Sabtu, 13 Februari 2010

Rumah Jagal Babi Pesta Babi Menjelang Imlek

Engkong Saldi berleha-leha menikmati suasana sore di atas bale-bale. Dia asyik mengamati orang lalu lalang di depan pos keamanan di perempatan kampung Kapuk Jagal, Jakarta Barat. Kretek yang terjepit di jarinya, dia hisap dalam-dalam. Sesekali dia menyeruput kopi panas yang tersaji di sampingnya.

Namun tiba-tiba, dua ekor babi menyelonong menuju bale-bale sambil menguik-nguik. Engkong Saldi kaget bukan kepalang. Dengan refleks, dia angkat kedua kakinya. Akibatnya, kopi panas yang baru dia minum akhirnya tumpah karena tersenggol. "Gara-gara babi, kopi gua tumpah dah," umpat pria berusia 67 tahun tersebut, Senin (8/2/2010).
Namun, kekesalan Engkong Saldi hanya sesaat saja. Sebab, sudah biasa warga di RT 01/07, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat melihat konvoi ternak babi. Babi-babi itu digiring dari kandang untuk dibawa ke pejagalan atau tempat pemotongan yang jaraknya sekitar 200 meter. Jika ada babi yang tidak kuat berjalan, babi-babi itu akan diangkut mengunakan gerobak. Babi-babi lemah ini biasanya babi yang baru datang dari daerah pengiriman, seperti Manado, Bali, dan Jawa Tengah.
Sekalipun aktivitas pemotongan babi di Kapuk Jagal menimbulkan bau tak sedap, namun warga sudah biasa. Apalagi RPH sudah sejak tahun 1970-an membantu penghidupan warga. Mereka bisa bekerja misalnya menjadi penggiring babi dari kandang menuju tempat pemotongan.
Saat ini, warga diberi upah Rp 5 ribu untuk setiap babi yang digiring. Kalau ada ratusan babi yang digiring, tentu upah yang didapat lumayan banyak. Penghasilan para penggiring babi ini biasanya semakin meningkat menjelang hari raya seperti Natal dan Tahun Baru, atau Imlek, seperti sekarang ini."Setiap menjelang Imlek jumlahnya babi yang dipotong perhari bisa seribu ekor lebih," jelas Saldi.
Keterangan Saldi tersebut dibenarkan Kepala Kantor Darma Jaya, pengelola rumah potong hewan (RPH) Kapuk, Drh. Widhanardi. Menurutnya, sejak Minggu (7/2/2010), RPH Kapuk telah memotong setidaknya 950 babi. Ini adalah pesanan dari kongsi, para pemilik babi atau pemegang izin potong. Jumlah pesanan tersebut akan meningkat mendekati hari raya Imlek yang jatuh pada 14 Februari 2010."Dari catatan kami tiga hari ke depan jumlah babi yang akan dipotong rata-rata sebanyak 1.000 sampai 1.200 ekor per hari," jelas dokter hewan lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini saat ditemui detikcom di kantornya.
Bagi masyarakat Tionghoa, daging babi menjadi sajian penting dalam ritual sembahyang 'Sam Sippu'. Dalam ritual tersebut masyarakat Tionghoa dianjurkan membawa berbagai sesajian, seperti kue, buah-buahan, daging ayam, teh, arak, serta daging babi. Sesajian tersebut untuk dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur. Daging babi yang digunakan untuk sesajian ini bisanya bagian flank (sancan) dan rib (iga).
Untuk itulah permintaan daging babi meningkat untuk kebutuhan Imlek. Namun Widhanardi tidak tahu persis soal babi per ekor yang dijual ke pedagang daging. Tugas RPH hanya melayani jasa pemotongan serta menyediakan tempat karantina. Urusan harga menjadi kesepakatan antara para bandar dan pedagang. Namun pastinya, harga daging babi per kilo mengalami peningkatan menjelang Imlek.
Pada hari-hari biasa, harga per kilogram babi ecer hidup Rp 20.000, untuk babi jenis buras Rp 21.500, sedangkan untuk babi jenis partai harganya bisa mencapai Rp 25.000 per kilogramnya. Kalau dirata-rata, harga babi per ekor mencapai Rp 2-2,5 juta. Menjelang Imlek harganya mengalami peningkatan berkisar Rp 1.500 sampai Rp 3.000 per kilogramya. Sehingga harga babi per ekor bisa naik menjadi Rp 3 jutaan per ekor, namun tentu saja tergantung berat dan jenis babi itu.
Dari ketiga jenis babi yang di potong di RPH, yang paling banyak dipesan menjelang Imlek adalah jenis partai. Babi jenis ini memiliki lemak di dalam kulit yang lebih tipis dari babi jenis yang lain, jadi dagingnya jauh lebih banyak. Babi jenis partai merupakan babi yang berasal dari China. Sementara untuk jenis buras dan ecer umumnya diternakan di Manado atau daerah-daerah lain di Indonesia yang ada peternakan babi. "Para kongsi (bandar) di sini umumnya berasal dari China dan Manado. Jadi babi-babi yang kami potong hasil peternakan dari Manado maupun China," ungkap Widhanardi.
Dari pantauan detikcom, menjelang Imlek aktivitas di RPH Kapuk semakin sibuk. Para bandar dan pedagang daging babi terlihat berkumpul di kandang karantina. Mereka menunggu proses pemotongan babi, penimbangan, sampai daging babi tersebut siap diangkut ke pasar. Suasana paling sibuk ada di ruang pemotongan. 36 Pekerja pemotongan bekerja dari pukul 08.30-18.00 WIB, bahkan mereka kini harus bekerja lembur hingga tengah malam. Menurut Widhanardi, sebagian merupakan karyawan dan sisanya pekerja harian. "Pekerja harian di pemotongan babi dibayar Rp 30 ribu. Upah tersebut belum termasuk uang makan dan intensif lain. Kalau karyawan digaji bulanan," jelasnya.
Para pekerja ini dibayar dari ongkos pemotongan yang dibayar para bandar. Berdasarkan tarif yang telah ditetapkan dinas peternakan DKI Jakarta, untuk pemotongan babi harga per ekornya Rp 51.750 plus PPn 10%. Sedangkan untuk biaya pemeriksaan kesehatan babi serta pengangkutan menuju pasar-pasar di wilayah DKI Jakarta, yang mengurus adalah Dinas Peternakan DKI Jakarta.
http://www.detiknews.com/read/2010/02/09/100138/1295696/159/pesta-babi-menjelang-imlek

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar