Sabtu, 13 Februari 2010

Kebiasaan Gaple di Sekolah, Guru Lempar Empat Murid dengan Balok Kayu

Bermaksud ingin memberi pelajaran pada keempat siswanya yang bermain gaple di parkiran sekolah, tapi cara yang dilakukan Pak Guru Rasyid kelewat batas, yakni dengan cara melemparkan balok kayu kepada keempat siswanya tersebut.

Tak pelak, peristiwa pelemparan kayu yang terjadi Sabtu (21/3) pukul 09.15 WIB itu mengakibatkan Achmad Rahim, 16, mengalami luka sobek cukup serius di dahinya sepanjang 1,5 cm. Kini, siswa kelas XA Madrasah Aliyah (MA) Al Kautsar, Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, itu menjalani rawat inap di Puskesmas Larangan.

Berdasarkan keterangan di lokasi kejadian, saat itu sekolah sedang memasuki jam istirahat. Sebagian siswa berada di dalam kelas, sebagian lagi bermain di luar kelas. Sementara Rahim dan ketiga temannya bermain gaple di parkiran.

Rupanya, ulah keempat siswa itu tepergok Abd Rasyid, guru Biologi dan Kimia. Begitu mengetahui empat siswanya bermain domino, Rasyid mengambil sebatang balok kayu ukuran 4 x 6 cm sepanjang satu meter kemudian melemparkan ke arah mereka.

Rahim yang tengah duduk bersila memegang kartu domino terkejut dan mendapati dahinya mengucurkan darah segar. Beberapa saksi menuturkan Rahim sempat pingsan beberapa menit. Sejumlah temannya yang melihat kejadian itu langsung membantu membangunkan. Setelah itu mereka bersama seorang guru membawa Rahim ke rumahnya yang berjarak sekitar 10 km, di Desa Grujugan, Kecamatan Larangan. Tetapi sampai di rumah, kondisi korban belum juga membaik dan darah terus mengucur. Orangtuanya kemudian membawa Rahim ke Puskesmas Larangan.

Kepala Puskesmas Larangan, Saiful Topan mengatakan, dari hasil pemeriksaan korban mengalami luka sobek di dahi akibat benturan benda tumpul. Orangtua korban belum melaporkan kasus ini ke polisi, dengan alasan masih akan menanyakan kepada pihak sekolah mengenai kejadian itu pada Senin (23/3) besok. “Kami ingin bertemu dengan gurunya dulu. Kenapa keponakan kami diperlakukan seperti ini,” kata Sumiati, bibi korban.

Sebaliknya, Saudi, 40, paman korban, mengaku tak terima dengan perlakuan yang diterima keponakannya itu. Di Puskesman, saat teman-teman korban menjenguk, Saudi meminta nomor ponsel Rasyid. Setelah mendapatkan nomor ponselnya, Saudi pun di depan sejumlah wartawan langsung menelepon Rasyid untuk segera datang ke puskesmas. “Jika anda (Rasyid) tidak datang juga, maka saat ini juga saya bersama teman-teman akan mendatangi rumah anda,” katanya penuh emosi. Saudi juga mengancam akan melaporkan kasus ini ke polisi.
Dalam pembicaraan yang direkam di ponsel itu, Rasyid berkali-kali minta maaf atas tindakan yang telah dilakukannya. Rasyid juga mengatakan belum berani menjenguk korban di puskesmas.

Secara terpisah, Rasyid ketika ditanya mengenai insiden itu mengatakan tindakan melempar kayu itu sebenarnya tidak langsung diarahkan kepada keempat siswanya, melainkan untuk membubarkan aksi mereka yang main gaple di sekolah. “Maksud saya, kayu itu saya lemparkan ke lantai di samping mereka biar mereka kaget. Masak bermain domino di lingkungan sekolah. Ternyata setelah kayu itu mengenai lantai, malah memantul dan mengenai dahi seorang siswa. Sungguh saya tidak bermaksud melukainya. Saya benar-benar khilaf,” kata Rasyid.

Insiden pelemparan kayu ini juga menjadi perhatian Dinas Pendidikan setempat yang berencana memanggil semua pihak terkait peristiwa itu. “Nanti semua saksi juga akan kami panggil. Kami masih belum bisa memastikan apa sanksinya. Sebab, kami juga perlu meminta keterangan Rasyid,” kata Kepala Bidang Dikmen Dinas Pendidikan Pamekasan, Ramli saat dihubungi melalui telepon selulernya,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar