Senin, 22 Februari 2010

Gairahku Hanya pada Perempuan Tua

Panggil saja aku Leo anak ke 3 dari 5 bersaudara. Aku dilahirkan di kota Semarang dengan keadaan keluargaku yang paspasan. Dan aku mengenyam pendidikanpun hanya tamat SMP. Sebenarnya otakku bagus, selalu masuk 3 besar di sekolah dari TK sampai SMP. Keinginan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hanya impian saja karena orangtuaku tak mampu membiayai. Maka kuambil keputusan untuk merantau ke ibu kota mencari kerja.

Aku bernasib baik, dapat pekerjaan yang cukup bagus walau bermodalkan ijazah SMP, sebagai penolong pengawas proyek perumahan. Tapi dari sini pula titik hitamku bermula. Aku pertama kali dipanggil sama direktur manager, Pak DD, di ruang kerjanya dengan perasaan deg-degan. Jujur, baru kali ini aku berjumpa sama bos, tapi setelah jumpa ternyata ia baik sekali dan hanya menanya tentang kerjaku. Suatu malam di saat aku santai lihat TV di ruangan satpam, tiba-tiba bos datang dan memanggil aku untuk ikut ke ruang kerjanya. Beliau minta aku memijit.

Oh iya pembaca bosku laki-laki, umur 50-an dengan 3 orang anak. Pertama kali memijit aku sedikit kaku. Sambil dipijit ia memuji kerjaku dan setelah habis ia memberi uang 50 ribu. Tentu saja aku girang sekali apalagi gajiku cuma 250 ribu, di tahun 1996. Lain hari, bila ada kesempatan pasti ia menyuruhku memijit lagi, tapi kali ini ia sambil

pasang VCD dewasa. Aku agak malu tapi ikut hanyut juga. Tiba-tiba saja ia bangun dan menidurkanku. Aku kaget dan menolak tapi bosku bisa menenangkan keadaan. Mungkin karena aku masih lugu waktu itu dan entah kenapa aku menurut saja. Ia memijit punggungku dengan belaian-lembut yang membuatku terangsang dan ia semakin berani memegang alat vitalku. Aku tak ingat lagi bila ku sadar semua telah terjadi. Sambil memakai pakaianku kembali aku menanyakan kenapa ia buat begitu. Bosku bilang bahwa ia sudah ga bisa berhubungan intim dengan istrinya. Habis itu ia memberi uang 300 ribu.

Pembaca, sejak kejadian itu aku jadi termenung dan kadang terpikir kenapa aku bisa menikmatinya padahal aku seorang lelaki normal dan pernah berpacaran sewaktu SMP dulu. Akhirnya kejadian itu berulang semula sampai 6 bulan

lamanya. Dan aku kemudian ambil keputusan untuk berhenti dengan alasan pulang kampung, tapi sebenarnya aku dapat kerja baru di sebuah restaurant kaki lima sebagai pelayan, gajiku di sini hanya 1/2 dari gajiku dulu tapi aku senang dan bisa

terlepas dari kerakusan pak DD.

Pembaca di tempat kerja baruku aku kenal dengan baby syster majikanku. Ia sangat baik dah aku memanggilnya Mbak Lis karena umurnya 35 tahun dah punya seorang anak seorang. Oh ya aku tinggal di rumah bosku yang baru di tingkat atas. Bosku selain usaha restaurant punya toko jadi karyawannya juga banyak dan smua tinggal jadi 1 di

tingkat atas, tapi aku paling deket dengan Mbak Lis dari pada pekerja lainnya.

Mbak Lis suka cerita tentang anaknya yang se umuran adikku. Kami slalu ngobrol di samping gudang belakang. Nah suatu hari Mbak Lis curhat tentang suaminya yang penganggur dan suka mabuk-mabukan, sambil nangis ia memelukku, aku coba menenangkan dan menyuruh bersabar. Tapi aku sendiri gugup jujur baru kali ini aku di peluk seorang wanita walau ia aku anggap sebagai kakakku. Kebetulan waktu itu tidak ada pekerja lain yang liat kami, dan Mbak Lis memandangku tepat di depan mukaku, aku dapat rasa hembusan nafasnya entah kenapa ia tiba tiba mencium bibirku aku bagai kena hipnotis terdiam dan bahkan memberi balasan. Untung kami mendengar suara orang memanggil Mbak Lis, dan meninggalkanku yang tengah kegairahan.

Pembaca, ternyata tak sampai disini hubungan kami dan terus berlanjut. Suatu hari ketika aku tengah mandi Mbak Lis memanggilku. Dengan memakai handuk aku tanyakan ada keperluan apa. Tapi belum sempat dijawab iya malah nyelonong masuk terus selanjutnya pembaca tahu sendiri. Semua terjadi begitu saja. Habis itu Mbak Lis bilang kalau slama ini merasa kesunyian. Ohh Tuhan kenapa aku jadi mangsa dia?

Pembaca, sejak saat itu kami sering sembunyi sembunyi melampiaskan kegairahan masing masing, sampai aku mengikuti orangtuaku ikut transmigrasi. Aku lalu mendaftar ikut Tamtama, tapi diseleksi akhir aku gagal karena tak mampu menyediakan uang yang cukup. Tapi aku sempat berkenalan dengan pembina kami yang berpangkat Sertu, dan sering membantunya membelikan rokok. Dari situ juga aku kenal dengan istrinya, Ibu SF.

Aku kemudian kerja di sebuah restoran, dan tidak sengaja bertemu dengan ibu SF, yang sering makan di situ. Dari pertemuan itu, kembali masa laluku, berintim ria dengan ibu SF. Tidak tahu mengapa selalu berakhir seperti itu. Apa mungkin karena wajahku yang memang tidak jelak dan tubuhku yang altetis?

Ibu SF bukan yang terakhir. Masih ada Mbak Lastri, Ibu Dewi, dan Mbak Retno. Semua perempuan separo baya. Dan kini, aku mulai lelah dengan semua dosa itu. Tapi pembaca, bukan aku tidak mau berhenti. Entah mengapa, kini aku tidak bisa lagi tertarik pada perempuan yang berusia sama atau lebih muda. Aku hanya bisa suka pada perempuan yang telah matang atau diatas 35 tahun. Pada mereka saja aku bergairah. Hal inilah yang membuat berkali-kali hubungan percintaanku gagal. Aku tidak berani serius berpacaran karena tak pernah merasa bergairah dengan perempuan muda.

Wahai pembaca, berilah saran bagaimana supaya aku dapat kembali ke jalan pangkalku, jalan yang wajar dan tidak bersentuh dosa. Buat redaksi Cempaka, tolong kemaslan tulisanku dan samarkan nama serta tempat asalku. Terimakasih.

1 komentar: