Selasa, 05 Januari 2010

Menangkap booming CPO pada 2010 Perlu dibuat peta arah pengembangan industri sawit secara jelas

Harga CPO pada 2010 diperkirakan booming dan memberi keuntungan bagi Indonesia. Diperkirakan harga CPO pada awal 2010 mencapai titik tertinggi di level US$800 per ton pada Januari-Februari. Sekarang harganya sekitar US$765 per ton. Perkiraan itu diungkapkan oleh praktisi industri minyak sawit dari dalam dan luar negeri di International Palm Oil Conference (IPOC) 2009, Nusa Dua, Bali (Bisnis Indonesia, 3 Desember 2009).
Permintaan CPO AS terus naik. Tren konsumsi minyak nabati AS melonjak hingga 60% sepanjang periode 2002-2009. Padahal, periode 1998-2001, tren konsumsi ini rata-rata 7% per tahun. Pada 2008, konsumsi CPO AS tercatat 1,08 juta ton. Kebutuhan minyak CPO naik karena kebijakan negara itu menggunakan bahan bakar nabati. Setidaknya sekitar 173 unit pabrik biodiesel beroperasi dan tersebar di sejumlah lokasi di AS.
Sementara itu, India, konsumen terbesar kedua dunia untuk minyak makan, diduga tidak akan menetapkan pajak impor komoditas itu.
Inflasi pangan menjadi isu di India. Ini akan mendorong CPO dalam waktu dekat karena pemerintah tidak akan memperhitungkan pajak impor. Tidak adanya pajak impor itu akan mendongkrak pembelian CPO. India dipastikan akan belanja lebih banyak CPO dari pasar internasional.

Diproyeksikan produksi biodiesel dunia akan naik 3,2 juta-3,3 juta ton sepanjang 2010 yang dipimpin pertumbuhan produksi Jerman sekitar 2,73 juta ton. Sepanjang 2009, produksi biodiesel dunia mencapai 15,9 juta ton dari kapasitas produksi terpasang 46 juta-47 juta ton. Peixian Hu mengatakan China dipastikan mengonsumsi lebih dari 6 juta ton CPO pada 2010.
Sayangnya, impor dari Indonesia nyaris stagnan pada volume tak lebih dari 2 juta ton. Peluang ini akhirnya diambil oleh Malaysia yang memasok lebih dari 50% kebutuhan China. ertumbuhan permintaan CPO tahun depan juga diindikasikan oleh pembeli di Asia Barat yang diperkirakan naik sekitar 8%-10% atau sekitar 400.000 ton pada 2010.
Pertumbuhan permintaan tinggi dipimpin oleh Arab Saudi, Turki, Iran, dan Pakistan yang mengonsumsi CPO terbanyak dibandingkan dengan konsumsi minyak nabati lain. Pangsa pasar CPO di Arab Saudi mencapai 63,8%, Turki sekitar 45,6%, Iran 40,7% dan Pakistan 50,12% dibandingkan dengan minyak nabati lain.

Kabar gembira

Ada kabar gembira terkait dengan produksi CPO Indonesia. Pada 2008 produksinya mencapai 19,2 juta ton. Angka ini melampaui Malaysia di level produksi 17,08 juta ton pada ta-hun yang sama. Pencapaian ini lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya, dimana Indonesia dinyatakan baru akan menjadi penghasil CPO nomor satu di dunia pada 2010. Hal ini terungkap saat berlangsung Kongres Tahunan MAKSI belum lama ini di Bogor. Jika dicermati, volume ekspor CPO Indonesia terus meningkat menjadi 12,5 juta ton pada tahun 2008 dengan luas lahan 8,127 hektare dan produktivitas tanaman sawitnya sebesar 3,7 ton/hektare.
Pemerintah menargetkan pada 2020 produksi CPO mencapai 40 juta ton atau 2 kali lipat dari produksi saat ini.Hal ini akan dicapai dengan dua pendekatan yakni perluasan areal dan peningkatan produktivitas. Luas areal perkebunan akan menjadi 9,127 juta hektare dengan produktivitas sawit mencapai 4,5 juta ton/hektare.
Sayangnya industri sawit masih memiliki kelemahan dalam menghadapi persaingan global. Salah satunya rendahnya muatan teknologi yang diterapkan oleh industri. Dibandingkan Malaysia, pengembangan industri hilir Indonesia boleh dibilang tertinggal. Meski di atas kertas Indonesia menikmati keunggulan komparatif berupa luas lahan sawit, Malaysia jauh lebih riil dalam menikmati hasil dari olahan kelapa sawit.
Harga CPO tak akan menjadi bulan-bulanan perdagangan dunia, sepanjang Indonesia mau membangkitkan industri hilir.Bangkitnya industri hilir akan dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Petani akan lebih aman usaha taninya lantaran hasil panennya sudah ada pihak industri yang menampung. Pengusahaan berbagai industri hilir pengolah CPO pun akan menjadi peluang baru penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
Jika diinventarisasikan, berbagai kendala yang selama ini mengganjal di antaranya: tidak adanya arah pengembangan industri sawit nasional secara konkret dari pemerintah. Selain itu juga munculnya regulasi yang justru jadi kendala dan tidak merangsang peningkatan investasi; pengembangan industri hilir yang terkesan kedodoran; banyaknya pungutan ekspor serta kurang terorganisasinya pengembangan industri sawit yang baik dari pelaku adalah ganjalan yang hingga hari ini belum jua terurai.
Berbagai fenomena tadi menunjukkan industri sawit nasional masih belum mempunyai arah yang jelas. Untuk itu dipandang penting dan mendesak sebuah grand design kebijakan pengembangan kelapa sawit nasional mulai dari hulu hingga ke hilir.
Dalam buku prospek dan arah pengembangan agribisnis kelapa sawit terbitan Badan Litbang Pertanian, telah digagas strategi pengembangan terintegrasi vertikal dan horizontal.Maksudnya, keterkaitan antara upaya aplikasi inovasi teknologi, pengembangan usaha kelapa sawit di desa-desa, pengembangan pasar dalam dan luar negeri hingga pentingnya sokongan pengadaan infrastruktur yang didukung kebijakan pemerintah yang kondusif. Yang jadi soal, bagaimana usulan yang baik dalam buku itu bisa terjabarkan secara riil. Konkretnya, bagaimana kita bisa bersaing dengan Malaysia yang memberi sokongan kuat terhadap lembaga riset dan industri CPO dan produk turunannya.
Belajar dari Malaysia, pemerintahnya mendirikan suatu lembaga yang memberikan dukungan optimal terhadap industri ini. Lembaga tersebut memungut dana kepada pelaku industri, tetapi dananya untuk riset, pengembangan pasar, dan promosi. Urusan promosi, ditangani oleh Malaysia Palm Oil Promotions Council. Ketika AS meniupkan isu di pasar internasional bahwa minyak sawit merugikan kesehatan, lebih baik menggunakan minyak kedelai atau minyak biji bunga matahari, lembaga itulah yang menangkis berbagai tudingan miring tersebut. Di Indonesia? Sudah pasti, para pelakunya dibiarkan bertarung sendiri.
Selain perlu menyusun berbagai langkah antara lain membuat peta arah pengembangan industri sawit secara jelas dan terarah, menghilangkan regulasi-regulasi yang menghambat investasi. Selain itu juga pembentukan lembaga yang secara khusus meningkatkan daya saing industri di pasar internasional; mendorong pelaku industri untuk menambah investasi dan mengembangkan industri hilir,menciptakan pola industri yang efisien.
Dewan Kelapa Sawit Nasional (DKSN) yang akan mewadahi bertemunya petani, pelaku industri kelapa sawit, peneliti/pengamat hingga birokrat diharapkan bisa lebih mengelola dan menangani isu-isu krusial seperti membuat strategi pengembangan, promosi, hingga menepis isu-isu negatif terkait kelapa sawit asal Indonesia. Berkah booming CPO pada 2010 bisa jadi tak akan kita rasakan manakala tidak ada perubahan mendasar yang dilakukan terkait pengelolaan sumber daya kita yang satu ini.

Oleh Rahmat Pramulya Anggota Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia

dikutip dari :http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/opini/1id153419.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar