Kamis, 04 Maret 2010

Jasa Ketik Manual Berusaha Eksis Walau Napas Kembang Kempis

Bandung - "Jes..jes..tik..tik..jes..jes...," suara tuts mesin tik manual yang sudah cukup berumur saling bersahut-sahutan di sepanjang Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung.

Lokasi tersebut memang tak tersohor seperti Jalan Dipatiukur atau Lapangan Gasibu. Namun di sini puluhan juru ketik menggantungkan napas hidupnya dari jasa pengetikan. Tempat ini sudah hadir sejak 35 tahun lalu.

Menurut beberapa juru ketik yang ada di sana, kawasan ini memang menjadi salah satu sentra pengetikan yang cukup populer di Bandung. Sejak tahun 1975, para juru ketik mulai menjamur menawarkan jasanya.

Era 80-an menjadi masa kejayaan. Bahkan tadinya seluruh kios di kawasan ini adalah jasa pengetikan.

"Konon dulu jumlahnya sampai 50-an juru ketik. Tapi sekarang yang tersisa hanya separuhnya palingan," tutur salah satu juru ketik Saut M Sidabutar (47) ketika berbincang dengan detikbandung beberapa waktu lalu.

Di dalam kios sederhana berukuran 2x3 meter para juru ketik ini dengan setia menanti pelanggan yang membutuhkan jasanya.

"Kalau dulu orang yang minta ketik manual bisa sampai puluhan halaman. Kalau sekarang palingan untuk kwitansi dan faktur pajak saja," ujar Saut.

Zaman terus bergulir. Perkembangan teknologi pun kian menawan. Kendati diserbu beragam jenis komputer canggih, para juru ketik ini masih enjoy mengandalkan mesin tik jadul. Jemari tangannya begitu lincah menjamah deretan huruf. Walau napas kembang kempis, mereka tetap berusaha eksis.

Rata-rata kios pengetikan di sini mulai buka sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. "Sebagian ada yang sampai pukul 19.00 WIB juga, tergantung bagaimana ramainya. Kalau sepi ya sore pun sudah tutup," imbuh Saut.

Tarif yang dipatok untuk selembar jasa pengetikan manual beragam tergantung ukuran kertas dan waktu pengerjaan. Rata rata juru ketik mematok harga Rp 3.500 hingga Rp 7.500 per lembar. Bahkan, untuk jasa pengetikan kilat, per lembar bisa mencapai Rp 13 ribu.

"Ketik manual dengan ketikan komputer kan beda. Ada teknik tersendiri. Tentu harganya juga tidak bisa disamakan," tutur Saut.

Siang itu, Saut dan puluhan juru ketik lainnya masih terlihat santai dan belum disibukan dengan order pengetikan. "Ya beginilah, sudah biasa sepi, tapi nanti mudah-mudahan ramai," harapnyahttp://bandung.detik.com/read/2010/03/04/085949/1310825/486/berusaha-eksis-walau-napas-kembang-kempis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar