Selasa, 02 Maret 2010

Tinggalkan Profesi Guru, Jual Logam Rongsok

BERALIH pekerjaaan tentu bukan hal mudah. Perlu keberanian lebih untuk menggapai hidup yang lebih baik. Itulah yang dilakukan Sudarma (58). Sehari-hari, dia bekerja sebagai pedagang barang rongsok, khususnya alumunium di Pasar Beringharjo Yogyakarta.
Menjadi pedagang sebenarnya bukan keinginannya. Saat kecil, dia sangat ingin menjadi pegawai kantoran, apa pun itu. Tentu dengan harapan, menjadi pegawai bisa memperbaiki kualitas hidup keluarga.Tekad itu yang membuatnya terus berjuang menempuh pendidikan dari tingkat sekolah dasar. Saat itu masih sekolah rakyat, hingga duduk di bangku kuliah.
Perjuangan saat kecil hingga duduk di bangku kuliah memberikan hasil manis. Setelah lulus dari IKIP Negeri Karangmalang yang kini berubah menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengantarnya menjadi seorang guru.‘’Saya pernah menjadi guru selama 5 tahun di Sumatera, tepatnya di Bengkulu dan setelah itu kembali ke Yogyakarta dan mengajar,’’ ujarnya.
Tak berselang lama setelah kembali ke tanah kelahiran, dia mengajar di SMP Sang Timur Yogyakarta dan mengampu Bahasa Inggris dan Seni Rupa. Tidak hanya itu, dia juga mengajar di lembaga Kursus Pegawai Administrasi Atas (KPAA) sebagai guru Bahasa Inggris. Semua ditekuni dengan penuh semangat.
Awal 1980 dia memutuskan berhenti menjadi seorang guru. Penyebab utama, sekian lama bekerja tetap hanya honorer. Akhirnya dia banting setir bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) Plan International. Dalam 10 tahun, dia keluar. Lembaganya pindah ke Bogor serta ada pengurangan tenaga kerja besar-besaran, meski dia tak termasuk yang di-PHK.
Jual Rongsok Dia lantas membantu istrinya yang lebih dulu berjualan rongsok di Pasar Beringharjo. Dia mendapat barang dagangan dari pedagang lain, di dalam maupun luar kota . Prospek usaha dagangnya cukup menjanjikan ketika itu, belum banyak pesaing.‘’Pelanggan dari Boyolali, Purworejo, Semarang, Magelang dan Kotagede. Mereka mencari aluminium, tembaga, kuningan, timah dan barang logam lainnya.

Tidak semua barang itu adalah barang rongsokan atau barang bekas, ada juga yang masih baru,’’ papar dia. Pembeli mengambil barang untuk beragam keperluan, misalnya diolah menjadi kerajinan. Plat aluminium contohnya, dapat dimanfaatkan untuk membuat aneka bentuk adonan kue. Tidak hanya sebatas kerajinan, para pembeli juga memanfaatkan untuk membuat gerobak, memperbaiki pintu kamar mandi, atau dijual kembali.
Setelah istrinya meninggal dan terjadi krisis moneter 1998, keadaan menjadi lain. Banyak proyek yang berhenti beroperasi dan bangkrut. Kebangkrutan proyek berdampak pada para pedagang, seperti Sudarma. Barang-barang logam bekas bangunan yang biasanya dengan mudah diperoleh, kini sangat sulit. ‘’Sekarang juga banyak saingan, pedagang yang ada di pinggiran kota langsung menjual ke penampung barang kemudian dikirim ke Boyolali dan pengecor,’’ ungkapnya.
Kini dia hanya bisa berharap dan berusaha agar kondisi perekonomian bisa segera pulih. Dengan membaiknya kondisi perekonomian, harapannya, harga stabil terlebih untuk kebutuhan pokok sehingga dia bisa menghidupi keluarga.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/02/100618/Tinggalkan-Profesi-Guru-Jual-Logam-Rongsok

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar