Selasa, 05 Januari 2010

Dua Anggota DPRD Dihajar Preman, Ketua DPRD Dituding Otaknya

Musyawarah Anak Cabang (Musancab) yang digelar DPC PDIP Kabupaten Malang, Minggu (3/1) siang, berakhir kisruh. Sugeng Pujianto, anggota DPRD Kabupaten Malang, dan Bambang Harianto, anggota DPRD Jatim, diserang sekelompok preman usai memimpin rapat Musancab di PAC Kecamatan Ampelgading.

Hingga dua hari ini, Sugeng yang Ketua Fraksi PDIP ini terbaring di RSUD Kanjuruhan karena mengalami luka babak belur. Korban dijadikan bulan-bulan dengan dikepruk pot bunga di kepalanya, kemudian dipukuli dan diinjak-injak. Sementara Bambang juga tak luput jadi sasaran emosi preman tersebut. Cuma nasib Bambang lebih baik dibandingkan Sugeng karena hanya luka ringan.

Kejadian itu bermula dari DPC menggelar Musancab terkait pemilihan calon Ketua DPC, DPD dan Ketua Umum PDIP. Musancab di Kabupaten Malang kembali dimenangkan Boimin Nur Suhandri untuk ketiga kalinya. Boimin menang mutlak di 25 PAC, sedang Heri Sasongko, yang sempat berkoar-koar didukung 28 PAC ternyata hanya menang pada 8 PAC.

Untuk calon ketua DPD Jatim kembali dimenangkan Sirmadji dan Ketua Umum DPP kembali dimenangkan Megawati. Musancab itu berlangsung di masing-masing PAC dengan setiap PAC punya 11 suara. Rata-rata Musancab yang dipimpin perwakilan dari DPD Jatim, Bambang itu berlangsung aklamasi dengan kembali memilih Boimin

Sebagai Wakil Ketua DPC, Sugeng mendampingi Bambang ketika memandu Musancab di rumah Ketua PAC Ampelgading, Maskud, 40, Dusun Tempean, Desa Tirtomarto, kecamatan setempat. Hasil Musancab di PAC Ampelgading, Boimin menang dengan hanya unggul satu suara sedang Sasongko dapat 5 suara. Tanda-tanda rapat bakal kisruh, ketika berlangsung pemilihan secara voting, Maskud yang dikenal tim sukses Sasongko sudah menempeleng Sugik, sekretarisnya. Namun saat itu berhasil dilerai.

Baru usai memimpin rapat kejadian penganiayaan itu terjadi. Saat itu Sugeng dan Bambang pamitan pulang sekitar pukul 18.00 WIB. Saat mereka naik mobilnya, dengan berlainan mobil, sekitar enam preman yang datang mengendarai sepeda motor menyerangnya. Para pelakunya seperti terlatih.

Mereka datang dengan mengedor bodi mobil korban. Sopir Sugeng, Lutfi, langsung ditarik kerah bajunya hingga tak bisa bergerak. Sugeng yang belum menyadari apa yang terjadi, langsung diseret keluar mobilnya, kemudian dipukuli dan kepalanya dikepruk pot bunga. Begitu warga Desa Jambangan Kecamatan Dampit itu roboh, tubuhnya diinjak-injak pelaku.

Beruntung Sugeng berhasil meloloskan diri. Dia kabur ke jalan raya kemudian menyelamatkan diri ke Polsek Ampelgading yang berjarak hanya sekitar 1 km dari TKP. Akibat kejadian ini, suasana malam itu di DPC PDIP paska Musancab, sangat tegang. Mulai sore hingga pukul 01.00 WIB, semua pengurus DPC, termasuk Boimin, terkecuali Sasongko, yang tak terlihat, menjengguk Sugeng di RSUD.

Tak luput, malam itu anggota Polres Malang yang dipimpin AKP Kusworo Wibowo langsung memburu pelakunya. Namun hingga Senin petang, tak satu pun pelakunya tertangkap. Sedang Maskud, malam itu langsung kabur dari rumahnya.

Sugeng Pujianto, Ketua Tim Penjaringan hingga saat ini masih terbaring di salah satu ruang di ICU RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Keluarga dan koleganya di dewan, seperti Tono ST dan Sanusi. Keduanya Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang sudah menjenguknya. Hari Sasongko juga akan segera menjenguknya karena di dewan masih ada rapat belanja anggaran dengan sejumlah SKPD.

Meski sudah bisa bercanda, Sugeng tidak bicara terlalu banyak. Tapi ia dengan tegas menyatakan bahwa penganiayaan yang menimpanya adalah perbuatan dari bakal calon yang kalah.
“Terindikasi yang melakukan ini adalah dari calon yang kalah,” tegas Sugeng.

Dijelaskan Sugeng, saat kejadian, penganiayaan juga terjadi pada diri Bambang Herianto, perwakilan dari DPD PDIP Jawa Timur. Tapi Bambang tidak terlalu banyak terkena pukulan dan langsung pergi.
Sueb Hadi, ketua tim pemenangan Boimin dengan terang-terangan menuding penyerangan itu dilakukan orang-orang Sasongko. Diduga Sasongko tak terima karena kalah dengan Boimin.

Alasan Sueb, sebelum terjadi penyerangan, Sabtu (3/1) malam, sejumlah preman telah meneror para Ketua PAC. Mereka mengancam akan menghabisinya jika tak memilih Sasongko pada Musancab nanti.
Bahkan, Jumain, Ketua PAC Tirtoyudo, didatangi sekelompok preman ke rumahnya. Beruntung, Jumain lebih dulu meninggalkan rumahnya sehingga selamat dari aksi preman tersebut.

“Kami punya data kalau prmenanisme itu dilakukan orang-orang Sasongko. Kami yakin, Sasongko menggerakkan mereka karena tak terima dikalahkan Pak Boimin dalam pemilihan Ketua DPC,” tegas Sueb dikonfirmasi wartawan di RSUD, Senin (4/1) dini hari.

Hari Sasongko dituding mengerahkan preman, dengan santai mengelaknya. Dia mengaku saat kejadian itu dirinya berada di rumahnya, Kecamatan Tajinan. “Jangan asal menuduh. Mencurigai boleh namun kalau menuduh, harus punya bukti. Lebih baik kasus ini kita serahkan polisi untuk mengusutnya. Saya nggak menampik kalau Maskud adalah pendukung saya,” tegas Sasongko ditemui di gedung DPRD Kabupaten Malang, Senin (4/1).

Kejadian ini tak hanya mengejutkan orang PDIP sendiri namun politisi partai lain juga demikian. Maklum di mata mereka, Sasongko dan Sugeng dikenal politisi PDIP yang selama ini dikenal sangat santun. Mereka tak pernah menciptakan permusuhan dengan orang lain. Seandainya Sasongko sampai berbuat se-ngawur itu, bisa jadi karena otaknya diracuni orang lain. Targetnya, biar PDIP jadi kisruh menjelang Pilkada 2010 mendatang.

Yang aneh, mengapa Sugeng yang jadi sasaran? Ada dugaan, karena Sugeng dianggap mengkhianati Sasongko. Informasinya, Sasongko berani bersaing dengan Boimin karena didorong teman DPC salah satunya Sugeng. Namun ketika menjelang dan sampai berlangsung Musancab, Sugeng tak mendukungnya malah jadi tim sukses Boimin.

Namun Sasongko mengaku sedih dituding melukai teman separtai. ”Sedihnya, mengapa saya langsung dituding seperti itu. Boleh saja nyebut, tapi saya serahkan ini semua pada pihak yang berwajib saja,” kata Hari Sasongko.
Hari Sasongko sehari-harinya adalah Ketua DPRD Kabupaten Malang dan juga sekretaris DPC PDIP Kabupaten Malang. Ia mengaku memang berada di lokasi acara tapi tidak mengetahui penganiayaan itu.

Baru mengetahuinya setelah diinformasikan oleh orang-orang dan wartawan meminta klarifikasi padanya. Ia menyatakan prihatin atas kejadian pemukulan itu. “Tapi tudingan itu tidak benar dan tidak bisa dibuktikan. Sebab saya tidak mungkin terlibat dalam aksi seperti itu. Yang penting, yang berwajib harus menyidik kasus itu,” jelasnya.

Menurut Sasongko, dalam penjaringan di tingkat PAC itu, dari 33 kecamatan, ia kalah karena hanya mendapat dukungan dari delapan kecamatan yaitu Gondanglegi, Pujon, Dau, Wajak, Ngajum, Donomulyo, Sumberpucung dan Tirtoyudo. Sisanya masih ‘dipegang’ oleh Boimin Nursuhandri, incumbent saat ini.

Menurut Sasongko, proses penjaringan ini ada pra konfercab yang baru akan diadakan pada 20 Januari nanti. “Yang dijaring, ya yang menang,” ungkap pria berkacamata ini.

Boimin sendiri sudah dua kali memimpin DPC PDIP Kabupaten Malang dan memang tidak ada aturan di partai tentang batasan kepemimpinan. Ia sendiri maju atas keinginannya sendiri karena di PDIP memang sedang ada suksesi pengurus DPC, DPD dan DPP. “Sangat wajar ada anggota partai mencalonkan diri,” ungkapnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar