Senin, 08 Februari 2010

Undis, si Kuli Panggul Berseragam Hijau Muda

Sejumlah pria berkaus hijau muda tampak bersliweran di Pasar Blok A Tanah Abang, Kamis (4/2/2010). Kaus hijau muda yang mereka pakai tampak serupa namun tak sama. Yang membedakan adalah nomor dan nama yang tertera di kaus hijau muda itu. Masing-masing pria memakai kaus dengan nomor berbeda yang memuat nama masing-masing kuli panggul.

Rupanya, kaus hijau muda yang dipakai Undis (22), salah seorang kuli panggul Pasar Blok A Tanah Abang, merupakan seragam yang menunjukkan identitas kuli angkut gedung Pasar Blok A Tanah Abang, Jakarta. Dikatakan Undis, kaus tersebut dibelinya dengan harga Rp 400.000 pada awal dia memulai profesinya sebagai kuli panggul. "Beda-beda Mbak warnanya. Kalau di Blok A, hijau muda, di Metro, warnanya kuning seperti itu," kata Undis sembari menunjuk seorang kuli panggul berkaus kuning yang melintas di Pasar Blok A Tanah Abang, Kamis.

Meskipun harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan kaus itu, Undis tidak menyesal karena menurutnya seragam yang dia pakai menunjukkan identitasnya, membuat pelanggan percaya, dan mempermudah pertanggung jawaban kuli jika ada kehilangan barang. "Kan identitas kami sudah dicatat juga Mbak," katanya. Kaus seragam itu juga membatasi wilayah kerja para kuli panggul. "Kalau nggak pakai kaus, nggak bisa ke sini. Kalau kaus ijo (hijau, kuli panggul Blok A), nggak boleh ke Metro," ujar pria asal Bogor itu.

Berdasarkan cerita Undis, para kuli panggul di gedung pertokoan Tanah Abang rupanya diawasi oleh beberapa mandor. Setiap harinya, sang mandor menerima iuran Rp 3.000 dari tiap orang kuli. Meskipun sistem kerja kuli panggul di Pasar Blok A Tanah Abang terlihat cukup modern dengan adanya seragam dan mandor, jaminan keselamatan kerja untuk para kuli ternyata biasa-biasa saja. Ketika para kuli sakit atau kecelakaan saat mengangkut barang yang berkilo-kilo beratnya, para kuli tak mendapat uang kesehatan dari manajemen. "Biasanya patungan Mbak, dimintain satu-satu, pete-pete," ujar Undis.

Pekerjaan kuli panggul seperti Undis bisa dibilang sangat berat dan berisiko. Undis dan teman-temannya yang bekerja sejak pukul 07.00-16.00 itu mengaku sering kesakitan usai bekerja. "Badannya sakit-sakit tapi sudah risiko itu mah. Sedih juga kalau lagi nggak ada pelanggan," tutur Undis, ayah dua anak itu.

Penghasilan tak menentu yang mereka dapat pun tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang mereka alami. Dalam sehari minimal Undis mendapat Rp 40.000 di hari-hari biasa. Namun, di hari sibuk belanja seperti jelang hari raya lebaran, Undis mengaku bisa mendapat Rp 200.000 setiap harinya tergantung kebaikan hati si pelanggan.

Jika ada kesempatan dan modal yang cukup, Undis pengin beralih profesi. "Pengin dagang lagi kalau ada modal. Dulu dagang sayuran di Depok tapi bangkrut. Lari ke sini deh," ucap Undis. Namun, seberat apapun pekerjaannya saat ini, Undis masih mengucap syukur atas apa yang diberikan Tuhan. "Untung masih ada pekerjaan, Alhamdulillah," tutur si kuli panggul itu.

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/02/04/15025531/Undis..si.Kuli.Panggul.Berseragam.Hijau.Muda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar