Rabu, 13 Januari 2010

Kasus Bocah Pengamen Dimutilasi, Ketakutan Tetangga Babe Pindah Kontrakan

Pembunuhan keji yang diduga dilakukan Baikuni alias Babe, 48, dengan memutilasi Ardiansyah, 9, menyebabkan rasa takut menjalar di antara tetangga-tetangga tersangka di Gang H Dalim, Pulogadung, Jakarta Timur. Beberapa warga mengaku takut pascaterungkapnya aksi pembunuhan yang disertai dengan tindakan memotong-motong tubuh korban hingga menjadi lima bagian itu.

Bahkan Wawan dan Miskia –tetangga yang tinggal persis di sebelah kontrakan Baikuni– sudah beres-beres barang-barang dan bersiap pindah ke lokasi kontrakan baru. “Ya takut saya, mas. Masak ada anak dipotong-potong begitu di samping kamar saya. Mendingan saya pindah,” kata Miskia kepada Kompas.com, Minggu ( 10/1), di Gang H Dalim, Pulogadung, Jakarta Timur.

Seperti diberitakan, Babe diduga mencekik kemudian memotong-motong Ardiansyah karena bocah pengamen itu menolak diajak berhubungan badan. Sebelum dimutilasi, jenazah Ardianyah disodomi Babe. Pedagang asongan ini membuang empat potongan badan korbannya ke sebuah tempat, dan membuang kepala Ardiansyah ke temat lain. (Surya, 10/1).

Wajar Miskia merasa takut. Pasalnya, rumah kontrakannya memang berimpitan persis dengan rumah kontrakan Baikuni alias Babe. Kamar mandi dua kamar kontrakan itu pun menjadi satu, dan harus bergantian jika ingin memakai. Di tempat itulah, Baikuni kerap memandikan anak-anak asuhnya, termasuk Ardiansyah yang akhirnya menjadi korban.

Lokasi kontrakan Baikuni pun terbilang sempit dan padat. Ada empat kamar yang tersedia di kontrakan tersebut, namun hanya tiga yang ada penghuninya, termasuk Baikuni.

Miskia mengaku ia dan suami sedang tak dirumah saat kejadian pembunuhan tersebut. Ia pun kaget saat mengetahui kamar tetangganya menjadi lokasi pembunuhan yang dilakukan Baikuni. “Saya enggak nyangka. Biarpun pendiam, dia orangnya baik kok. Sering ngasih saya sayuran kalau habis pulang kampung,” tuturnya.

Di pihak lain, keluarga Ardiansyah tak menyangka Babe tega membunuh. Nur Hamidah, ibu Ardiansyah, mengaku tak percaya pria yang selama ini ia percayai untuk membantu mengasuh Ardiansyah justru tega menghabisi nyawa putranya itu.

Selama ini Nur Hamidah memang kerap mempercayakan Ardiansyah di bawah pengasuhan Baikuni, selama anak keempatnya itu mengamen di sekitar kawasan Pulogadung Trade Center (PTC). Kesulitan ekonomi memaksanya untuk membiarkan putra keempatnya itu untuk ikut mengamen bersama Baikuni. Terlebih rumah kontrakannya yang sempit kerap kali tak muat untuk berteduh bersama suami dan kelima anaknya yang lain.

Penghasilan Indra, suaminya, sebagai supir tembak, pun kadang tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. “Saya enggak nyangka dia tega bunuh anak saya. Saya enggak pernah curiga,” kata Nur Hamidah, Minggu (10/1), saat ditemui Kompas.com di rumah kontrakannya, Gang Ketut, Tipar Cakung, Jakarta Timur.

Tak sedikitpun kecurigaan muncul di benak Nur Hamidah sejak pertama kali mengenal Baikuni. Perawakannya yang sopan dan lembut sama sekali tak menandakan seorang pembunuh berdarah dingin.

Nur Hamidah mengaku pertama kali mengenal Baikuni dari Ardiansyah. Kekerapan Ardiansyah bertemu dengan Baikuni saat mengamen, menbuat keduanya dekat layaknya ayah dan anak. Baikuni memang seorang pedagang asongan yang saban hari ngetem di kawasan Pulogadung Trade Center. Melihat kebaikan hati Baikuni, Nur Hamidah pun membiarkan putranya itu untuk berada di bawah pengasuhan Baikuni. Pun tiap kali Ardiansyah ingin menginap di rumah Baikuni, ia pun selalu mengizinkan
http://www.surya.co.id/2010/01/11/kasus-bocah-pengamen-dimutilasi-ketakutan-tetangga-babe-pindah-kontrakan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar