Senin, 08 Maret 2010

Teroris Aceh Lebih Berbahaya

Jaringan terorisme di Aceh lebih berbahaya dibandingkan sel terorisme yang dipimpin gembong teroris Noordin M Top. Jaringan Aceh lebih terstruktur, global, dan langsung berhubungan dengan Al-Qaedah pusat. ”Ini lebih besar dari Noordin Top. Noordin bergerak solo, dengan formasi 124. Kalau yang di Aceh ini persis formasi Mindanao, lebih global,” kata pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo, Minggu (7/3) di Jakarta.

Menurut dia, Al-Qaedah memanfaatkan Mindanao untuk latihan perang, tidak hanya untuk memerdekakan Filipina Selatan, tapi juga lebih besar lagi untuk menyiapkan kader terorisme. Dalam kasus Aceh, lanjutnya, Al-Qaedah juga memakai untuk pusat latihan teroris setelah gagal di Ambon dan Poso. ”Aceh itu teritori berikutnya setelah Ambon dan Poso. Jadi terorisme ini benar-benar dari pusatnya yang holistik. Jadi sangat berbahaya,” tegasnya.

Dia melihat, Noordin yang tewas di Solo hanyalah produk dari jaringan terorisme. Siapa yang membuat Noordin M Top, kata dia, belum ditumpas. Jaringan inilah yang diduga bermain di Aceh. ”Noordin itu tidak bisa bahasa Arab, Noordin tidak pernah ke Afghanistan.

Dia hanya produk, produsennya belum ditumpas, jadi biangnya belum dapat,” tegasnya.
Jaringan terorisme di Aceh, menurutnya, dikontrol langsung Al-Qaedah. Blog ’’Tandzim Al Qoidah Indonesia Serambi Makkah’’ merupakan blog asli yang dibikin Al-Qaedah ataupun orang yang disuruh Al-Qaedah. ’’Al-Qaedah ingin membuat Aceh seperti Mindano. Menjadikan Aceh sebagai pusat perekrutan dan pelatihan teroris. Mereka yang dilatih di Aceh dipersiapkan untuk misalnya menyerang negara mana.”

Untuk memberantas terorisme, kata dia, masyarakat harus terus menerus diberikan penyadaran tentang bahaya terorisme.
Tentang model terorisme di Aceh, dia belum bisa menjelaskan. Namun menurutnya, jaringan tersebut berbeda dengan gaya Noordin yang melakukan pengeboman. Aceh lebih dijadikan pusat pelatihan terorisme. “Mungkin Aceh akan menjadi seperti Magelang, jadi seperti Akabri-nya teroris,” jelas dia.
Di lain pihak, hampir dua pekan polisi menyergap teroris di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Namun polisi belum berhasil melumpuhkan maupun menguasai sepenuhnya daerah pegunungan Aceh Besar yang sebelumnya dijadikan latihan para teroris.
Polisi telah menangkap 14 tersangka teroris, satu tersangka tewas, dan satu warga kena peluru nyasar. Sementara tiga anggota polisi tiga gugur dan sembilan luka-luka. “Karena mereka (teroris-red) menguasai medan, berada di ketinggian dan dilengkapi dengan senjata cukup bagus,” ungkap Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Edward Aritonang.

Dikatakan, pihaknya belum bisa memperkirakan besarnya jumlah teroris yang berada di lokasi penyergapan secara pasti. Pasalnya 14 tersangka teroris yang berhasil ditangkap yakni ZN, SA, YZ, SAS, NR, HL, HB, AF, DS, NK, AN, HB, AK, dan AF. Sebanyak 13 di antaranya masih diperiksa di Mabes Polri.

Mereka belum bisa dikorek informasinya lebih jauh karena tidak kooperatif.
“Mereka bisa katakan sedikit, tapi itu bohong. Jauh lebih besar dari pada yang sudah ditangkap,” tandas Edward.
Ia belum bersedia membeberkan buatan dari mana senjata yang dipakai teroris itu. Dia hanya mengungkapkan jumlah senjata yang berhasil disita yaitu puluhan ribu peluru, empat senjata api laras panjang, granat asap, dan 24 buah magasin lengkap dengan pelurunya.

Sasaran para teroris, lanjutnya, bukan Selat Malaka. “Itu kan informasi dari Singapura,” tuturnya. Dia juga mengungkapkan untuk tiga anggota kepolisian yang gugur yakni Bripda Darmansyah, Bripda Hendrik Kusumo, dan Briptu Boas Woisiri pangkatnya akan dinaikkan satu tingkat.

Dibawa ke Cikeas

Jenazah Briptu Boas Woisiri tepat pukul 14.00 dilepas dari aula Soemarto Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Tangisan keluarga mewarnai pelepasan jenazah. Prosesi pelepasan jenazah dimulai sekitar pukul 13.30 setelah ayah Boas, Carlos Woisiri, tiba di persemayaman. Saat tiba di aula Mako Brimob, Minggu (7/3), Carlos yang didampingi dua orang sahabatnya langsung disambut oleh adik Boas.

Mereka menangis sambil berpelukan di halaman aula. Setelah itu Carlos langsung menghampiri jenazah Boas. Lima menit berada di hadapan peti jenazah, prosesi pelepasan jenazah dari keluarga dimulai. Penyerahan jenazah dari keluarga diwakili oleh JS Siboro. Kemudian disambut oleh pihak kepolisian, Wakil Kepala Korps Brimob Brigjen Pol Syarif Gunawan.

Jenazah langsung dimasukkan mobil jenazah dibawa ke Makam Kemulyaan, Taman Makam Polisi Berjasa, Cikeas, Bogor. Briptu Boas meninggalkan satu orang anak bernama Immanuel (6). Saat ini istrinya tengah mengandung anak keduanya berumur dua bulan.(K24,dtc-60) http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/08/101456/Teroris-Aceh-Lebih-Berbahaya-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar