Selasa, 09 Februari 2010

Kehidupan Malam Jakarta Perahu Goyang di Rawa Malang

Sudah hampir tengah malam, saat sebuah sedan Toyota Corolla memasuki kawasan pemukiman di Cilincing, Jakarta Utara. Setelah melewati perumahan berportal, mobil itu memasuki jalanan sempit, menuju sebuah kawasan penuh empang.
Selepas sebuah jembatan, mobil itu berbelok ke kiri mengikuti jalan aspal yang sempit. Terlihat deretan rumah kayu dan tembok bercat, milik para pengumpul barang-barang rongsokan. Mobil itu pun terus menyusuri jalanan di pemukiman penduduk yang sepi. Malam makin pekat dan sunyi. Hanya suara kodok dan jangkrik bernyanyi riang menyambut gerimis.
Kemudian, barulah tampak deretan rumah-rumah di areal bekas rawa. Tapi mobil itu tidak bisa masuk dan hanya parkir di pinggir jalanan aspal itu. Tiga pemuda turun dari mobilnya itu sambil menghampiri seorang petugas keamanan berpakaian hansip."Pak, betul ini Rawa Malang?" tanya salah seorang pemuda itu. Tahu yang dimaksud pemuda itu, hansip menjawab. "Betul, itu. Parkir mobil di sini saja," jawabnya sambil menunjuk ke perumahan di seberang kali.
Gerimis tidak dihiraukan ketiga pemuda itu. Mereka menyusuri gang sempit, yang mengapit antara sejumlah perumahan yang dijadikan warung, toko klontong dengan areal pemakaman baru di Rawa Malang, Cilincing, Jakarta Utara.
Kontras dengan areal pemakaman yang sepi, lebih dalam di kawasan itu terdengar suara-suara dentuman dan alunan berbagai macam jenis musik dan lagu saling sahut menyahut. Mulai dari Dangdut, House Music hingga suara orang sedang berkaraoke, semua saling adu kencang dan bising. Di kiri kanan gang itu terdapat sejumlah bangunan rumah permanen sederhana, berwarna-warni catnya, ditambah berbagai macam lampu kelap-kelip. Memang jauh dari kesan sebuah diskotik atau bar besar di Jakarta ini.
Terlihat sejumlah perempuan muda yang berada di sepanjang gang itu menarik-narik ketiga pemuda itu. Namun, mereka itu masih terus berjalan sambil memasang senyuman agar para perempuan itu tidak terlalu memaksa menarik ke dalam rumah-rumah bordil itu. Ya, orang menyebutnya Lokalisasi Rawa Malang, pengganti Lokasisasi Kramat Tunggak, Koja, Jakarta Utara, yang pada tahun 1999 ditutup Pemprov DKI Jakarta yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Sutiyoso.
Pantauan detikcom, Selasa (19/1/2009) malam, kawasan ini cukup meriah. Di sejumlah rumah terdapat sejumlah pria yang sedang berjoget, minum bir atau sekedar duduk ditemani sejumlah perempuan muda sambil tertawa. Namun, banyak juga rumah-rumah ini yang tidak ada tamunya. Para perempuan pun harus berebut atau mencolek dan mengoda para pria yang datang ke lokasi itu. Berbagai cara dan gaya mereka lakukan untuk menggoda, mulai yang berdandan sederhana hingga pakaian seksi. Mulai sekedar mencolek, menyenggol atau menarik paksa pria yang lewat. Tentunya, pria yang diperlakukan itu tidak marah, hanya tersenyum saja. "Ayo dong mas masuk sini. Mau ditemenin saya? Mari masuk sini," begitu celotehan mereka. Kalau menolak mereka hanya berkata, "Ya si Abang payah, ayo kita servis, kita oke-oke loh," rayunya genit.
Begitulah kehidupan para perempuan muda dari berbagai daerah ini mencari nafkah sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) di Rawa Malang. "Dulunya ini rawa. Di depan ini sebagian sudah diuruk pemerintah untuk pemakaman (TPU) baru di sini. Di seberang sana, kebanyakan dihuni rumah para bos-bos pemulung dari Indramayu," ujar seorang petugas keamanan di kawasan itu.
Tapi, tidak semua para penghuni lokalisasi di Rawa Malang merupakan pindahan dari Kramat Tunggak. "Saya tidak pernah buka pindahan dari Kramat Tunggak. Saya tidak pernah buka di sana. Tapi saya sudah lama buka di Rawa Malang ini," ujar Samin, seorang mucikari di sebuah rumah bordil kepada detikcom.
Samin yang memiliki 10 orang PSK asal Indramayu, Sukabumi dan Cirebon ini pun mengaku, selama rumah bordilnya beroperasi belum pernah ada razia yang dilakukan aparat. Sebabnya, kawasan ini terkenal dijaga para jawara atau preman. "Aman mas. Selama saya berada di sini, nggak pernah ada razia," kata Samin yang mengaku baru kedatangan anak buahnya yang baru, perempuan cantik asal Sukabumi."Silakan masuk kalau mau lihat-lihat," goda pria kemayu ini. Samin mengaku, tarif para PSK-nya untuk melakukan check in sebesar Rp 150.000. "Itu sudah termasuk kamarnya. Ya terserah kalau mau menambahkan tip ke mereka itu," imbuhnya seraya mengatakan Lokalisasi Rawa Malang buka selama 24 jam, pagi, siang dan malam.
Menurut sejumlah sumber di kawasan Rawa Malang, tarif check in memang bervariasi, mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 300.000 per jam. "Tapi kalau Abang mau coba, ada yang namanya 'Perahu Goyang'," ujar Opik, seorang tamu Rawa Malang.
Kenapa dinamai Perahu Goyang, karena kedua insan itu bercinta di atas sebuah perahu kayu yang berada di atas Kali Rawa Malang itu. "Pokoknya, fantastis deh, Bang. Mau coba? Ceweknya bisa dinego di sini, tinggal cari dan pilih aja," ujarnya sambil tertawa mabuk minuman anggur.
Lokalisasi ini memang sulit terlihat dan tidak mencolok, karena jauh dari Jalan Raya Cacing (Cakung-Cilincing). Belum lagi, terhalang perumahan penduduk, rawa, empang, dan pemakaman. Untuk kawasan esek-esek, memang di sinilah satu-satunya tempat. Tentang adanya jaminan keamanan bagi para tamu juga diungkapkan oleh Elsi (21), perempuan asal Patrol, Indramayu."Aman mas, saya sudah berada di sini tiga tahun, nggak pernah ada apa-apa kok. Yah, paling orang berantem. Kok tanya-tanya melulu, mau ditemenin nggak?" terangnya sambil berupaya merayu.
Sejumlah sumber juga mengatakan, setelah Lokalisasi Kramat Tunggak ditutup, tinggal Rawa Malang tersisa untuk Jakarta Utara. Sementara, kafe, bar atau diskotik banyak pindah ke kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Kramat Tunggak kini sudah berubah menjadi kawasan Jakarta Islamic Center. Padahal dulunya, kawasan ini sangat terkenal bagi para lelaki hidung belang di seantero Indonesia. Menyusul kawasan saingannya di Saritem Bandung (Jawa Barat), Pasar Kembang (Sarkem) Yogyakarta, Taman KB atau Sunan Kuning Semarang (Jawa Tengah), atau Dolly Surabaya (Jawa Timur).
Hari sudah masuk dini hari, namun Rawa Malang seolah tidak kehabisan nafasnya. Transaksi nafsu terus berlangsung sepanjang waktu. Entah sampai kapan.
http://www.detiknews.com/read/2010/01/20/115256/1282271/159/perahu-goyang-di-rawa-malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar