Kamis, 18 Februari 2010

Gunung Kelir, Tempat Ritual Pesinden Yang Ingin Ngetop

WALAU profesi ini sudah tidak popuper seperti jaman dahulu, namun menjadi seorang sinden masih banyak digemari oleh beberapa orang, apalagi perempuan di desa. Bagi yang ingin jadi pesinden kondang sekondang Waljinah dan karir sindennya cepat melejit, tempat ini konon dipercaya bisa membantu para pesinden agar bisa ngetop.
Tempat ini bernama Gunung Kelir, merupakan sebuah hutan bukit cadas seluas kurang lebih 1 hektar yang terletak di Desa Plered, Bantul, Yogyakarta, sekitar 30 km sebelah selatan kota Budaya ini. Nama Kelir diambil dalam bahasa Jawa, merupakan sebuah kain putih yang panjang dan lebar yang sering dipergunakan para dalang sebagai layar dalam pegelaran wayang kulit.
Kepada KRjogja.com, Surakso Sumarno (47) juru unci Gunung Kelir menuturkan, dahulu Gunung kelir merupakan tempat tinggal seorang dalang kondang bernama Ki Panjang Mas berserta istrinya Ratu Malang. “Mereka berdua menghabiskan seluruh hidupnya di Gunung Kelir ini. Ki Panjang Mas adalah seorang dalang wayang kulit yang kondang, sedangkan Ratu Malang adalah pesinden yang memiliki suara indah,” terang Surakso Sumarno.
Kedua pasangan serasi dalang dan sinden ini hidup pada jaman Kerajaan Mataram Kuno (sebelum sekarang menjadi Kerajaan Mataram Jawa. red). Pada saat itu, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh seorang raja bengis yang doyan kawin bernama Raja Amangkurat I.Sejarahnya, pada suatu saat dalang Ki Panjang Mas beserta Ratu Malang diundang Raja Amangkurat I untuk mementaskan wayang di Kerajaan Mataram yang saat itu masih bertahta di kawasan Plered, Bantul, Yogyakarta.
Sang raja kagum oleh permainan wayang Ki Panjang Mas. Selain piawai memainkan tokoh wayang, Ki Panjang Mas juga terkenal sebagai dalang sakti. Saking saktinya, wayang yang ditata di pelepah pisang di depan si dalang bisa bergerak-gerak sendiri bermain di kelir, tanpa dimainkan oleh si dalang, Ki Panjang Mas.
Selain permainan dalang, Raja Amangkurat I juga terkesima dengan lantunan merdu tembang-tembang yang dinyanyikan oleh Ratu Malang. Disamping memiliki suara yang merdu, Ratu Malang juga memiliki paras yang cantik nan rupawan khas perempuan Jawa. Sejak itulah Amangkurat I mulai jatuh hati kepada pesona Ratu Malang. Sifat doyan kawin Raja Mataram ini mulai timbul, Amangkurat I pun melalui utusannya berusaha mencari tahu tentang pesinden cantik yang telah menggetarkan hatinya ini.
Melalui Tumenggung Truno utusannya, akhirnya Amangkurat I mengetahui bahwa Ratu Malang merupakan istri sah dari Ki Panjang Mas dan tinggal di Gunung Kelir tak jauh dari kerajaannya. Walau telah mengetahui kalau wanita yang membuatnya mabuk asmara tersebut sudah menjadi istri orang, namun niat Amangkurat I untuk mempersunting Ratu Malang tidak surut.
Melalui Tumenggung Truno, Amangkurat I meminta kepada Ki Panjang Mas untuk menyerahkan Ratu Malang kepada dirinya. Sebagia gantinya, kerajaan Mataram siap menggantinya dengan puluhan selir atau perawan cantik dari kerajaan.
Namun, tawaran itu tidak diterima oleh Ki Panjang Mas, dirinya tetap mencintai dan mempertahankan istrinya, Ratu Malang. Merasa titahnya disepelekan oleh rakyatnya, Amangkurat I memerintahkan Tumenggung Truno untuk merebut paksa Ratu Malang dari suaminya, Ki Panjang Mas.Saking saktinya Ki Panjang Mas, dengan berbagai cara Tumengung Truno gagal merebut Ratu Malang. Akhirnya cara licik dipergunakan patih kerajaan Mataram ini untuk mendapatkan permintaan tuannya tersebut.
Dari belakang, punggung Ki Panjang Mas dilempar tombak oleh Tumenggung Truno hingga tembus sampai jantung. Ki Panjang Mas dibunuh pada saat malam hari ketika dirinya sedang latihan mendalang di Gunung Kelir, tewaslah Ki Panjang Mas saat itu juga dan Ratu Malang segera dibawa lari ke Kerajaan Mataram. Sebelum mati, dalang sakti ini sempat mengutuk sang Raja Amangkurat I, dirinya bersumpah bahwa Kerajaan Mataram akan mengalami kehancuran dan rajanya akan mati dalam kehinaan.
Sekedar mengingatkan, kutukan dalang sakti Ki Panjang Mas terbukti, pada masa pemerintahan Amangkurat I timbulah banyak pemberontakan, salah satu pembrontakan yang terbesar yaitu yang dilakukan oleh bangsawan Madura yang dibantu oleh Kraeng Galesong, bangsawan dari Makasar.
Pemberontakan ini membuat keraton Mataram menjadi terpecah, Amangkurat I pun melarikan diri. Dalam pelariannya, Amangkurat I tewas dalam pelariannya di Tegalwangi, Tegal, Jawa Tengah. Ditinggal pergi rajanya, akhirnya Kerajaan Mataram pecah menjadi 3 bagian yang akhirnya ditandai dengan perjanjian Giyanti.

Sendang Keputren

Kembali ke kisah Ki Panjang Mas, dalang sakti ini kemudian oleh Tumenggung Truno dimakamkan di puncak Gunung Kelir, sedangkan Ratu Malang diboyong ke Kerajaan Mataram dan dipersunting oleh Amangkurat I. Belum sempat Amangkurat I menggauli istri barunya ini, Ratu Malang keburu tewas. Ratu Malang tewas dengan cara bunuh diri dengan meminum racun ramuannya sendiri.

Ratu malang pun akhirnya dimakamkan juga di puncak Gunung Kelir bersebelahan dengan makam suaminya, Ki Panjang Mas. Seluruh pakaian mendiang sinden cantik ini dikubur secara terpisah dari jasadnya. Konon, dari pakaian Ratu Malang yang dikubur di dalam tanah ini kemudian muncul menjadi sebuah mata air yang kemudian dinamakan Sendang Keputren. “Sendang Keputren ini muncul menjadi mata air kerena pakaian milik Ratu yang dipendam di dalamnya,” kata Surakso Sumarno.

Ditambahkan juga oleh ayah 4 orang anak ini, Sendang Keputren memiliki khasiat yang ampuh, khususnya bagi mereka yang ingin menjadi seperti Ratu Malang. Artinya, bagi mereka yang ingin menjadi pesinden yang terkenal seperti Ratu Malang bisa memanfaatkan tuah khasiat dari Sendang Keputren ini.

Caranya, seorang calon pesinden harus mandi di Sendang Keputren ini. Kemudian setelah mandi, seorang calon pesinden harus memanjatkan permohonannya di hadapan pusara makam Ratu Malang dan Ki Panjang Mas yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari Sendang Keputren.

Ketika memanjatkan doa dan permohonan di pusara kedua dalang dan sidnen ini, ada yang wajib peritual bawa sebagai sesaji. Diantaranya berupa kembang setaman, dupa atau kemenyan dan juga membawa bedak serta cerutu dan kopi. Bedak merupakan alat rias yang sering digunakan Ratu Malang ketika akan pentas, sedangkan kopi dan cerutu adalah merupakan janis rokok kegemaran serta minuman kesukaan dari Ki Panjang Mas. “Kalau terkabul, nanti pesinden tersebut akan dinampaki wujud Ratu Malang atau mendengar suara gaib dari Ratu Malang yang memerintahkan calon sinden tersebut untuk nembang Jawa.”

Dikatakan oleh Surakso Sumarno, kadang suara gaib Ratu Malang ini akan memerintahkan calon sinden untuk melantunkan tembang Jawa untuknya, nanti kalau nada atau cengkoknya salah, suara gaib Ratu Malang akan membetulkan tembang tersebut. “Dari bawah Gunung Kelir ini, kadang warga sering mendengar seperti orang yang sedang berlatih nembang Jawa, seperti seorang guru mengajarkan kepada muridnya. Suarnya terdengar sahut-sahutan,” kata Surakso Sumarno yang rumahnya tepat di kaki Gunung Kelir.

http://www.krjogja.com/news/detail/20744/Gunung.Kelir..Tempat.Ritual.Pesinden.Yang.Ingin.Ngetop.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar