Selasa, 09 Februari 2010

Geliat Pasar Tradisional Bertahan Dalam Pancaran Sinar Petromaks

Matahari bahkan belum muncul saat ratusan orang hilir mudik di antara lapak-lapak sayuran, ayam, ikan, daging dan beraneka bahan bumbu di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta. Di bawah pancaran sinar petromaks, para penjual dan pembeli larut dalam percakapan jual beli dan tawar menawar subuh hari itu.
Lapak-lapak pedagang berserakan di sepanjang Jl Kebayoran Lama sampai Ciledug Raya, tepat di kolong fly over. Kios-kios di dalam PD Pasar Jaya Kebayoran Lama sudah lebih ramai lagi kondisinya. Sejak pukul 02.00 WIB, Selasa (26/1/2010) dini hari, para pembeli sudah mulai datang. Mereka adalah yang membeli untuk kebutuhan sehari-hari, tukang sayur keliling, sampai pemilik warung nasi yang mencari bahan masakan untuk hari itu.
Sulasmi (43) sibuk memotong-motong daging ayam di bawah lampu petromaks. Para pembeli membolak-balik ayam di meja lapaknya. Sulasmi sesekali berhenti memainkan pisau dagingnya untuk menjawab permintaan pembelinya."Saya sudah berjualan di sini sekitar 15 tahun. Menggantikan ibu saya," kata Sulasmi bercerita kepada detikcom, seraya memotong daging ayam di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (26/1/2010) subuh.
Sulasmi mengaku, setiap hari dagangannya selalu diserbu pembeli. Bahkan, Sulasmi memiliki pelanggan tetap, khususnya para tukang sayur keliling di perumahan. "Biasanya, mereka belinya banyak, karena memang untuk dijual lagi ke masyarakat. Mereka nggak ambil untung banyak-banyak," ungkapnya.
Sementara Marzuki (38) juga mengatakan hal yang sama. Pedagang ikan asin di dalam pasar ini juga kebanjiran pembeli. Ikan asin jambal roti meskipun mahal, tetap dicari para pelanggan Marzuki. Para pelanggannya pun adalah para tukang sayur dan pemilik warung nasi."Yang paling laku ikan asin sepat atau teri," ujarnya.
Bagi para ibu rumah tangga, pasar tradisional adalah jaminan sayur mayur, daging dan bahan makanan segar. Kondisi pasar yang becek apalagi di musim hujan, bukan masalah bagi mereka. Yang penting mereka bisa puas tawar-menawar harga. "Lebih murah dan banyak pilihan. Sayuran, ikan dan dagingnya lebih segar-segar. Apalagi masih bisa ditawar sampai semurah mungkin," ucap Ita, seorang ibu rumah tangga dan warga Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Lain lagi dengan Fatimah, seorang ibu rumah tangga dan karyawati di bilangan Gatot Subroto. Fatimah suka berbelanja ke pasar tradisional, namun dia juga suka berbelanja di hipermarket semacam Carefour. "Saya suka belanja di mal juga, tergantung barangnya aja. Memang kalau untuk sayuran, daging, ikan lebih murah di pasar tradisional ini," katanya.
Suasana jelas berbeda. Kalau pasar tradisional becek dan pengap, pasar modern lebih bersih dan nyaman. Namun pasar tradisional punya harga yang lebih miring. "Kalau untuk kebutuhan acara tertentu seperti pengajian atau hajatan, ya mending di pasar tradisional," tegas Fatimah. Sementara bagi pedagang rokok dan toko kelontong, pasar tradisional tetap menjanjikan harga miring untuk barang partai besar dibandingkan hipermarket. "Minuman kemas sekotak perbedaannya bisa sampai Rp 500 atau Rp 1.000. Ya mendingan di pasar tradisional atau di Pasar Inpres yang dikelola PD Jaya," kata Dede, pemilik warung rokok di Jalan Bulungan.
Becek saat hujan, debu saat panas. Pasar tradisional tetap menjadi tumpuan masyarakat, di tengah serbuan beraneka hipermarket. Pasar tradisional seperti pancaran sinar petromaks yang kadang-kadang redup namun tetap hidup.http://www.detiknews.com/read/2010/01/26/142252/1286324/159/bertahan-dalam-pancaran-sinar-petromaks

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar