Senin, 22 Februari 2010

Dendam Mantan Suamiku


Perceraian, apa pun alasannya, adalah keputusan buruk. Namun, keputusan itu juga yang harus kuambil. Usiaku masih muda, masa depanku masih panjang, dan "menghambakan" diri pada seorang lelaki yang tidak tahu cara mencintai, adalah kebodohan. Aku pun bercerai. Dan bukan bebas. Penderitaan baru malah kian sering menghampiriku.

Aku bercerai setelah lima tahun menikah. Sebenarnya, hanya 3 tahun aku menikah dengan Farid, 2 tahun itu adalah masa pisah rumah, dan mengurus perceraian. Sebabnya satu, Farid selingkuh. Dia "bermain" di belakangku waktu tugas keluar kota, dan pulang ---tanpa sadar-- dengan beberapa bekas cumbuan di dada dan pundaknya. Aku marah, dan tak pernah lagi mempercayainya. Bagiku, komitmen adalah segalanya. Jika dia tidak menjaga, cerai adalah pilihannya.

Putusanku itu banyak mendapat tantangan. Dari orang tua, teman-teman, mertua dan adik-adik. Mereka minta aku memaafkan Farid. Tapi aku gak bisa. Cerai, cerai! Farid mencoba bertahan, tapi di pengadilan, aku kukuh. Talak pun jatuh.

Hidupku kemudian kurasakan lepas. Usiaku baru 28, karierku sedang bagus, pergaulanku luas. Aku tidak akan pernah kesepian. Dan kukira, status janda tidak seburuk yang ditakutkan ibu dan teman-temanku. Tak banyak godaan dari para lelaki. Teman-teman priaku juga tak pernah mencoba merayu. Semua biasa, tak ada pretensi kejandaanku mengganggu aktivitasku. Penderitaan justru datang dari mantanku.

Setahun setelah bercerai, aku dekat dengan Iwan. Lajang yang sudah matang. Kedekatan kami ke arah yang cukup serius. Iwan pun tahu statusku, janda. Tapi dia tertawa jika aku menyebutkan diriku janda. "Tanpa surat cerai itu, kamu tampak seperti gadis," pujinya. Dan dia tidak memasalahkan hal itu. Iwan pun aku kenalkan kepada orangtuaku. Mereka cukup suka, dan menerima. Kepada Iwan, aku pun jujur mengakui sebab perceraianku. Dengan begitu, Iwan jadi tahu, bahwa aku tidak bisa menerima perselingkuhan, sekali pun. Ia setuju dengan prinsipku. Dia bilang, jika kami menikah, punya anak, dan salah satu dari kami berselingkuh, kami bercerai dan anak menjadi ikut yang tidak berselingkuh. Aku sepakat.

Namun, "kegilaan" datang dari Farid. Suatu hari, dia mendatangi Iwan, dan mengajak bicara empat mata. Kepada Iwan, Farid menjelaskan mengapa dia "terpaksa" berselingkuh. Kata Farid, sewaktu dia menikahiku, aku telah tidak perawan. Selain itu, di awal pernikahan, Farid merasakan ada yang tidak beres denganku. Katanya, aku mengidap penyakit kelamin. Tiga bulan pernikahan awal kami adalah kerjakeras Farid mengantarku ke dokter kelamin untuk menyembuhkan penyakitku. Farid bahkan menambahkan, barangkali penyakit kotor itulah yang membuat sampai 5 tahun aku tidak hamil juga. Gila!

Iwan menceritakan hal itu. Kukatakan bahwa semua itu fitnah. Awalnya Iwan percaya. Tapi, makin ke belakang, dia selalu bertanya, mengapa aku tidak juga hamil? Pertanyaan yang membuatku merasa bahwa omongan Farid ternyata merasukinya. Bahkan, ketika akan berlanjut ke tunangan, Iwan meminta aku memeriksakan diri ke dokter, sebagai tanda bahwa aku normal dan bisa hamil. Tampaknya, dia takut bahwa apa yang diomongkan Farid itu benar.

Sebenarnya, aku bisa saja ke dokter dan memeriksakan diri. Hasilnya pasti aku bersih dan tidak ada gangguan dan bekas penyakit kelamin. Tapi, bukan itu masalahnya. Bagiku, begitu Iwan mulai ragu, pernikahan itu tidak layak diteruskan. Aku cukup tahu, Farid dan aku saja yang menikah tanpa keraguan, akhirnya bercerai. Apalagi jika Iwan menikahiku dengan keraguan dan selebihnya karena tidak enak dengan orang tua. Maka, dengan bersumpah di atas kitab suci, aku katakan bahwa semua omongan Farid adalah fitnah, dan kuputuskan hubunganku dengan Iwan. Dia minta maaf, dan memaksaku untuk terus melanjutkan hubungan. Tapi bagiku, semua sudah selesai, sudah finish!

Setelah itu kudatangi Farid, dan kepadanya kutanyakan apa maksud dia memfitnah seperti itu. Farid ternyata tidak rela aku menikah lagi. Dia memintaku kembali, dan jika aku menolak, "kamu akan tetap menjadi janda selamanya!" ancamnya. Tapi aku tidak takut dengan ancaman itu. Dan kembali padanya, setelah melihat satu lagi watak buruknya, tak menjadi satu pilihanku. Daripda kembali ke Farid, aku memilih jadi janda, meski selamanya.

Tapi barangkali, asmara tidak bisa jauh dariku. Setahun setelahnya, aku dekat dengan Makrus. Duda tanpa anak. Kami cepat nyambung. Dia cerai mati, istri dan anaknya kecelakaan tiga tahun sebelum dia kenal denganku. Tanpa proses yang panjang, hanya empat bulan, kamu sudah berpacaran. Kepada Makrus aku katakan semua "sejarah" hdiupku, termasuk kemungkinan si Farid akan menjatuhkan fitnah lagi. Makrus tertawa. Dia yakin Farid tidak akan berani main-main dengannya. Aku percaya, faktor usia Makrus yang lebih matang akan membuat dia dapat berpikir lebih jernih. Dia lalu meminangku, dan keluargaku menerima. Sehabis tunangan itu, ada beberapa kali Makrus setengah memaksaku untuk melakukan hubungan suami istri. Tapi dengan tegas aku menolak. Dia tampaknya cukup paham.

Dan Farid datang lagi. Kali ini fitnahannya tidak mempan. Makrus tertawa saja, dan tidak menanggapi Farid. Aku pun tambah memujanya. Hari pernikahanku tinggal soal waktu. Desain undangan dan sovenir mulai kami rencanakan, kebahagiaan di depan mata. Tapi, ternyata kesedihan lain datang. Tak cukup memfitnahku sendirian, Farid datang dengan Iwan. Dan Iwan yang kini menjatuhkan fitnah keji kepadaku. Kepada Makrus dia mengakui percaya pada semua omongan Farid. Itulah sebabnya dia tidak jadi menikahiku. Padahal, akulah yang tidak mau menikah dengan Iwan. Tak hanya itu, kepada Makrus, Iwan pun berkata telah puas berintim ria denganku. Dia bilang aku perempuan murahan.

Makrus tidak percaya juga. Tapi, ketika memesraiku, dia memaksa untuk intim. Aku menolak, tapi dia marah. "Ohh, kepada Iwan kamu mau, kenapa kepadaku menolak?!" Bagai disammbar petir aku mendengarnya. Kutampar dia, sekerasnya. Makrus mengatakan tidak akan pernah mengungkit masa laluku jika itu benar, tidak mengapa jika aku telah intim dengan Iwan. Dia menerima dan akan tetap menikahiku. Tapi, dia juga berharap aku tidak sok suci. Gila! Gila! Gila! Demi tuhan, Iwan tak pernah menyentuhku, menciumku pun tidak. Kenapa Makrus percaya? Kenapa lelaki selalu menganggap kalau aku begitu murah menyerahkan diri pada lelaki lain? Sambil menangis, aku lemparkan cincin pertunangan itu. Aku memutuskan berpisah.

Orangtuaku marah besar. Kakak dan adikku ngamuk. Mereka merasa malu, telah dua kali aku gagal menikah di saat yang begitu dekat. Tapi aku tetap pada pendirianku. Tak akan kuhancurkan masa depanku pada lelaki yang tak pernah percaya dengan diriku. Bagiku, kepercayaan, komitmen, adalah segalanya. Aku tak ingin, pernikahanku berakhir lagi. Cukuplah masa burukku dengan Farid sialan itu saja, dan tidak dengan yang lainnya. Aku percaya, Gusti Allah pasti telah mempersiapkan jodohku yang lebih baik dari Iwan, Makrus. Aku berharap, aku berdoa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar