Selasa, 09 Februari 2010

Carut Marut KRL Dompet Dicopet, Pantat Digerayang

Poppy hanya bisa cemberut. Keretanya untuk berangkat kerja ke Gondangdia, Jakarta, tidak kunjung datang di Stasiun Depok Baru. Sudah bosan dia mendengar permintaan maaf pihak stasiun lewat pengeras suara setiap hari. Perbaikan pelayanan kereta sepertinya hanya mimpi. "Sudah sejam saya menunggu tapi belum datang, biasanya suka telat juga tapi tidak lama," ujarnya kepada detikcom, Jumat (22/1/2010).
Jika kereta sudah telat, kalaupun datang pasti penuh dengan penumpang. Pedagang asongan malah masih mencoba berebut masuk dengan penumpang. Namun masalah Poppy dan ratusan penumpang kereta lainnya bukan hanya itu. Kereta penuh juga rawan dengan aksi copet.
Copet ini adalah kisah usang penumpang KRL yang tidak pernah berakhir. Para pencopet punya puluhan jurus untuk beraksi. Dari aksi berkelompok, aksi lompat dari kereta, sampai aksi silet. Yang diincar adalah dompet dan ponsel penumpang. Poppy juga pernah disilet tasnya dan dia kehilangan ponsel."Saya tidak sadar, karena menjaga agar tidak jatuh dan menahan desakan saja sudah perjuangan. Mungkin saat itu pencopetnya beraksi," ujarnya mengenang kejadian itu.
Namun bagi Poppy dan penumpang perempuan lain, ada yang lebih ditakutkan. Pelecehan seksual juga adalah ancaman KRL yang sangat mengganggu. Kondisi KRL memang rawan. Kereta yang penuh sesak, para penumpang pun berdesak-desakan laki-laki dan perempuan dalam jarak intim. Para penumpang hidung belang pun leluasa beraksi, mulai dari meraba pantat sampai menempelkan alat kelamin. Dessy, seorang penumpang lain menceritakan dirinya menjadi korban pelecehan seksual. Seorang pria yang berdiri menempel di belakangnya menyentuh-nyentuhkan alat kelaminnya."Saya kaget, takut dan turun di stasiun terdekat. Padahal masih jauh dari stasiun tujuan," ungkap Dessy.
Beda lagi dengan pengalaman Faisal, seorang karyawan di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Dia malah mengaku ada perempuan muda yang berdiri di belakang dia dan menempel-nempelkan tubuhnya ke punggung Faisal. "Saya waktu itu dari Depok mau ke Glodok. Kereta penuh, tapi di belakang saya ada cewek," kata Faisal. Namun kege-eran Faisal dibayar cukup mahal, ternyata perempuan itu adalah copet dan uang Faisal pun lenyap.
Kondisi KRL yang rawan dan memprihatinkan ini bukannya tanpa protes penumpang. Mereka sering berbagi keluh kesah lewat berbagai media termasuk mailing list. Moderator mailing list KRL Mania, Nurcahyo, menceritakan betapa anggotanya kecewa dengan pelayanan KRL. Padahal mereka adalah pengguna utamanya. Masyarakat mencoba menyampaikan keluhan kepada pengelola KAI Commuter Jabodetabek, namun mereka mengaku kewalahan."Mereka selalu janji ada penambahan armada baru. Saya saja tidak tahu kapan persisnya," ujar warga Depok II Timur ini.
Nurcahyo mengatakan, para pengguna KRL Jabodetabek yang tergabung dalam Komunitas KRL Mania, telah menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Kementerian Perhubungan bulan lalu. Mereka meminta peningkatan daya tampung penumpang KRL. Mereka juga meminta lebih banyak KRL Ekonomi AC untuk mengganti KRL Ekonomi. Penumpang juga meminta pemeliharaan KRL diperbaiki.
Mereka juga menuntut agar penumpang yang sudah memiliki abunemen harus mendapatkan prioritas untuk dapat terangkut kereta. Di samping itu mereka juga meminta pemerintah memprioritaskan pembangunan KRL sebagai solusi kemacetan Jakarta. Stasiun pun harus dibenahi untuk kenyamanan penumpang, bukan tempat orang berdagang seenaknya.
http://www.detiknews.com/read/2010/01/22/160734/1284157/159/dompet-dicopet-pantat-digerayang


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar