Selasa, 09 Februari 2010

Ada Cinta di Keruwetan Kereta

Naik KRL setiap pagi pada jam yang sama, dan keruwetan yang sama, sudah menjadi kebiasaan kaum komuter di Jabodetabek. Bahkan mereka bertemu orang yang itu-itu lagi. Tapi siapa sangka, itu menjadi awal tumbuhnya cinta sesama penumpang KRL.
Banyak ragam kisah cinta dua manusia yang mendapatkan jodoh di gerbong kereta. Berawal dari berangkat kerja pada jam dan kereta yang sama, berkenalan, saling bertukar nomor telepon dan hubungan pun berlanjut sampai pacaran dan akhirnya menikah. Salah satunya adalah Anna Dwiyana, karyawati Bursa Efek Jakarta (BEJ) ini bertemu calon suaminya karena sama-sama berangkat kerja dengan KRL Bogor-Jakarta."Ini bermula ketika saya pindah rumah ke Bojongede, Bogor, tahun 1993 silam. Saat itu saya masih single. Saya beli rumah di sana, karena diajak teman yang sudah punya rumah di sana juga," ungkap Anna dalam bincang-bincang dengan detikcom, Jumat (22/1/2009).
nna saat itu masih bekerja di Bank Prudential Pasar Baru. Dia setiap hari naik kereta pukul 6 pagi. Pria yang kemudian menjadi suami Anna pun berangkat pada jam yang sama. "Kita sering naik gerbong yang sama, jam yang sama, lama kenal dan sering mengobrol. Eh, nggak tahunya satu komplek, satu RT pula. Ya mungkin jodoh kali yah, akhirnya kita menikah tahun 1996 lalu," kenang ibu dua anak ini.
Kisah serupa dialami Irsam, warga Pondok Bambu, Jakarta Timur. Irsam juga menemukan jodohnya di dalam perjalanan KRL Bekasi-Jakarta Kota yang setiap hari dinaikinya itu. Irsam menceritakan, dia hendak ke Stasiun Jakarta Kota untuk naik kereta ke Purwakarta, sedangkan calon istrinya itu juga menuju stasiun yang sama untuk pergi ke Karawang. "Ya dulu masih muda, saya berani-beranikan untuk kenalan. Eh, dia mau kenalan. Lalu kita jadian pada tahun 1997 dan menikah tahun 1999," ujar pria yang menikah dengan Wiwin, seorang guru di Bekasi.
Tidak hanya soal cinta, pertemuan setiap hari para penumpang juga menumbuhkan solidaritas di antara penumpang. Komunitas penumpang yang senasib membangun jejaring milis, situs bahkan grup Facebook. Hal ini dikisahkan Excecutive Editor dan moderator milis KRL Mania, Nurcahyo (39) dalam bincang-bincang dengan detikcom."Ini adalah bentuk silaturahim antar penumpang KRL se-Jabodetabek," ungkap Nurcahyo, Jumat (22/1/2009).
Nurcahyo menjelaskan, semua berawal dari obrolan santai di Stasiun Sudirman dari orang-orang yang pulang bekerja pada Oktober 2003 lalu. Dari keluh kesah dan saling berbagi masalah, lahirlah ide untuk membuat media sebagai penampung aspirasi para penumpang KRL Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi dan Serpong. Dari 200 orang, milis ini berkembang jadi ribuan anggota."Selama ini kita tahu perkeretaapian kita selalu error dan menghadapi masalah serta gangguan. Ya kita informasikan di sini," jelas warga Depok ini.
Setelah milis semakin banyak anggota, maka mereka pun membuat situs pada 2005 lalu dan disusul grup Facebook. Anggota milis mereka mencapai 40.000 orang dan keanggotaan di grup 'Solidaritas Jabodetabek untuk KRL Yang Lebih Baik' mencapai 6.700 anggota. Bahkan situs mereka dibuat lebih dulu dari situs PT KAI. Sifat keanggotaannya sangat cair tanpa iuran, namun mereka sangat peduli dengan permasalahan kereta. KRL Mania juga memberikan beasiswa untuk anak-anak petugas kereta api.
Sementara para penumpang kereta api di Depok juga membentuk sebuah komunitas Solidaritas Dompet Sosial BA-Depok. Komunitas ini mengumpulkan dana untuk berbagai aktivitas sosial, terutama menyantuni anak yatim piatu dan kaum papa. Tak jarang juga antar komunitas ini bertemu secara periodik, bahkan saat ada momen khusus seperti ketika bertemu dengan pejabat PT KAI ataupun Kementerian Perhubungan.
Saking mereka sudah saling mengenal, komunitas-komunitas penumpang ini sudah hapal di gerbong mana teman mereka naik KRL. Kalau teman sudah berkumpul, gerbong pun serasa menjadi markas mereka. Aktifitasnya adalah main kartu remi atau gaple untuk mengisi waktu di perjalanan."Biasanya dilakukan di gerbong paling belakang. Anggotanya ya itu-itu saja orangnya, bahkan orang lain ngga bisa masuk. Biasanya pas berangkat atau pulang jam kerja," kata Adi warga Depok. http://www.detiknews.com/read/2010/01/22/180013/1284275/159/ada-cinta-di-keruwetan-kereta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar