Kamis, 18 Februari 2010

Imlek, Mereka yang Untung dan Buntung

Hari Raya Tahun Baru Imlek tidak hanya ditunggu-tunggu oleh mereka yang merayakannya. Bagi pedagang musiman, hari raya ini adalah momen mengais peruntungan. Mereka berspekulasi menjajakan aneka kebutuhan hari raya di sekitar kelenteng. Ada yang menjual bunga, burung, lilin, mainan anak-anak, hingga amplop. Tidak semua pedagang untung, ada juga yang buntung.

Sejumlah penjual bunga di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Pusat, mengaku mengalami penurunan pendapatan pada Tahun Baru Imlek 2651, hingga mencapai 50 persen dibanding tahun sebelumnya."Modal saya Rp 5 juta, tapi uang yang balik ke saya sekarang baru Rp2 juta. Rugi besar saya sekarang, jauh `banget` penurunan pendapatan dari tahun lalu, mungkin sampai 50 persen," tutur Oman, penjual bunga yang menggelar dagangannya di depan pintu masuk Vihara Dharma Bakti, Jakarta, Minggu (14/2/2010).

Menurut Oman, penurunan pendapatan tersebut disebabkan banyaknya kompetitor dadakan yang berdagang bunga di tempat itu juga. Selain itu, katanya, kebanyakan pengunjung yang yang merayakan Imlek sepertinya sudah tidak tertarik lagi untuk membeli bunga sebagai wujud persembahan pada saat bersembahyang. "Ada juga pengunjung klenteng yang udah bawa bunga dari rumahnya," imbuh Oman.

Di kawasan Petak Sembilan, Glodok terdapat tiga vihara (klenteng) yakni Vihara Dharma Bakti, Vihara Dharma Jaya dan Vihara Dharma Sakti. Berbeda dengan para penjual bunga, nasib baik menghinggapi para penjual burung. Menurut salah satu penjual burung pipit, Rahman, yang mengaku bisa meraup keuntungan hingga Rp 5 juta.

Satu burung pipit, kata Rahman, dihargai Rp 1.000 dan biasanya pengunjung membeli dalam jumlah yang banyak. Burung-burung tersebut kemudian dibebaskan dari sangkarnya menuju udara bebas. Pelepasan burung merupakan salah satu tradisi dalam perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Minggu, 14 Februari 2010. "Satu orang aja bisa membeli 200 burung, jadi langsung dapat uang Rp200 ribu. Hari ini rezekinya lagi bagus. Kalau stok burung habis, nanti ditambah lagi," tutur Rahman.

Di Kawasan Petak Sembilan, bukan hanya pedagang burung dan bunga yang berdagang tetapi pedagang mainan anak-anak, amplop, dan lilin, juga terlihat di sana. Namun, jumlahnya tidak seberapa dibandingkan penjual bunga dan penjual burung.

Kawasan Petak Sembilan sendiri yang pada hari-hari biasa dipenuhi dengan aktivitas jual-beli, pada saat Imlek justru terlihat sepi. Delapan puluh persen toko tutup pada perayaan Tahun Baru Imlek. Hanya pedagang sayur mayur, buah, dan daging saja yang terlihat masih berjualan. Namun demikian, tidak terlihat banyak pembeli barang dagangan tersebut. Sedikitnya jumlah toko yang buka disebabkan mayoritas pemilik toko adalah warga Tionghoa yang pada hari itu ikut merayakan Tahun Baru Imlek.

Dipadati warga

Sementara itu, ribuan pengunjung yang mayoritas merayakan Imlek terlihat silih berganti memadati Kompleks Vihara Dharma Bakti sejak Sabtu (13/2/2010) malam hingga Minggu siang untuk melakukan sembahyang. Dalam waktu satu jam, pengunjung yang datang bisa mencapai 100 orang. Di halaman dalam vihara, para pengunjung berdesakan untuk melakukan sembahyang. Orang sulit bergerak di dalam kerumunan pengunjung yang berdesakan.

Pada kesempatan terpisah, pengurus Vihara Dharma Bakti, Herman mengatakan, sekitar dua ribu umat Buddha, Konghucu, dan Tao mengunjungi Vihara Dharma Bakti pada hari raya Tahun Baru Imlek 2561. "Puncak datangnya pengunjung kira-kira pada pergantian tanggal 13 Februari dan 14 Februari. Kira-kira 2.000 orang bisa memenuhi Jl Petak Sembilan, sampai untuk lalu lintas orang berjalan saja penuh sesak," kata Herman.

Pemandangan yang berbeda terlihat di Vihara Dharma Jaya yang terletak sekitar 200 meter dari Vihara Dharma Bakti. Di vihara tersebut jumlah pengunjung jauh lebih sedikit dari jumlah pengunjung Vihara Dharma Bhakti. Suasana lengang terlihat di pelataran dan di dalam Vihara Dharma Jaya.

Menurut Pengurus Vihara Dharma Jaya Komari, pengunjung di viharanya tidak terlalu banyak karena terdapat perbedaan Dewa Penjaga atau "Tuan Rumah" dari kedua vihara yang tergolong tertua di Jakarta tersebut. "Vihara Dharma Bakti itu Tuan Rumahnya Dewi Kwan Im. Nah, Dewi Kwan Im itu adalah yang paling dikenal orang banyak, makanya banyak orang pergi sembahyang ke sana," kata Komari.

Vihara Dharma Jaya sendiri memiliki Tuan Rumah yaitu Dewa Cheng Goan Cheng Kun, yang tidak begitu populer dibandingkan Dewi Kwan Im. Padahal, menurut Komari, di Vihara Dharma Jaya juga disediakan rupang Dewi Kwan Im untuk yang ingin berdoa melalui Dewi Kwan Im.

Sementara itu, pengunjung bukan saja berasal dari kalangan penganut aliran Buddha, Konghucu, dan Taoisme saja, melainkan juga turis dan rakyat biasa. Alasan mereka datang karena ingin melihat para penganut aliran Tridharma tersebut untuk berdoa. Ada pula yang sengaja datang untuk menyaksikan pertunjukan Barongsai. Namun, ternyata Vihara Dharma Bakti tidak menyajikan pertunjukan barongsai pada saat Tahun Baru Imlek. Beberapa pengunjung yang merupakan orang awam merasa kecewa.

Arak-arakan Barongsai dan Liong rencananya akan diadakan pada saat Cap Go Meh (hari ke-15) yang akan jatuh pada tanggal 28 Februari. Vihara Dharma Jaya akan membuat rute yang cukup panjang untuk perarakan Barongsai dan Liong tersebut yaitu dari Jl Petak Sembilan akan menuju ke Jl Fatahilah dan Olimo, kemudian kembali lagi ke Jl Petak Sembilan.

Vihara Dharma Bakti dan Vihara Dharma Jaya didirikan pada tahun yang berdekatan, sekitar tahun 1600-an. Kedua vihara ini sempat dibakar oleh Belanda pada tahun 1740, namun berhasil dibangun kembali pada tahun 1750. Satu vihara lainnya, yakni Vihara Dharma Sakti juga berada di kawasan Petak Sembilan.

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/14/16143557/Imlek..Mereka.yang.Untung.dan.Buntung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar