Senin, 22 Februari 2010

Aku Terpenjara Cinta

Sebelum aku bercerita tentang jalan hidupku yang kurasa sangat pahit ini, aku terlebih dulu memperkenalkan diriku. Namaku Mimi (32)dan belum dikarunia seorang anak pun, padahal usia perkawinanku dengan Mas Ratno telah memasuki tahun ke-9.

Mungkin persoalan itulah yang menyebabkan Mas Ratno meminta izinku untuk menikah kembali dengan seorang perempuan lain yang berprofesi sebagai perawat kesehatan di rumah sakit terkenal dibilangan Jakarta Selatan. Sebut saja namanya Rini dan mungkin karena ijinku itu pula aku akhirnya harus menjalani kehidupan seperti di penjara.

Pernikahanku dengan Mas Ratno sebenarnya merupakan cita-citaku sejak berkenalan dengannya. Mas Ratno menurutku adalah sosok pria yang nyaris sempurna, memiliki ketampanan, kecerdasan dan prilaku yang sangat santun serta kemapanan ekonomi. Dan selama mengarungi bahtera rumah tangga dengannya hanya sedikit persoalan yang kami hadapi, itupun sebatas masalah-masalah yang sepele, hingga aku tak pernah menyangka jika tabiat Mas Ratno bisa berubah seratus delapan puluh derajat.

Persoalan berat baru datang sekitar setahun lalu, saat kami belum juga memperoleh keturunan. Padahal segala cara telah kami lakukan termasuk mendatangi paranormal-paranormal terkenal yang kabarnya memiliki kemapuan untuk menyelesaikan permasalahn seperti persoalan yang aku hadapi. Ditambah saat itu keadaan ekonomi kami bisa dibilang tengah jatuh akibat PHK yang dialami Mas Ratno.

Sejak Mas Ratno di PHK perangai Mas yang semula santun, sedikit demi sedikit mulai berubah. Ia seringkali marah-marah tanpa alasan yang jelas, bahkan menuduhku sebagai penyebab semua persoalan yang ia hadapi. Mas Ratno pernah berujar jika saja kami telah memiliki momongan, mungkin keadaan tidak akan buruk seperti saat ini, karena anak menurut Mas Ratno bisa melindungi ia dari keputusan PHK. Sebuah ungkapan yang tak masuk akal menurutku.

Di tengah kesulitan ekonomi itu, Mas Ratno mengaku berkenalan dengan seseorang yang bisa membuatnya kembali bekerja. Dan tentu saja berita itu membuat hatiku senang, karena mungkin dengan bekerja kembali kehidupan rumah tangga kami akan kembali seperti sedia kala. Namun harapanku malah sebaliknya, perkenalannya dengan Rini menimbulkan permasalahan baru buatku.

Mas Ratno akhirnya memang kembali bekerja, dan akupun mulai kembali dinafkahi seperti sediakala, hingga keadaan ekonomi kami semakin membaik walau tak sebaik dulu. Beberapa bulan kemudian Mas Ratno berbicara serius tentang masa depan rumah tanggaku, intinya ia kembali mempersoalkan keberadaan anak di rumah kami. Dan sekali lagi aku bingung harus menjawab seperti apa, karena semuanya berada diluar kehendakku.

Dan karena jawabanku yang menurutnya tidak memuaskan itu ia akhirnya mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi. Hal itu jelas membuat aku terkejut, dan lebih terkejut lagi ketika mengatahui perempuan yang akan dinikahinya dalah Rini, perempuan yang memberinya pekerjaan di rumah sakit tempat ia bekerja. Kecurigaan yang selama ini kupendam ternyata memang betul-betul menjadi kenyataan.

Walau dalam hati aku tak akan pernah menginjinkan ia menikah lagi, saat itu terpaksa aku menganggukan kepalaku, tanda setuju. Sejak itulah Mas Ratno, aku dan Rini hidup seatap. Awalnya keadaan itu tampak baik-baik saja, kami selalu bisa mengatur waktu kami dalam melayani Mas Ratno, makan malam bersama dan melakukan kegiatan lain. Namun begitu hati ini seperti teriris menyaksikan kemesraan yang mereka tunjukan kepadaku..

Dan keadaan itu berubah drastis saat Rini dinyatakan positif hamil, rasa sayang dan perhatian Mas Ratno kepadaku mulai berkurang. Saat itu ia lebih memperhatikan Rini, memanjakannya bahakan tak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti yang biasanya kami lakukan bersama. Sejak itu pekerjaan seperti mencuci, membersihkan rumah, menyiapkan makan sampai memasak dibebankan semuanya padaku.

Terlebih ketika Rini telah melahirkan, pekerjaan rumahku semakin berat karena ditambah harus mencuci popok, menyiapkan susunya dan keperluan-keperluan lain. Dan Rini semakin hari semakin bertindak sewenang-wenang terhadapku. Ia seakan menganggapku seperti pembantu atau tepatnya seorang budak. Sementara suamiku justru malah mendukung sikap kesewenang-wenangan Rini terhadapku. Aku memang tak mampu berbuat apa-apa, selain berdoa mudah-mudahan keadaan ini cepat berubah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar