Rabu, 24 Februari 2010

Bedah Rumah Batal, Hidup di Kandang bebek

Gara-gara terlalu lugu menerima janji dari pemerintah, pasangan kakek-nenek, Sadiwarno, 90 dan Pasri, 87, kini harus nrimo untuk tinggal di kandang itik atau bebek. Pada 16 Februari lalu, kakek-nenek warga Dusun Dresel, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan/Kota Batu ini, mendapat janji gubuk bambunya yang reot akan dibedah esok harinya supaya menjadi layak huni.

Namun, hingga kemarin pemerintah setempat ternyata belum melakukan apapun untuk bedah rumah itu. Malahan, diperoleh informasi bahwa program bedah rumah oleh Pemkot Batu untuk warga miskin di sana mungkin baru akan dimulai paling cepat dua bulan lagi. Berarti, selama itu pula pasangan renta tersebut akan tinggal di kandang. “Pada 16 Februari lalu, kami didatangi Ibu Kepala Desa dan PKK Desa Oro-oro Ombo. Kami diberitahu bahwa besok (17 Februari, Red) rumah kami akan dibangun lebih bagus,” kata Mbah Pasri dengan nada pasrah, ketika ditemui Surya, Selasa (23/2).

Para tetangga yang mendengar penuturan tersebut dan keluarga pasangan Sadiwarno-Pasri sendiri, akhirnya beramai-ramai membongkar gubuk bambu reot milik kakek-nenek itu. Sadiwarno dan Pasri kemudian pindah ke kandang itik yang sudah tidak dipakai, persis di belakang rumahnya. Karena berpikir kepindahan itu hanya sementara sambil menunggu rumah selesai dibedah, keduanya merasa biasa-biasa saja meskipun harus tidur, makan, minum dan tinggal sehari-hari di kandang.

Bersama kedua kakek-nenek itu hidup juga anak angkatnya, Alimah, yang kini memiliki bayi yang baru berumur 1 tahun. Mereka berempat terpaksa harus berdesak-desakan tidur di kandang yang jauh lebih sempit dari rumah gedhek (anyaman bambu, Red) yang mereka tinggali sebelumnya.

Untuk menahan terpaan angin malam, kandang itu ditutupi potongan karung plastik dan beberapa lembar gedhek yang diambilkan dari sisa bongkaran gubuk mereka. “Kami berharap bantuan bedah rumah itu segera datang. Sehingga kami tak perlu berlama-lama di sini,” sela Alimah, yang sedang memasak di tungku batu yang juga ikut diungsikan ke kandang bebek itu. Ia sambil menggendong bayinya.

Kondisi rumah Sadiwarno-Pasri sendiri sebetulnya juga memprihatinkan. Bangunan gubuk yang mereka tinggali sejak tahun 1972 bisa dikatakan kalah `mentereng` dari kandang sapi milik tetangganya yang berada di seberang rumah.

Semua dinding rumah terbuat dari gedhek dan berlantai tanah, sedangkan kandang sapi milik tetangganya sudah berlantai semen. Kesan kumuh dan lusuh semakin terlihat jelas ketika wartawan Surya memasuki rumah gedhek yang sudah sebagian terbongkar itu. Dua kamar yang juga dipisahkan oleh sekat gedhek, tidak kalah kumuhnya karena bagian pintunya sudah dibongkar. “Sebelum ke kandang, ya di sinilah kami tinggal sejak membuka dusun ini,” ujar Sadiwarno, yang merupakan juru kunci Dusun Dresel, Desa Oro-oro Ombo.

Untuk seorang sesepuh yang dihormati warga Dusun Dresel itu, kehidupan pasangan kakek-nenek itu memang sangat menyedihkan. Namun sifat nrimo membuat mereka merasa biasa saja bertahan hidup di gubuk reot itu. Sehari-hari mbah Sadiwarno dan istrinya masih kuat bekerja sebagai buruh tani meski tidak rutin.

Kondisi rumah itulah yang kemudian mendorong pamong desa dan tim PKK setempat untuk memasukkan rumah Mbah Sadiwarno sebagai sasaran bedah rumah, yang diadakan Pemkot Batu tahun ini.

Sementara itu, Pemkot Batu hingga kemarin masih belum memutuskan siapa saja yang akan mendapatkan bantuan bedah rumah. Jumlah APBD Batu 2010 yang terbatas untuk program ini, hanya memungkinkan Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kota Batu membedah 16 rumah tahun ini. Padahal rumah tak layak huni seperti milik Mbah Sadiwarno bertebaran seantero Kota Batu. “Saat ini kami baru melakukan pendataan calon-calon rumah yang akan dibedah, yang diajukan oleh desa-desa,” ungkap Enny Rachyuningsih, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB, saat dikonfirmasi tentang program bedah rumah.

Dari pengalaman tahun sebelumnya, dana dari APBD untuk bedah rumah baru bisa dicairkan sekitar dua bulan setelah APBD disahkan. Itu artinya, kemungkinan kedua kakek-nenek ini harus tinggal lebih lama di kandang itik dari perkiraan mereka. APBD 2010 Kota Batu baru saja disetujui pekan lalu.

Rombongan Wali Kota Batu Edi Rumpoko yang berkunjung Selasa (23/2) sore ke Dusun Dresel, juga mengakui memang masih banyak warganya yang tak memiliki tempat tinggal layak. “Tetapi rombongan pemkot tidak sempat mampir ke rumah semua warga karena sudah sore. Hanya, pasti wali kota akan mengusahakan untuk mencari donatur guna membantu program bedah rumah. Mereka bisa berasal dari 60 perusahaan yang berada di Kota Batu,” beber Eko Suhartono, Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemkot Batu. Eko mengaku tak tahu kalau ada warga yang sudah terlanjur mengosongkan rumah untuk segera dibedah. “Nanti akan kami cek,” katanya.

http://www.surya.co.id/2010/02/24/bedah-rumah-batal-hidup-di-kandang.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar