Minggu, 21 Februari 2010

Palebon di Pantai Ngobaran, hadir lagi setelah 5 abad...

Kartowiyono (74), warga Desa Kanigoro, yang ditugasi menjaga Pura Segara Wukir, sebuah pura di Ngobaran, Gunungkidul, terlihat mengikuti prosesi Palebon di Pantai Ngobaran. Meski air mukanya nampak kuyu lantaran sejak pagi sibuk membantu menyiapkan prosesi upacara, ia tetap khusyuk. “Saya bukan dari [Gunung] Lawu karena saya ditugasi menjaga pura ini. Tapi sebagai umat Hindu saya mesti mengikuti upacara Palebon ini. Upacara ini jarang digelar di Ngobaran,” ungkapnya dengan suara lirih di sela prosesi.

Setelah diadakan upacara pembakaran mayat di Gunung Lawu, abu jenazah Romo Pandito Djajakoesoemo dan Ratu Pandita Estri akhirnya dilabuh di Pantai Ngobaran, Senin (15/2) malam, sebagai puncak dari Upacara Palebon.

Upacara Palebon yang dipimpin Pendeta Hindu Sri Kanjeng Begawan Istri Agung Ratu Gayatri diikuti anggota keluarga dari Romo Pandito Djajakoesoemo. Prosesi langsung digelar setelah rombongan dari Gunung Lawu tiba di Ngobaran sekitar pukul 20.20 WIB.

Pemuput upacara, Ida Pedanda Gede Putra Manuaba, mengatakan upacara tersebut tidak pernah diadakan lagi lebih dari 400 tahun lalu lantaran tingginya biaya penyelenggaraan. Terakhir diketahui Palebon digelar bagi Prabu Brawijaya sekitar akhir abad ke-15.

Seperti Ngaben, Palebon mempunyai makna menyerahkan kembali sukma dan jasad manusia ke asalnya. Upacara ini juga mengingatkan tentang keberadaan manusia hanyalah sebagian kecil dari alam semesta sehingga harus menjaga keselarasan alam sepanjang hayat.

Setelah Sri Kanjeng Bagawan Istri Agung Ratu Gayatri duduk menghadap lautan, mengenakan sebuah topi mahkota dan sesaji cukup lengkap, mulai dari nasi tumpeng sampai ingkung ayam, prosesi pun dimulai.

Selang satu jam, Pedande Gayatri melepaskan anak panah ke arah laut selatan sebagai simbol dikembalikannya zat panca mahabuta atau lima unsur yang membentuk jasmani manusia menurut kepercayaan Hindu.

Usai sembahyang selesai, dua abu jenazah yang selama proses sembahyang dilangsungkan dibawa anggota keluarga, dilarung ke Laut Selatan beserta sebagian sesaji yang telah disiapkan. Prosesi ini disebut Nga nyut.

Dia Pedanda menuturkan, Ngobaran dipilih karena pantai itu merupakan lokasi persembunyian Prabu Brawijaya dan para pengikutnya yang lari dari kejaran tentara Kerajaan Demak di akhir abad 15. Pelarian Prabu Brawijaya itu, kata dia, “Hingga akhir hayat.”

Rangkaian upacara besar Palebon ini sudah digelar sejak 11 Februari 2010 lalu. Upacara diawali dengan pengangkatan jenazah setelah 1.100 hari meninggalkan mendiang Romo Pandito Djajakoesoemo dari pemakaman. Usai dilakukan upacara Nganyut ini, kata Pedanda, rangkaian Palebon masih belum berakhir. Upacara akan dilanjutkan lagi dengan upacara Nyekah dan melinggihkan Daksina setelah anggota keluarga siap secara material dan telah ditentukan hari baik penyelenggaraan.
http://harianjogja.com/web2/beritas/detailberita/12285/hadir-lagi-setelah-5-abadview.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar