Senin, 22 Februari 2010

Tuhan, Sadarkanlah Suamiku..

Aku menikah di tahun 1995, setelah berpacaran dua tahun lebih. Pernikahan ini aku yakini akan begitu berbahagia. Aku mengenal Pras sudah cukup lama. Dua tahun lebih memang masa kami berpacaran, tapi jauh sebelum itu aku sudah kenal dekat karena ia rekan sekantorku, hanya beda ruangan dan bagian. Jadi, siapa dia, siapa aku, kami sama-sama tahu. bekal itulah yang membuatku yakin untuk menikah dengannya.

Pernikahan kami memang bahagia. Berselang 2 tahun, putri kami lahir. Dan makin lengkaplah kebahagiaan kami. Seiring dengan itu, karier Pras juga membaik. Dia jadi punya posisi dan memiliki beberapa staf. Aku bahagia dengan perkembangan itu. Kami memang masih hidup sederhana. Tapi percayalah, kesederhanaan itu tak mengurangi rasa bahagia kami.

Ketika anak berusia 3 tahun dan sedang lucu-lucunya, saya sempat mendengar selentingan kalau suami ada "main" dengan salah seorang stafnya. Pergunjingan itu saya dengar selintas saja, tapi tak pernah saya gubris. Rasanya tidak masuk akal. Saya sekantor, dan pergi-pulang selalu bersama suami. Kapan dia sempat selingkuh? Lagipula teman kantor? Saya kenal semua teman kantor juga stafnya Pras, meski tidak terlalu akrab. Jadi, paling itu hanya gosip-gosip saja. Saya tidak ambil pusing. Saya percaya dengan suami.

Sampai pertengahan tahun 2000, ketika saya berbelanja keperluan kantor, dan mampir untuk makan siang ke sebuah restoran, saya melihat suami tengah makan bersama seorang stafnya. Deg! Saya langsung ingat semua gosip dan selentingan selama ini. Saya sempat lihat reaksi suami yang tampak kikuk dan sedikit gelisah. Perempuan itu yang tampak biasa, dan sempat melempar senyum kepada saya. Saya lega. Tidak mungkin perempuan itu bertingkah begitu alamiah kalau dia ada apa-apa dengan suami saya. Palingan suami saya cuma rikuh dan gak nyaman karena makan siang bukan dengan saya. Saya menepuk jidat, kenapa pikiran buruk cepat sekali datang? Segera saya usir semua ingatan akan gosip dan selentingan itu dari kepala saya.

Tapi, barangkali saya memang bodoh. Barangkali saya istri yang terlalu percaya pada suami. Nyatanya, setelah itu lebih dari 4 kali saya menjumpai mereka makan bersama di tempat yang berbeda-beda. Coba, siapa yang tidak curiga? Empat kali dengan perempuan yang sama?! Meski perempuan itu bersikap sama, ramah dan tersenyum, saya mulai mencium ada apa-apa di antara mereka. Selentingan dan gosip itu tampaknya benar. Tapi, saya mencoba tidak emosi. Saya berlaku wajar, dan setelah beberapa hari dari "keterpergokan" itu saya bertanya baik-baik kepada suami, apakah benar gosip yang selama ini beredar? Dan jawaban dia membuat saya kaget. Bukannya memberi penjelasan, dia malah marah besar. Marah semarah-marahnya. Belum pernah saya melihat dia marah sehebat itu. Tapi saya tidak mundur. Saya coba meminta dia jujur pada perasaannya. Saya tunjukkan bukti-bukti tentang gosip dan beberapa saksi yang melihat mereka bersama, juga saya sendiri yang 5 kali melihat mereka. Saya berharap dia berkata, "Kami hanya teman, rekan kerja!" Nyatanya, suami mengangguk. Dia membenarkan gosip itu. Tangis saya pecah.

Saya meminta suami untuk melupakan perempuan itu. Suami mengaku menyesal, dan akan berubah. Saya berdoa, dan berusaha makin memperhatikannya. Tapi, perubahan itu hanya kamuflase saja. suami saya dan perempuan itu tetap saja mabuk asmara. Tetap berhubungan seperti sedia kala. Karena dan ingin masalah ini berpanjangan, saya datangi perempuan itu. Saya katakan semua keberatan saya. Saya memang tidak menghakiminya, dan tidak emosi. Karena sepanjang pengakuan suami, mereka hanya masih berpacaran dan belum sampai berhubungan intim. Jadi, hubungan mereka belum terlalu jauh. Saya mencoba menyadarkan perempuan itu bahwa saya tidak ingin hubungan mereka jadi terlalu jauh. Saya tanyakan baik-baik, dan saya minta baik-baik agar dia menjauhi suami. Tapi jawabannya sungguh mengagetkan saya. Dia berkata sangat mencintai suami saya, dan siap menanggung apa pun demi hubungan mereka itu. Saya pun emosi. Mulai detik itu, apa pun saya lakukan untuk menjauhkan perempuan itu dari suami saya. Sampai akhirnya dia keluar dari kantor.

Tapi, keluarnya perempuan itu tak membuat suami saya sadar. Pras tetap saja nekad. Mereka tetap saja berhubungan. Saya marah, suami diam, tapi di belakang tetap saja berhubungan. Pernah saya tanya,apa yang kurang dari saya sehingga dia masih mencari perempuan lain. Jawaabannya sungguh memilukan dan tidak masuk akal. Dengan santai dia berkata, "Kucing itu dikasih ikan asin saja mau, apalagi diberi daging?" Gila! Suamiku memang sudah gila.

Selama ini saya masih bersabar. Tapi setelah membawa-bawa "kucing" itu, saya mengeluhkan soal itu ke ibu. Saya cerita panjang lebar. Bukannya lega, beban saya malah bertambah. Orang tua bilang itu hanya cobaan dalam rumah tangga, kelak akan berubah. Mereka juga berharap saya tidak menuntut cerai karena sebagai anak tertua dalam keluarga, saya harus memberi contoh kepada adik-adik. Tuhan, kenapa begini jalanku?

Saya lalu mencoba cerita ke orang tua suami. Hasilnya sama saja. Mereka lepas tangan dan tak mau mencampuri urusan rumah tangga kami. Lucunya, ketika tahun 2006 saya memiliki rumah sendiri, mertua malah ingin rumah itu diatasnamakan suami. Padahal, itu jerih payah saya. Jadi, bukannya membantu saya menghadapi tingkah anaknya,mertua malah merongrong saya.

Saya sudah hampir tidak kuat. Suami memang masih bertanggungjawab. Gajinya masih diserahkan kepada saya, meski saya tahu tidak semua. Karena sekantor, saya tahu jumlah gajinya. Jadi, saya tahu berapa yang tidak dia serahkan kepada saya. Meskipun bermasalah, saya juga masih melakukan kewajiban sebagai istri sebaik-baiknya, tidak mengeluh, dan selalu bersabar. Tapi, suami yang malah ingin bercerai. Saya minta, apakah itu sudah keputusan terbaik, dan sudah dipikir masak-masak? Dia diam. Dan sampai saat ini tidak pernah lagi dia mengungkit soal cerai.

Pembaca, saya capek. Meski suami selalu baik di depan anak-anak, dan kami pun tidakpernah bertengkar di depan anak, tapi saya tidak mampu lagi menghadapi hal ini. Berulangkali pikiran cerai datang ke benak saya. Tapi, selalu pesan orang tua saya terngiang, kalau mereka tidak ingin bercerai. Apalagi, mereka tahu suami masih selalu tidur di rumah dan berada di rumah dengan anak-anak. Suami hanya "mencuri" waktu untuk bersama perempuan itu. Dan saya tahu, kini pasti mereka telah berhubungan lebih intim daripada sekadar berpacaran.

Pembaca, dengan jalan apa saya dapat menyadarkan suami saya? Sungguh, perceraian belum jadi pikiran saya. Saya masih berharap dia sadar dan mau kembali pada keluarga ini. Saya juga tidak ingin adik-adik tahu dan saya menjadi contoh keluarga yang gagal di mata mereka. Lagipula, tidak ada yangpernah bercerai dalam keluarga besar kami.

Tolonglah Pembaca, berikan cara agar saya dapat menyadarkan suami yang sedang tersesat tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar