Kamis, 11 Februari 2010

Ibu-ibu Panik Korban Facebook

Maraknya kasus remaja kabur bersama pacar yang baru dikenal melalui Facebook, membuat para orangtua (ortu) cemas. Apalagi korban terus berjatuhan. Setelah siswi SMPN di Sidoarjo, Marieta Nova Triani, 13, kini giliran siswi SMA 22 Surabaya, Stefani Abelina Napitupulu, 15, menghilang sejak Sabtu (6/2) dan hingga Rabu (10/2) belum ditemukan.

Kecemasan akan dampak negatif Facebook itu menjadi topik perbincangan orangtua, terutama ibu-ibu. Evie Suryani, 42, sengaja menambah (add) teman-teman anaknya. Cara ini untuk memudahkan dia mengawasi pergaulan kedua anak perempuannya, Mevira Bafaradina Yanuar, 15, dan Meviana, 13, yang maniak Facebook. “Harus begitu jadi orangtua zaman sekarang. Harus mengenal teman anak-anak juga,” kata Evie kepada Surya, Rabu (10/2).

Bukan itu saja, Evie juga selalu menemani ke mana saja Mevira dan Meviana bepergian. Setidaknya Evie harus memantau mereka. Keluarga Evie termasuk melek teknologi. Komputer di rumah terpasang dengan jaringan internet dengan pembayaran bulanan. Kedua ponsel anak tersambung dengan GPRS, sistem mengakses internet. Serta BlackBerry (BB) milik Evie senantiasa on untuk Facebook dan instant message (IM).

Evie sengaja meletakkan komputer di ruang tengah supaya dapat diakses seluruh penghuni rumah. Selain itu, dia dan suami lebih mudah mengawasi anak-anak. “Saya ingat perkataan teman yang paham parenting. Mereka bilang sebelum usia 20 tahun, jangan pernah meletakkan televisi, DVD player, atau komputer di kamar anak,” kata Evie.

Kedua anak Evie dibatasi akses internet via komputer. Hanya dua jam selama waktu libur saja. Syaratnya masih ditambah harus sudah mandi dulu. “Kalau tidak begitu, mereka lupa mandi dan makan begitu asyiknya buka Facebook,” ujar Evie.

Sesekali Evie melirik layar komputer. Kalau pas akun Facebook, Evie menghampiri mereka dan bertanya foto siapa yang anak-anak buka, apa yang sedang dilakukan temannya itu. Baik Mevira dan Meviana juga saling mengawasi penggunaan komputer. Jika lebih dari dua jam, maka mereka saling melaporkan ke orangtuanya. “Pernah bayar sekitar Rp 400.000-500.000, saya tegaskan tidak mau bayar. Akhirnya mereka menguras isi tabungannya sendiri,” tutur Evie sambil tertawa mengingat sikap anak-anaknya. Setidaknya itu melatih tanggung jawab mereka.

Diakui Evie, akses FB melalui GPRS ponsel tidak bisa diawasi setiap saat. Namun, karena terkait penggunaan pulsa, mereka lebih sering memakai BB milik Evie. Kecemasan para orangtua juga sangat dirasakan Maria Kristina, guru Bimbingan Konseling (BK) SMPK Stella Maris Surabaya. “Banyak orangtua mengeluh anaknya sekarang sibuk SMS-an sampai malam. Ke kamar mandi pun ponsel tetap dibawa,” cerita Maria, Rabu (10/2).

Yang membuatnya sedih, sebagian orangtua menganggap anaknya ‘hanya’ SMS-an. Padahal, bisa saja mereka sedang mengaktifkan Facebook, twitter, atau jejaring sosial lain. Sebagai guru BK yang dekat dengan siswa dan wali murid, Maria paham anak-anak SMP sedang tergila-gila pada jejaring sosial. Dia melihat kecenderungan itu pada Ajeng, anak keduanya yang kelas IX.

Teman-temannya pengguna aktif Facebook dan bukan tidak mungkin Ajeng ikut terpengaruh karena anak seusia Ajeng sangat mudah dipengaruhi kelompoknya. Cara yang digunakan Maria hanya membuat perjanjian sejak awal. “Saya tidak memberikan uang pulsa. Kalau dia ingin mengaktifkan ponselnya, dia menggunakan uang sakunya,” kata Maria.

Cara ini kadang membuat Ajeng berbelok minta uang pada ayahnya. Tetapi karena kesepakatan pula, jumlah uang toleransi itu tidak besar. Ini cukup ampuh untuk menangkis, tetapi apakah Maria bisa mengecek aktivitas Ajeng selama muncul di Facebook? Maria tegas mengatakan tidak, karena ibu tiga anak ini tidak punya akun di Facebook. “Saya tahu aktivitasnya dari orang lain. Ada banyak orangtua siswa dan guru yang lebur dalam jaringan pertemanan anak-anak. Karena itu apa yang dilakukan Ajeng tetap terpantau. Selain itu kakaknya juga ikut mengawasi,” katanya.

Makin Banyak Korban

Kecemasan orangtua sangat wajar. Apalagi korban dari dampak negatif Facebook makin banyak. Dalam seminggu ini saja ada dua siswi menjadi korban karena kabur dengan remaja yang dikenalnya lewat Facebook.

Sabtu (6/2) lalu Marieta Nova Triani, 13, siswa kelas dua SMP Negeri di Sidoarjo menghilang dari rumah keluarganya di Cluster City Alamanda Blok L 14, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Keponakan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, Yosef Umar Hadi ini dibawa kabur oleh laki-laki yang dikenalnya melalui Facebook.

Nova baru ditemukan oleh polisi pada Selasa (9/2) dini hari di Tangerang tengah bersama sang pacar, Febriari alias Ari Power, 18. Yang mengejutkan, kepada polisi, Nova mengaku telah bersebadan dengan pacarnya itu sebanyak tiga kali selama kabur tersebut.

Peristiwa terbaru menimpa keluarga Binsar Napitupulu, warga Perumahan Sepanjang Town House, Taman, Sidoarjo. Mereka melapor ke polisi karena anak gadisnya bernama Stefani Abelina Napitupulu, sampai Rabu (10/2) belum pulang sejak Sabtu (6/2) lalu. Abel, siswi SMA 22 Surabaya itu, diduga kabur bersama lelaki yang ia kenal melalui Facebook. Lelaki itu diduga bernama Januar alias Jeje, yang punya akun di Facebook Abel.

Pada 25 Oktober 2009 lalu, Rohmatul Latifah Asyhari, 16, siswi asal Jombang, dibawa kabur pria yang dikenal lewat Facebook, Anis Asmara, 41. Selama menghilang, Latifah mengaku berada di Jakarta kemudian di Bali. Bahkan Latifah mengaku sudah menikah siri dengan Anis, yang mengaku warga Gianyar, Bali.

Facebook memang gaya baru masyarakat untuk bergaul. Menurut Tonny, dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, ada sisi negatif dan positif jejaring sosial bernama Facebook ini. “Ingat, kembali tujuan awal membuat akun Facebook. Apakah untuk menambah teman, mencari teman lama, atau berbisnis,” kata Tonny. Facebook sebenarnya sarana sosial bersifat publik. Jadi, begitu seseorang menulis atau memasang foto di wall, pasti diketahui orang banyak. Nah, sebaiknya informasi yang disampaikan di Facebook jangan terlalu pribadi. Foto terlalu pribadi tak usah dipasang.

Bila akun Facebook ditujukan memperluas jaringan, menambah teman (add) siapa pun tidak masalah. Namun, kembali lagi pada Anda. Apakah Facebook bisa dipercaya sepenuhnya? Misalnya ada orang add akun Facebook Anda memakai nama mirip dengan teman sekolah. Perlu dipastikan apa itu benar-benar teman Anda. “Bila akun Facebook Anda bersifat personal, sebaiknya selektif memilih teman baru,” tegas Tonny yang menekuni psikologi sosial.

Sejauh kontak hanya dilakukan via internet, dampak negatif tidak terlalu terasa. Namun, jika dilanjutkan ke dunia nyata (temu darat) harus dipertimbangkan baik-baik. Bersikap hati-hati jauh lebih aman. Janji kopi darat sebaiknya dilakukan di tempat umum atau mengajak teman. “Masalah muncul jika orang sangat percaya dengan kenalan barunya. Diajak kemana saja dengan mau saja,” ucap Tonny. Maka, perhatian dan pengawasan orangtua sangat diperlukan.

Perlu diketahui, di dunia maya, identitas (ID) bersifat fluid atau cair. Orang bisa memakai ID siapa saja untuk akun Facebook. Ingin mencemarkan nama baik seseorang jadi mudah. “Saya pernah temui kasus password Facebook seorang perempuan disalahgunakan untuk menyebarkan hal buruk. Yaitu dengan mengaku sebagai pekerja seks,” tutur Tonny. Maka, ingat selalu menutup akun sebelum meninggalkan warnet. Karena password bisa dicuri dari sana. Untuk itu, jika add (menambah teman) sebaiknya cek dulu informasi. Meski tidak menjamin 100 persen aman, setidaknya tahu siapa dia sebenarnya. Jika tak jelas, di-ignore saja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar