Senin, 22 Februari 2010

Aku Bukan Lelaki Sempurna

Hari pernikahanku kian dekat. Tapi, bukan kebahagiaan yang kurasakan melainkan kecemasan-kecemasan. Aku cemas dengan diriku, dengan masa depan perkawinan yang kurencanakan. Aku cemas karena tidak yakin apakah mampu menjadi suami bagi istriku.

Secara ekonomi tentu aku sangat mampu. Aku bekerja dan penghasilanku cukup bagus untuk ukuran kota ini. Keluargaku juga sudah mandiri semua, sehingga tak ada beban yang aku tanggungkan. Orangtuaku, meskipun pensiunan pegawai negeri, masih memiliki penghasilan sendiri dari warung kelontong yang mereka kelola. Kakakku sudah bekeluarga semua, dan puji Tuhan, semua berkecukupan, meskipun tidak berlebihan. Aku yang anak bungsu mendapatkan kesenangan-kesenangan sebagai lelaki terakhir di rumah kami. Jadi, istriku pasti tak akan merasakan kesulitan secara ekonomi. Apalagi, sebagai anak terakhir, aku mendapat "izin" untuk menjadikan rumah keluarga sebagai rumahku. Aku yang dipasrahi menjaga ayah dan ibu. Begitu menikah nanti, istriku akan sudah tinggal di rumahku yang cukup besar dan asri. Semua terkecukupi.

Masalah yang aku cemaskan memang bukan itu. Tapi menyangkut diriku sendiri. Aku "sempurna sebagai" lelaki. Jangan Anda bayangkan yang tidak-tidak, aku gay atau homoseksual. Bukan. Aku tak sempurna menyangkut ketakmampuanku untuk melakukan fungsi sebagai lelaki. Aku sendiri merasa dorongan seksualku sangat tinggi, menggebu. Tapi tak pernah ada kelanjutan daripada kemenggebuan itu saja.

Sejak SMA aku sudah berpacaran. Dan lazimnya berpacaran, kadang kami bermesraan. Kadang kemesraan itu juga nyaris melewati batas. Dengan Agnes misalnya, aku nyaris berhubungan suami istri. Untunglah, di saat kritis dan lupa diri itu, aku tak mampu melakukan penetrasi. Puji Tuhan. Yang di atas masih menjagaku dari dosa. Agnes pun bersyukur karena keperawanannya tak terjamah olehku.

Kejadian akhir SMA itu nyaris terulang semasa aku kuliah dengan Findy, tapi kembali aku gagal. Lalu dengan Mira, dan gagal lagi. Aku jadi yakin, Tuhan memang melarangku untuk melakukan hal itu. Aku sendiri mulai merasa aneh, mengapa tak mampu melakukan itu di saat-saat akhir.

Aku berkonsultasi kepada ahli seks. Jawaban mereka, stres yang berlebihan, takut akan dosa, ketidaksiapan, memang membuat kelelakianku tak akan dapat berfungsi normal. Dokter itu yakin jika aku sudah resmi menikah, semuanya akan beres. Tekanan psikologis yang membuat aku tak "sempurna" sebagai lelaki. Aku pun senang dengan diognosis itu.

Namun nanti dulu. Dengan tunanganku yang akan kunikahi ini, aku memang acap bermesraan, bahkan berlebihan. Karena kami sudah bertunangan dan akan menikah, juga hubungan sudah diketahui orang tua, kami relaks saja ketika bermesraan. Dan aku melakukannya tanpa rasa salah dan cemas. Hasilnya? Sama saja, aku tak mampu. Ereksiku --maaf-- sangat tidak memadai, kekerasaannya tidak seperti yang kuharapkan. Ada apa ini? Siska memang tidak marah, dan selalu merasa memang kami menikah baru boleh begituan. Tapi aku cemas. Aku mencari tahu apa yang salah dengan diriku.

Dari berbagai referensi, akhirnya aku mulai menyadari sesuatu. Dan aku menangis. Aku ingat, memang ada yang tidak beres dengan diriku. Hal yang semula tidak aku anggap sebagai penyebab. Dan kini aku menyadari, hanya hal itulah kemungkinan satu-satunya yang membuat aku begini. Dulu, sewaktu SD, aku pernah jatuh dari pohon. Jatuh dalam keadaan duduk. Aku pingsan. Kata ayah, tulang belakangku retak. Cukup parah. Aku juga ingat, beberapa hari aku kencing dan bercampur darah. Atas saran beberapa anggota keluarga, untuk menghindari cacat, aku dibawa ke ahli pijat. Menurut cerita mereka, kalau ke dokter, kemungkinan nantinya aku akan bungkuk, atau tidak berdiri dalam keadaan normal. Karena untuk membuat tulang belakangku menjadi pulih kembali, mereka akan memasang pen, dan itu membuat pertumbuhanku tidak akan normal. Cacat paska operasi itu yang tidak diinginkan ayah. Mereka lalu membawaku ke Boyolali, ke orangpintar yang aku lupa siapa namanya. Hasilnya sempurna. Dua minggu kemudian aku sudah dapat beraktivitas seperti biasa, dan sehat sediakala dua bulan kemudian. Hasil ronsen, tulangku menyambung dan kembali seperti semula.

Dan aku memang tumbuh normal, tidak ada keluhan, dan cacat tubuh setelah itu. Namun, kini aku merasakan dampaknya. Dari referensi, aku mengetahui, tekanan yang berlebihan pada tulang panggul atau tulang belakang, dapat membuat kegagalan ereksi. Penderita patah tulang belakang pun akan sulit kembali ereksi dengan sempurna. Aku memangis membaca hal itu. Aku merasa gagal. Tapi aku tidak putus asa. Suatu hari, aku mencoba sebuah "percobaabn", dan meminum obat kuat, lalu mengajak Siska bermesraan. Dan nafsuku memang menggebu. Kami nyaris melakukannya. Namun, meski aku seperti hewan yang terluka, proses persetubuhan itu tak terjadi. Aku seperti nyaris memperkosa Siska, karena obat itu membuatku menggerung seperti hewan buas. Tapi aku tetap tak mampu. Aku menangis kehabisan tenaga. Siksa yang menghiburku, meyakinkan bahwa nantinya sehabis pemberkatan aku akan mampu. "Ini soal waktu, bersabar ya?" Aku makin menangis. Siska tidak tahu, bukan itu masalahnya, bukan itu....

Aku putus asa. Aku lalu ke dokter. Dan benarlah, dari diagnosa mereka, ada kerusakan syaraf permanen yang mengatur fungsi alat reproduksiku. Bahasa gampangnya, otak tidak memerintahkan pasokan darah yang cukup untuk membuat ereksiku berjalan secara sempurna. Ada respon yang tak sempurna ke otak, sebagai pusat semua perintah syaraf. Karena sudah cukup lama terjadi, harapan untuk kembali sembuh tipis. Dokter memberiku berbagai obat, juga menganjurkanku mengikuti pengobatan alternatif, semacam akupunktur atau pijat syaraf lainnya. Mereka menguatkanku bahwa masih ada harapan walaupun tipis. Karena ada syarafku yang sekian lama tercepit dan akhirnya tak berfungsi.

Ke akupunktur aku sudah berkonsultasi. Ada harapan memang. Dan sudah lebih dari enak kali pinggulku dijarumi, dan hasilnya memang ada. Ereksiku lumayan kuat, tidak seperti dulu. Tapi tetap belum mampu untuk melakukan hubungan intim secara sempurna. Aku jadi panik. Aku tak bisa yakin, kapan pengobatan ini akan berhasil secara maksimal. Aku memang dianjurkan berpikir positif dan yakin. Sudah aku lakukan. Tapi aku tetap cemas, karena pernikahnku semakin dekat. orangtua sudah mendesak. Dan pertunanganku sudah memasuki usia 2 tahun. Aku tak bisa menunda lagi. Tapi, bagaimana jika aku nanti tak bisa melakukan tugas sebagai suami? Apa yang harus aku lakukan? Berterusterang, yang akan membuat Siksa meninggalkanku?

Pembaca, bantu aku. Jika ada pengobatan alternatif yangmampu, jika ada saran yang membantu, bantulah aku. Secepatnya. Aku percaya, Tuhan di atas sana akan membalas kebaikan semua pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar