Sabtu, 02 Januari 2010

Berebut Tanah Makam Gus Dur

Sehari pascapengebumian, makam almarhum mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, masih terus dibanjiri ribuan pengunjung yang berziarah, Jumat (1/1). Namun ada-ada saja ulah para peziarah. Seusai membaca Yasin dan tahlil di makam mendiang, mereka menjumput tanah dan bunga di atas gundukan makam Gus Dur. Mereka percaya, bunga dan tanah itu mengandung berkah dan tuah.

Karuan saja fenomena tersebut membuat KH Solahuddin Wahid (Gus Sholah) bereaksi. Adik Gus Dur ini ketika ditanya membenarkan adanya fenomena semacam ini. Itu sebabnya, pengasuh Ponpes Tebuireng ini mengingatkan kepada para pengunjung dan peziarah agar tidak melakukan hal-hal yang sifatnya bisa menjurus syirik, apabila menganggap tanah makam Gus Dur itu sebagai jimat dan semacamnya “Kami sudah berkali-kali memberi pengertian kepada mereka agar tindakan seperti itu dihentikan, karena mengarah kepada sifat perbuatan syirik,” kata Gus Solah, Jumat (1/1).Gus Sholah menegaskan makam Gus Dur terbuka untuk dikunjungi rakyat dari kalangan manapun. “Semua kalangan bisa mengunjungi makam Gus Dur. Tidak akan ada pembatasan. Karena Gus Dur sudah menjadi milik rakyat Indonesia,” kata Gus Sholah.
Seperti dikatakan seorang peziarah, Usuf, ia mengambil tanah dan bunga di pusara Gus Dur untuk dibawa pulang. “Kami meyakini beliau (Gus Dur) memiliki kelebihan, dan saya yakin tanah ini akan memberi barokah bagi kami,” kata Usuf, lelaki asal Plandaan, Jombang, Jumat.

Begitu pula pengakuan Fatimah, warga Seblak, Diwek, Jombang. ia sengaja mengambil bunga dan menjumput tanah di pusara Gus Dur untuk dibawa pulang. Dia percaya, tanah dan bunga dari makam Gus Dur memiliki tuah tertentu. “Ini akan saya gunakan untuk mengobati sakit linu saya,” katanya.

Hal sama dilakukan Muhlison. Dia mengambil tanah makam untuk pengobatan anaknya yang sampai berusia beberapa tahun ini belum bisa berjalan alias lumpuh. Dia mengambil sedikit tanah, dikantongi, lalu dibawa pulang.

Siti Umayah, salah satu peziarah mengaku setelah memanjatkan doa di depan makam Gus Dur, ia bersama rombongan kembali ke kota asalnya, yakni Gresik. Namun sebelum beranjak dari makam, ia terlebih dahulu mengambil tanah segenggam untuk disimpan di rumahnya. Hal sama juga dilakukan Abdul Aziz, peziarah asal Madura. Hanya saja, pria yang datang bersama rombongan ini lebih tertarik mengambil bunga yang ada di atas pusara Gus Dur. Sama dengan Umayah, bunga yang mulai mengering itu akan ia simpan di rumahnya.

Alasan Azis sederhana. Bunga tersebut akan menjadi kenang-kenangan bahwa ia pernah berziarah ke makam mantan presiden. “Bagaimanapun juga Gus Dur adalah mantan presiden,” kata Azis dengan logat Madura kental.

Akibat ulah para peziarah tersebut, beberapa jam setelah pemakaman Gus Dur selesai, Kamis (31/12), gundukan tanah makam sempat cekung. Tanah banyak dijumputi warga, lalu dibawa pulang. Bahkan, taburan bunga di atasnya pun sirna.
Melihat ulah peziarah itu, Gus Sholah menyesalkan. “Itu tidak rasional, jadi tidak usah dilakukan,” tegas dia.
Putri Gus Dur, Zanuba Arifah Chafsah alias Yenny Wahid juga berkomentar. “Saya tidak heran kenapa terjadi begitu,” kata Yenny di kediaman Gus Sholah, pamannya.
Dia mengaku paham dengan kondisi itu. Beberapa orang masih percaya, jika makam tokoh besar seperti Gus Dur mengandung barokah dan memiliki tuah.

Perbuatan itu tidak bisa dilarang, karena sudah membudaya. Namun demikian, dia tetap melarang upaya pengambilan tanah makam seperti yang dilakukan beberapa peziarah. Peziarah cukup mendoakan saja. “Janganlah aneh-aneh seperti itu,” pinta Yenny.
Namun yang paling menonjol, banyak pengunjung yang memanfaatkan makam Gus Dur sebagai latar belakang dan latar depan bagi mereka untuk berfoto. Dengan kamera digital dan ponsel berkamera, para pengunjung utamanya dari luar daerah, berpose di sekitar makam mantan Ketua Umum PBNU tiga periode itu. “Mumpung ada kesempatan, sekalian foto-foto. Selain untuk kenangan, juga untuk oleh-oleh bagi teman-teman yang tidak ikut ke sini. Jauh-jauh dari Jawa Tengah, sayang kalau tidak dimanfaatkan,” kata Dawam, santri dari sebuah pondok pesantren di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, yang datang bersama 20 rekannya.

Alasan senada juga disampaikan Andriani dari Modo, Lamongan. Bersama suami dan anaknya, Andriani menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang makam Gus Dur, yang dikelilingi ratusan warga yang berdoa sambil bersimpuh.“Saya penggemar Gus Dur. Beliau pluralis, konsisten, memperjuangkan hak kaum minoritas secara tak kenal lelah. Saya ngefans berat terhadap beliau,” imbuh Andriani yang bersuamikan laki-laki keturunan Tionghoa.
Sehari sebelumnya, upacara pemakaman Gus Dur yang dilakukan secara militer dengan inspektur upacara Presiden SBY berlangsung penuh haru. Isak tangis cukup keras terdengar di sela prosesi pemakaman di kompleks Ponpes Tebuireng, yang berlangsung selama satu jam lebih, mulai pukul 13.15 hingga 14.20 WIB.

Mereka yang menangis tidak hanya keluarga Gus Dur, namun juga para laki-laki pengagum Gus Dur. Gus Nuril Huda, pengurus PBNU, menangis sembari mengangkat tangan tangannya. Seorang laki-laki berbaju gamis warna putih di dekatnya juga menangis dengan suara keras. Suara takbir dan tahlil terdengar. Apalagi saat lagu Gugur Bunga berkumandang.

Imam Masjidil Haram
Doa khusus untuk almarhum Gus Dur dipanjatkan di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (1/1). Ustadz yang memimpin doa sungguh istimewa, Imam Masjidil Haram Syaikh Dr H Abdurrahman Bin Abdul Aziz Al Sudais. Abdurrahman juga memimpin salat gaib.

Doa yang dipanjatkan untuk Gus Dur dilakukan sebelum salat Jumat digelar. Takmir masjid mengumumkan akan dipanjatkan doa untuk almarhum Gus Dur yang dipimpin Abdurrahman Sudais.
Abdurrahman Sudais yang mengenakan jubah warna putih dan mengenakan sorban bercorak merah dan putih kemudian memanjatkan doa dengan bahasa Arab. Doa dipanjatkan sekitar lima menit. Para jamaah mengirinya dengan ‘amin’.

Jamaah salat Istiqlal kemudian mendapat siraman rohani dari Abdurrahman Sudais, karena ulama berkacamata itu bertindak sebagai pengkhutbah.
Seusai salat Jumat, Abdurrahman Sudais juga diminta takmir masjid untuk memimpin salat gaib untuk Gus Dur. Salat gaib diikuti sebagian besar jamaah.

Salah seorang takmir Masjid Istiqlal, Yanto, mengatakan Abdurrahman Sudais berada di Istiqlal untuk silaturahmi. “Kebetulan hari ini Istiqlal mendapat tamu kehormatan dari Abdurrahman Sudais dan sejulah tamu dan utusan dari beberapa negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara Islam lainnya,” kata Yanto.

Abdurrahman Sudais berada di Jakarta sejak beberapa hari lalu. Sebelumnya, Abdurrahman bertemu Presiden SBY di Istana Negara terkait penyelenggaraan Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadist Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz Al Suud Tingkat ASEAN Tahun 2009.

Gelar Pahlawan
Sementara itu, usulan menjadikan mendiang Gus Dur sebagai pahlawan nasional segera dikonkretkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Surat usulan pengajuan gelar pahlawan akan dibuat Senin pekan depan. “Kami akan rumuskan suratnya Senin nanti, lalu segera mengirimnya kepada pemerintah,” kata Wakil Sekjen DPP PKB Marwan Jafar, Jumat (1/1).
Pemerintah, kata Marwan, harus menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada mendiang Gus Dur, karena mantan Presiden keempat tersebut telah memberikan sumbangsih besar kepada bangsa. “Beliau peletak dasar pluralisme, humanisme, dan demokrasi,” kata Marwan.

Selain sumbangsih pemikiran dan jasanya sebagai mantan presiden, Marwan melanjutkan, dorongan dari masyarakat luas yang menginginkan mendiang Gus Dur dijadikan pahlawan nasional sangat besar. “Gerakan dari facebooker juga menginginkan hal yang sama,” katanya.

Dia menilai, gelar pahlawan nasional berhak disandang mendiang Gus Dur karena mantan Ketua Umum PBNU itu tak hanya milik satu kelompok masyarakat tertentu.

PDI Perjuangan (PDIP) juga mendukung penetapan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait menyatakan, Gus Dur telah konsisten memperjuangkan demokrasi sejak masa Orde Baru. “Dia (Gus Dur) pemikir sekaligus pejuang prodemokrasi,” kata Maruarar. Penetapan Gus Dur sebagai pahlawan juga telah didukung mantan presiden sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Menurut Maruarar, tak ada alasan menolak Gus Dur menjadi pahlawan. Banyak pihak mengakui Gus Dur ikut memerjuangkan demokrasi dan pluralitas. Contohnya, kata Maruarar, Gus Dur memerjuangkan hak kaum Tionghwa soal perayaan Imlek. Gus Dur juga tak berhenti berjuang meski mendapat tekanan dari berbagai pihak.

http://www.surya.co.id/2010/01/02/berebut-tanah-makam-gus-dur.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar