Sabtu, 20 Februari 2010

Teater Garasi Pentaskan Kembali Je.ja.lan

Setelah begitu lama tidak tampil dihadapan publik Yogyakarta, Teater Garasi kembali hadir dihadapan pecinta seni teater Yogyakarta melalui pertunjukan teater berjudul Je ja.lan, Kamis (18/2) malam. Kehadiran kembali Teater Garasi menyedot perhatian luar biasa dari pecinta seni teater Yogyakarta dan penikmat teater dari mancanegara yang memenuhi concert hall Taman Budaya Yogyakarta.

Teater Garasi sebenarnya pernah membawakan lakon ini di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta 16-17 Mei 2008 dan di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta 23-24 Mei 2008. Menurut sutradara pementasan Je.ja.lan, Yudi Ahmad Tajudin tidak dari naskah tapi dari observasi tentang persoalan hidup di jalan-jalan di beberapa kota yaitu Yogyakarta, Jakarta dan Indramayu. Dari observasi itu kemudian di diskusikan, di improvisasi sehingga ditemukan teks serta idiom untuk dijadikan proyek pentas teater. “Awalnya sih sederhana saja, setiap hari kita melihat jalan kayanya memang banyak persoalan. Ternyata jalan adalah wajah kita bagaimana menyikapi modernitas, Hal-hal berjajar antara apa yang dianggap baik dan buruk tergantung siapa yang mengatakan mimpi hidup lebih baik yang terus terjadi di jalan. Sesederhana itu,” ungkap Yudi di Yogyakarta, Sabtu (20/2)

Proyek teater ini kemudian dihadirkan dalam bentuk seni pertunjukan teater tari (dance-theater). Yudi mengakui, sejak awal dirinya ingin membuat teater tari yakni kolaborasi antara teater dengan tari. Gerakan tari ini dihasilkan dari observasi kehidupan jalanan lalu dilakukan improvisasi gerakan tarian dengan mendasarkan interaksi dengan penari lain, dengan musik dan benda-benda yang dibawa dari jalan. ”Alurnya begini, improvisasi itu dibikin kode namanya? kodefikasi. Nah kode gerak itu disusun jadi komposisi misalnya ada kode a-b-c-d –e waktu bikin komposisi bisa digabungkan satu sama lain,” terang Yudi.

Penonton yang memenuhi tempat pentas di concert hall TBY disuguhi kehidupan jalanan yang beraneka ragam. Pertama muncul suasana festival dengan dihadirkan beberapa pemain egrang yang begitu tinggi berjalan ditengah penonton.

Hal-hal lucu muncul dalam adegan ini misalnya ada aktor yang berjalan dengan kepala yang tertutup seng yang tinggi. Aneka rupa suasana saling gembira saling bermusuhan dihadirkan dalam permainan watak yang enak dilihat. Setelah permainan teater tentang kehidupan di jalan hadir, lalu muncul bagian tari teaternya..

Para aktor menarikan tarian menyerupai goyangan erotis penyanyi dangdut kelas bawah melalui iringan musik dangdut. Mereka juga menghadirkan improvisasi tarian tentang erotisme kehidupan di tempat menjual diri yang berisi orang-orang yang normal maupun aneh dalam berperilaku seksual. Di bagian tarian inilah, totalitas berakting tujuh pemain teater garasi yang terdiri dari Bahrul Ulum, Bernadeta Very Handayani, Citra Pertiwi, Erylbrina Baskorowati, Heida Yosiana, Jamaluddin Latief, Sri Qodariatun. Theodore Christanto patut diacungi jempol.
http://www.krjogja.com/news/detail/21080/Teater.Garasi.Pentaskan.Kembali.Je.ja.lan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar