Selasa, 09 Februari 2010

Rumahku di Halte TransJakarta


Malam makin larut dan dingin, namun hujan gerimis tidak juga berhenti di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kalau sudah begini, Sugiman dan teman-teman tuna wisma lainnya makin bergumul dengan sarung. Lorong halte TransJakarta memang kokoh memayungi mereka dari hujan. Tapi hujan seolah punya cara untuk menciprati mereka lewat dinding lorong.
Beberapa tuna wisma lalu bangun membetulkan posisi lebih ke tengah atau menyandarkan lembaran kardus untuk menangkis percikan air. Lorong halte Busway memang hanya konstruksi batangan besi yang memanjang. Wajar jika lorong itu tidak dapat menahan hembusan angin dan percikan air hujan. Namun bagi para tunawisma di sekitar terminal bus Tanjung Priok, tidur di lorong halte TransJakarta jauh lebih baik daripada emper-emper toko atau stasiun kereta Tanjung Priok."Masih lumayan ning kene Mas. Ono atap, ono lampu. Nggak kayak emperan," ujar Sugiman, tunawisma asal Pemalang, Jawa Tengah saat ditemui detikcom, Senin (18/01/2010) malam.
Sugiman yang sehari-hari menjadi pemulung ini mengaku, mulai sering bermalam di terminal TransJakarta, Tanjung Priok, sejak enam bulan lalu. Sebelumnya ia tidur di tangga masuk stasiun kereta, yang jaraknya hanya 50 meter dari situ.
Bagi Sugiman dan beberapa tunawisma di sekitar terminal Tanjung Priok, hadirnya terminal Transjakarta di sana merupakan anugerah. Mereka jadi punya tempat baru untuk tidur di waktu malam. Dengan hanya memanjat besi pembatas lorong menuju halte, mereka bisa tidur nyenyak.
Menurut Sugiman, terminal TransJakarta di Tanjung Priok hampir setiap hari tidak terjaga. Meski demikian para tunawisma hanya bisa tidur di lorong serta jembatan saja. Sebab bangunan tempat menunggu penumpang ditutupi seng. Dari pantauan detikcom, seng bercat putih menutup rapat ruang tunggu penumpang di terminal TransJakarta. "Seng-seng itu untuk jaga-jaga supaya tidak ada yang masuk. Biar aman dari maling mungkin," Kata Rusmin, penjaga WC di terminal Priok.
Diakui Rusmin, sejak dibangun pada 2008 lalu, terminal TransJakarta di Tanjung Priok sering menjadi tempat bermalam para tunawisma yang ada di sekitar terminal. Namun, begitu pagi menjelang para tunawisma tersebut meninggalkan terminal tersebut karena ada petugas yang menjaganya.
Karena sering diinapi, tidak heran jika di areal jembatan dan lorong menuju ruang tunggu penumpang banyak tercecer kardus dan alas tidur. Para tunawisma sengaja menaruh kardus alas tidur mereka sebagai petunjuk kalau di situ 'wilayah' mereka.
Kondisi yang tidak terawat di terminal TransJakarta Tanjung Priok tidak jauh berbeda dengan halte-halte TransJakarta yang berada di Koridor X (Cililitan-Tanjung Priok). Dari penelusuran detikcom, dari 19 halte yang ada di koridor tersebut, beberapa di antaranya dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Selain sering dipakai sebagai tempat menginap anak-anak jalanan maupun tunawisma, banyak bangunan halte yang dicoret-coret. Halte pun terlihat sangat kusam dan berdebu karena tidak pernah dibersihkan.
Kondisi yang paling parah terjadi di halte Stasiun Jatinegara. Halte Busway yang terletak di flyover Prumpung tersebut terlihat telanjang. Material bangunannya telah hilang dicuri orang. Lempengan besi, kaca, lampu, maupun rolling door di halte itu telah raib.
Sigit, sopir taksi yang sering mangkal saban malam di ruas flayover Prumpung mengatakan, sejak lama halte di situ dijadikan tempat menginap para gelandangan. Meskipun setiap malam mangkal di seberang halte tersebut, Sigit mengaku tidak memperhatikan adanya pencurian. "Saya kan tidak nongkrong terus di sini. Karena harus membawa penumpang. Kalau belum ada sewa saja saya nongkrong di sini," jelas pria berusia 38 tahun tersebut.
Sejumlah halte di Koridor X memang selama ini tidak berpenjaga. Wajar jika banyak haltenya yang menjadi rumah singgah bagi tunawisma dan jadi sasaran pencuri. Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta, yang seharusnya mengelola fasilitas Busway mengaku tidak bisa berbuat banyak. Asisten Manajer Pengendalian BLU TransJakarta Bano Yogaswara kepada detikcom, Senin (18/1/2010) mengatakan untuk Koridor X belum ada penyerahan dari Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta. Jadi, BLU belum bisa merawat serta menjaganya. Alhasil, terkatung-katungnya pengelolaan sejumlah aset TransJakarta di jalur koridor X, kemungkinan akan menambah kerugian yang diderita akibat pencurian sejumlah material halte. http://www.detiknews.com/read/2010/01/19/144015/1281639/159/rumahku-di-halte-transjakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar