Senin, 28 Desember 2009

Suhadi, Setia walau Kian Terpinggirkan

Suhadi (60) beristirahat sejenak di trotoar depan sebuah toko mainan. Diletakkannya pikulan sarat barang dagangan berupa berbagai jenis anyaman bambu di lantai trotoar yang terlindung dari terik sinar matahari itu.

Sejurus kemudian, dia mencopot capingnya, dan mengibas-ngibaskannya untuk menghalau gerah yang menerpa tubuh. Lalu, dia duduk di samping tumpukan dagangannya itu. "Tompo, caping, Bu," tawar Suhadi kepada seorang perempuan setengah baya yang lewat di depannya. "Mboten Pak," jawab perempuan itu sambil terus berlalu.

Sudah hampir setengah hari Suhadi berkeliling Kota Purbalingga menjajakan aneka macam anyaman bambunya. Namun, belum satu pun barang dagangan yang dijualnya laku. "Jualannya seret. Bathine kesel (untungnya capek)," ujarnya sambil tertawa saat Kompas menanyakan hasil perjuangannya, pekan lalu.

Bagi Suhadi, dagangan tak laku sudah biasa. Yang penting bagi dia adalah barang dagangannya tak kehujanan atau rusak. Dengan begitu, keesokan harinya masih bisa dijual lagi. "Namanya jualan, kadang laku ya kadang enggak laku. Sudah biasa," katanya singkat.

Berbagai jenis anyaman bambu dipasarkan Suhadi, mulai dari tompo, caping, pithi, kukusan, tudung nasi, nampan, hingga keranjang sampah. Semuanya dipikul dalam satu pikulan dan dijajakan dengan cara berjalan kaki. Barang-barang itu sebagian buatannya sendiri, sebagian yang lain dibelinya di perajin anyaman yang banyak terdapat di desanya.

Pekerjaan ini sudah digelutinya selama 40 tahun. Selama kurun waktu itu, cara berjualan pria asal Desa Wanogara Wetan, Kecamatan Rembang (25 kilometer arah timur laut Kota Purbalingga), itu tak berubah. Dengan pekerjaannya itu, Suhadi menghidupi istri dan empat anaknya. Kini, tiga anak Suhadi merantau ke Jakarta. Tinggal satu anak perempuannya yang masih tinggal di rumah.

Pelanggan Suhadi berganti seiring waktu. Ada yang sudah meninggal dunia, ada yang sudah pindah rumah, dan ada yang tak lagi membutuhkan barang-barang anyaman. "Sekarang semuanya terbuat dari plastik dan logam. Jarang yang memakai anyaman bambu," ujar dia.

Tempat tinggal Suhadi hanya berjarak dua kilometer dari tempat kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman. Di desanya, dahulu dikenal banyak terdapat perajin anyaman bambu. Maklum, di desa tersebut kaya akan tanaman bambu. "Dulu yang menjual keliling seperti saya banyak. Ada wilayahnya sendiri-sendiri. Tapi, sekarang tinggal dua orang. Semuanya sudah tua-tua seperti saya," kata dia.

Surutnya jumlah penjual anyaman keliling tersebut karena terdesaknya berbagai jenis anyaman bambu tersebut dengan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari plastik dan logam. Selain itu, berjualan anyaman bambu tak lagi menjanjikan keuntungan besar, bahkan sering tidak laku.

Padahal, lanjut Suhadi, harga anyaman bambunya tidak mahal. Untuk satu tompo (wadah beras, nasi, atau sayuran) hanya dijual Rp 5.000 untuk ukuran sedang. Tompo ukuran besar dijual Rp 8.000, pithi (tompo kecil) dijual Rp 4.000, caping dijual Rp 8.000, keranjang sampah dan baju Rp 5.000. "Untuk satu barang paling saya hanya mengambil untung Rp 1.000 sampai Rp 2.000," kata dia.

Dalam sehari, rata-rata Suhadi mendapatkan uang Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Uang tersebut lalu dipotong ongkos naik angkutan pedesaan (angkudes) dari desanya ke kota Purbalingga Rp 2.500. Lalu, sebesar Rp 5.000 dikumpulkannya untuk membeli dagangan baru. Praktis keuntungan bersih Suhadi hanya Rp 7.500 sampai Rp 13.500 per hari. "Kadang enggak laku sama sekali. Tapi, kadang laku sampai Rp 50.000," ungkap dia.

Sebelum tahun 1990-an, kata Suhadi, bekerja sebagai pedagang anyaman keliling masih bisa untuk hidup. Namun, setelah dekade tersebut, Suhadi harus menyambung hidup dengan cara yang lain, yakni nyambi menjadi buruh tani dan menanam singkong di pekarangannya. "Kalau ada yang minta tolong saya di sawah, saya mburuh, enggak jualan. Kalau enggak ada ya keliling, tamasya sama pikulan," seloroh Suhadi yang diikuti tawanya yang lepas.

Suhadi sadar bahwa berjualan anyaman bambu keliling tak dapat membuatnya keluar dari selubung kemiskinan. Namun, dia juga sadar, hanya pekerjaan itu yang dia bisa. "Yang penting halal dan tak mencuri milik orang lain," tandas dia. http://regional.kompas.com/read/xml/2009/12/28/08455852/suhadi.setia.walau.kian.terpinggirkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar