Sabtu, 20 Februari 2010

Polisi Buru Anjing Pengisap Darah

Menyusul kematian sejumlah kambing milik salah seorang warga karena diserang anjing pengisap darah membuat situasi Desa Sumbersekar Kecamatan Dau, Kabupaten Malang mencekam. Warga khawatir anjing itu akan menyerang hewan ternak mereka yang lain seperti anak sapi atau bahkan anak-anak mereka sendiri ketika bermain di luar rumah saat malam hari.

”Jika benar-benar anjing aneh itu suka mengisap darah bisa jadi anak-anak kami juga diserang hewan yang sama ketika bermain di sawah maupun di kebun,” ujar Rita, salah seorang ibu rumah tangga yang akhirnya membatasi anak-anaknya keluar rumah setelah kejadian itu, Kamis (18/2).

Masih simpang siurnya berita tentang penyebab kematian kambing milik warga bernama Surateman memunculkan berbagai kekhawatiran di benak warga. Apalagi insiden serupa juga terjadi pada 2009 di mana 42 kambing juga mati diisap darahnya. Apalagi petugas Polsek Dau maupun aparat pemerintahan di Kecamatan Dau belum pernah memberikan penjelasan rinci tentang hewan pengisap darah tersebut. ”Tak ada yang bisa memastikan itu makhluk jenis apa. Yang hanya bisa kami lakukan saat ini menggiatkan ronda malam,” beber Awi, tetangga Surateman.

Sejak kejadian yang menimpa kambing Surateman, warga Desa Sumbersekar secara bergiliran terus melakukan ronda. Tujuannya selain untuk menjaga agar kambing warga lain tetap aman, warga juga ingin menangkap hewan penyebab biang kerok matinya puluhan kambing di desa mereka sejak tahun lalu itu. ”Kami juga akan memasang perangkap di beberapa kandang yang letaknya jauh dari pemukiman warga. Dengan begitu saat hewan itu mulai mencari mangsa lagi kami bisa menangkapnya,” ujar Awi.

Beberapa warga mengaku pernah melihat hewan pemangsa itu melintas di jalan desa. Bahkan diantaranya pernah menjaring anjing itu, tetapi lepas dan berhasil melarikan diri. ”Saya tak melihat jelas karena waktu itu malam hari. Tetapi yang pasti, hewan itu seekor anjing yang badannya lebih besar daripada anjing kampung yang pernah saya lihat dengan bulu mengkilat,” ungkap Suwaji, yang mengaku pernah melihat anjing pemangsa itu.

Namun Suwaji sendiri tak sempat memperhatikan taring anjing itu secara cermat. Sehingga dirinya tak bisa mendiskripsikan panjang taring anjing itu. Tetapi dirinya yakin, anjing yang ditemuinya itu adalah anjing yang mengisap darah ternak selama ini. ”Lolongannya sangat khas sekali. Dan hampir sama dengan lolongan dengan yang saya dengar saat ada kejadian itu,” katanya.

Sementara itu Kapolsek Dau, AKP Fatkur Rahman, berharap warga tak termakan isu-isu menyesatkan apalagi saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan khusus. Bahkan kandang kambing itu pun telah didatangi tim Labfor Polda Jatim, dengan harapan bisa mencari tahu hewan apa yang menyerang 12 kambing itu. “Kami juga telah membawa kambing yang masih hidup untuk diperiksa di dokter hewan. Hasil sementara menyebutkan jika gigitan tak mengandung racun maupun rabies. Tetapi tubuh bagian tusukan taring hewan itu, sudah mulai hancur dan membusuk, dimungkinkan kambing tak berumur panjang,” beber Fatkur.

Dosen Bingung

Tak hanya warga desa, fenomena matinya banyak ternak kambing di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang secara misterius itu juga membuat kalangan akademisi kebingungan. Beberapa dosen tak mampu menjelaskan peristiwa ini dengan teori ilmiah, namun ada juga yang punya dugaan sendiri.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Hermanto, yang juga mengepalai peternakan percontohan milik UB di Desa Sumbersekar, mengaku sudah melihat kondisi fisik beberapa kambing yang tewas karena diisap darahnya itu. Menurutnya, menilik luka pada kambing tersebut, kambing tersebut tewas akibat diserang oleh hewan. ”Hanya saja, saya tidak tahu, hewan apa yang nggigit kambing itu,” kata Kepala Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan UB ini.

Soal dugaan bahwa anjing pengisap darah itu adalah chupacubra seperti terjadi di sejumlah negara lain, Hermanto mengaku masih asing dengan nama itu. Ia juga mengatakan, chupacubra, atau mitos anjing penghisap darah, belum familiar di dunia peternakan.

”Untuk mencari tahu dalangnya, seharusnya sudah melibatkan polisi. Meskipun yang mati hanya kambing, tapi ini sudah meresahkan warga,” kata Hermanto yang mengaku makin penasaran, karena hewan-hewan di dalam peternakan UB yang tidak jauh dari lokasi, tidak ikut diserang.

Lain dengan Hermanto, Pembantu Dekan III Fakultas Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Muchammad Sobri, punya teori sendiri. Ia meyakini bahwa kambing-kambing tersebut diserang oleh wolfpack, alias gerombolan serigala. ”Sekitar setengah tahun lalu, sebenarnya saya sudah banyak mendapat pertanyaan kasus serupa dari peternak di Dau. Lantas saya pelajari, dan saya yakin itu aksi kawanan serigala,” yakin Sobri.

Dugaan Sobri itu didasarkan atas peristiwa turunnya babi hutan dari hutan di lereng Gunung Panderman ke perumahan warga desa, beberapa bulan silam. Sobri menduga, turunnya babi hutan itu akibat kerusakan ekosistem atau habitat asal mereka. ”Nah, akibat ekosistem rusak, rantai makanan juga rusak. Babi hutan pergi dari hutan, serigala pun jadi kehilangan mangsa utama mereka, sehingga mereka turun gunung berburu makanan,” urainya.

Menurut Sobri, cara serigala memangsa buruannya, memang dengan menggigit kepala atau tengkuk mangsa, sampai kehabisan darah terlebih dulu. Baru setelah itu, biasanya, serigala akan merobek perut sebelum akhirnya mengincar organ dalam (jerohan) mangsanya itu.

Namun, teori Sobri ini mentah karena sepuluh kambing yang tewas semuanya dalam keadaan utuh. Tidak ada satu kambingpun yang tewas karena diambil organ dalam atau terkelupas dagingnya.

Sementara itu, dosen Fakultas Kedokteran Hewan, drh Arimbi M Kes, juga mengaku tidak bisa menjelaskan fenomena ini dengan kajian ilmiah. ”Dari cerita Anda, ini peristiwa langka. Kalaupun terkena penyakit, pasti sebelumnya ada tanda perubahan fisik atau perilaku pada hewan ternak, tidak mati begitu saja,” kata pakar bidang patologi (analisa penyakit melalui perubahan fungsi dan keadaan tubuh) ini.

Arimbi juga mengaku, belum mendengar nama chupacabra sebelumnya. Menurutnya, terlepas dari ada atau tidak, makhluk ini belum diakui secara ilmiah di dunia veteriner.

Sementara itu sejumlah situs internet sebenarnya telah lama memuat cerita seputar anjing pengisap darah yang ditemukan di sejumlah negara.

Situs Wikipedia menyisalnya menggambar anjing pengisap darah itu sejenis coyote atau serigala abu-abu yang mempunyai tinggi badan kurang dari 0,6 meter dan memiliki kulit keabu-abuan dan alur punggung dari dekat leher hingga ekor.

Telinga anjing ini dan hidungnya panjang dan lancip, khususnya dibandingkan ukuran kepala. Berat antara 34 hingga 57 kg. Anjing ini dapat diidentifikasikan melalui ekor yang tebal dan berbulu lebat, yang seringkali dibiarkan menjuntai ke tanah.Berdiri atau melompat seperti kanguru. Paling tidak satu penampakan menceritakan bahwa ia melompat setinggi 6 meter. Kesaksian lain menyebutkan makhluk menyerupai panther. Bila sedang mengejar mangsa, anjing liar ini dapat mencapai kecepatan hingga 69 km/jam

http://www.surya.co.id/2010/02/19/polisi-buru-anjing-pengisap-darah.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar