di Ciledug ke Monas, Su’anah harus merogoh Rp 5.000 sekali jalan. Artinya, Rp 10.000 sudah hilang di perjalanan setiap hari.

Bila rematik pada kedua kakinya kambuh, Su’anah harus mengeluarkan uang Rp 6.000 untuk membeli jamu asam urat, bahkan tiga kali berturut-turut. Tidak ada tambahan jaminan kesehatan bagi penyapu jalan. ”Kalau sakit sudah parah, ya terpaksa istirahat dulu di rumah,” ujar Su’anah.

Dua anaknya masih bersekolah, masing-masing kelas III SMA dan II SMA. Untuk biaya pendidikan seorang anak, ibu empat anak ini harus membayar Rp 100.000 per bulan. Belum lagi uang yang dibutuhkan untuk membayar kontrakan sebesar Rp 450.000 setiap bulan.

Anaknya yang tertua belum genap sebulan bekerja di Tanjung Priok. Pekerjaan untuk anak tertuanya itu diperoleh dari kebaikan hati seorang bapak yang kerap disapa Su’anah di Monas. Anak kedua bekerja di rumah makan dengan gaji yang cukup untuk dirinya sendiri.

Belas kasih orang

Sulit membayangkan, para penyapu bisa hidup dari upah mereka. Su’anah, misalnya, memprioritaskan upah yang diterimanya untuk makan dan sekolah anak-anaknya. Saat bekerja, dia makan dan minum dari belas kasih orang.

Bila ada demonstrasi besar, Pak Mandor menyediakan nasi untuk makan pagi dan sore hari. Hal serupa terjadi seusai perayaan Tahun Baru. Pada Tahun Baru, Su’anah juga mendapatkan tambahan uang Rp 15.000. Bonus ini diterima seiring dengan banyaknya volume sampah dibandingkan hari-hari biasa.

Di luar saat-saat itu, makan dan minum menjadi tanggung jawab para penyapu. Sering kali rasa lapar terpaksa ditahan karena belum ada rezeki hari itu.

Baik Su’anah maupun Sumiyati tidak pernah meminta-minta, tetapi kebaikan hati orang yang lewat di sekitar mereka membantu kehidupannya.

Seperti ketika Sumiyati tengah menyapu jalan, sebuah mobil berhenti di sisinya. Seorang remaja mengulurkan sekotak nasi kepada Sumiyati. Nasi itulah makan siang Sumiyati hari itu. Maklum, jatah makannya sudah termasuk upah yang diterima.

Begitu pula dengan Su’anah. Kebaikan hati orang yang berolahraga di Monas rezeki baginya. ”Uang di kantong sering enggak cukup buat makan atau sekadar beli minum. Kalau enggak ada orang yang ngasih, kadang saya juga tidak makan,” ucap Su’anah.

Keramahan hati Su’anah merupakan modal baginya meraih simpati orang-orang yang lewat. Saat lelah menghampirinya, Su’anah duduk di rerumputan sembari menyapa orang yang lewat. Beberapa di antara mereka sudah mengenal Su’anah dan kerap memberikan uang atau menjajankan minum atau makan. ”Ada juga polisi yang baik sama saya. Dia sering membelikan saya nasi,” katanya.

Tergantung perusahaan

Nasib Su’anah, Sumiyati, dan ribuan penyapu jalan lain di Jakarta sepenuhnya ditanggung perusahaan yang menyediakan jasa penyapu jalan. Oleh karena itu, upah harian yang diterima masing-masing orang juga berbeda. Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat 5.333 pekerja lepas kebersihan pada akhir Desember 2008.

Memang ada 2.174 pegawai negeri sipil dan 141 pegawai tidak tetap di dinas kebersihan. Namun, mereka umumnya bekerja di dalam kantor walaupun ada pula yang terjun langsung menjaga kebersihan di DKI Jakarta. Adapun volume sampah yang dihasilkan tidak kurang dari 6.500 ton setiap hari. Jumlah ini bisa melonjak jika ada aktivitas di ruang publik. Sampah itu jadi tanggung jawab Su’anah, Sumiyati, dan teman-teman lainnya. Mereka rela merawat kebersihan di Jakarta kendati dengan balas jasa sebatas apa seadanya. http://megapolitan.kompas.com/read/2010/03/08/08335115/Kisah.Gelisah.Para.Pembersih.Kota

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar